CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

15 Februari 2008

Pers Hati Nurani(2)
Oleh: Novel Ali

 IKUTI BERITA LAIN

Mencari Sosok Pemimpin
Nomor Satu di Minahasa Tenggara(3)
Oleh: Ir Jantje G Kindangen MS

SURAT PEMBACA

Sampah Berserakan di Ruas Jalan Manado-Tanawangko

 COMMENTAREN

Masih Juga dengan Pemekaran

 
Pengaruh globalisasi dan kapitalisme memacu euphoria publik di berbagai pelosok bumi kita. Salah satu dampaknya yang paling nyata adalah perubahan kinerja media massa, dalam berbagai kelebihan dan kekurangan yang bersifat khas.
Kepentingan Publik 
Salah satu konsekuensi ki-nerja pers berhati nurani ada-lah sajian media massa (cetak dan elektronik) harus selalu lebih didasarkan atas peme-nuhan kepentingan publik yang dilayaninya, ketimbang semata-mata kepada kepen-tingan ekonomis/komersial/finansial, politik, dan kekua-saan, khususnya dari pemilik modal atau dari pengelola lem-baga media di dapur redaksi/perusahaan/stasiun siaran. Sebab, di saat arah pers ada-lah kepentingan internal (dise-but terakhir) maka resiko me-ngesampingkan kepentingan publik media (selaku konsu-men pers) tidak dapat dihin-darkan. Pada saat yang sama akses konflik pers dan publik-nya pun tergelar nyata.
Tantangan hakiki dan subs-tansi pers ini tidak seharus-nya boleh dibiarkan berlanjut bila lembaga media massa be-nar-benar bertekad memba-ngun kinerja berbasis du-kungan publik, lewat pengeja-wantahan manajemen ber-orientasi pemenuhan kepen-tingan konsumen. Untuk itu, pemilik modal dan pengelola lembaga media massa seha-rusnya menyadari betapa mu-tlak perlunya perwujudan pers hati nurani, yang diawali de-ngan pembangunan pers ber-dasarkan kepentingan konsu-men. Salah satu tantangan faktual dan objektifnya adalah pemilik modal dan pengelola lembaga media harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk menolak segala bentuk intervensi pihak dalam dan luar, termasuk dari kalangan “raksasa” ekonomi, petinggi parpol, pejabat pemerintah dan lain-lain. Seharusnya mereka menyadari bentuk-bentuk in-tervensi dimaksud dapat meng-akibatkan sedikitnya dua hal. Pertama, rusaknya kinerja pers lantaran pelanggaran nilai-nilai objektivitas dalam profesi pers. Kedua, kesenjangan ko-munikasi dan ketiadaan ke-bergantungan silang antara produsen informasi (pemilik modal dan pengelola lembaga media massa) dengan konsu-mennya (publik media).
Pers yang tidak mengorban-kan kepentingan stakeholders atau pers yang lebih berani memprioritaskan kepentingan konsumen ketimbang menda-hulukan kepentingan pemilik modal dan pengelola lembaga media (dalam peran produsen informasi) adalah salah satu contoh konkret pers berhati nurani. Kinerja pers berhati nurani dengan arah utama ke-pentingan konsumen pers akan memperbanyak, sekali-gus membuka akses peran serta (partisipasi) publik da-lam pengelolaan lembaga media massa. Itu berarti, pu-blik media memiliki peluang ikut merencanakan isi serta arah kebijakan pers. 
Tidak seperti sekarang, pu-blik media berada dalam posi-si superlemah, karena hanya dapat “dicekoki” oleh model-model pemaksaan pemilik mo-dal dan pengelola lembaga pers, siapa dan apapun kepenting-an lain di belakang pengelola lembaga media yang bersang-kutan. Oleh karena itu, kiner-ja lembaga media massa yang manapun di negeri ini perlu di-awali tekad untuk senantiasa mendahulukan kepentingan publik yang dilayani. Bukan mendahulukan kepentingan ideal, ekonomis/komersial/fi-nansial atau lainnya, pada ku-bu pemilik modal dan penge-lola lembaga media yang ber-sangkutan.
Kepentingan Ideal
Namun, pers berdasarkan kepentingan konsumen tidak berarti boleh mengobarkan ke-pentingan ideal dan komersial pihak yang disebut terakhir (pemilik modal dan pekerja lembaga media massa, teruta-ma dalam posisi, fungsi serta peran selaku produsen infor-masi). Sebab, tanpa kontribusi produsen informasi sulit diha-rap akan dapat tersajinya hi-dangan informasi di tengah diskursus publik. Ini berarti, pers boleh-boleh saja berupa-ya menggaet sebesar-besarnya keuntungan material/ finansi-al/ komersial, atau kepenting-an lain, sejauh tidak mengor-bankan nilai-nilai kemanusia-an, serta kepentingan publik media, khususnya akurasi, faktualitas, dan objektivitas. Di samping itu, seharusnya te-tap tegak keberpihakan pers terhadap kebaikan, kejujuran, keadilan, serta nilai-nilai ke-manusiaan lainnya.
Konsekuensi sajian pers ber-hati nurani diuraikan di atas adalah pers ideal, sekaligus pers bermoral. Pers ideal dan bermoral (pers berhati nurani) memparadigmakan kepen-tingan orang-orang tertindas. Tetapi, paradigma pembelaan orang tertindas yang dilaku-kan pers adalah pembelaan terhadap nilai-nilai kemanu-siaan, tanpa rekayasa. Arti-nya, pers membela kepenting-an orang tertindas, yang betul-betul tertindas karena sesuatu atau berbagai faktor penye-bab, bukan orang tertindas se-bagai hasil rekayasa individu atau kelompok kepentingan ekonomi, politik, kekuasaan, atau lainnya.
Selain itu, pers berhati nura-ni memprioritaskan pembela-an terhadap orang tertindas, sejauh orang tertindas itu sen-diri tidak melakukan peng-aniayaan terhadap norma aga-ma, hukum, nilai-nilai kearif-an komunitas, apalagi melang-gar serta merampas hak asasi manusia. Itu berarti, pembela-an pers berhati nurani terha-dap kepentingan orang tertin-das tidak boleh dikaitkan di luar konteks nilai-nilai ke-manusiaan yang mendasari-nya.(habis)


Penulis adalah Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 
Universitas Diponegoro, Semarang

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin