|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Kota Manado dan Sekitarnya
|
16 Februari 2008
|
|
Bersedia bongkar sendiri rumahnya
Warga Pesisir Sindulang Berharap Biaya Kesejahteraan
|
Warga yang akan terkenak pe-nertiban terkait kelanjutan proyek pembagunan jembatan Soekarno dan Boulevard II di pesisir pantai Sindulang Kecamatan Tuminting, siap membongkar sendiri bangun-an rumah yang mereka tempati.
Pada harian ini (15/020 mereka mengakui bahwa yang mereka duduki saat ini merupakan lahan dari proyek pemerintah Kota. Untuk itu dalam waktu dekat sebelum datangnya penertiban dari Distabum, mereka akan membongkar sendiri bagunan-bagunan mereka.
“Torang somo ba bongkar rumah, paling besok pagi so mulai babongkar. Memang katu ini pemerintah punya, apalagi terkait pembangunan jembatan Soekarno dan pembangunan
Boulevard II,” ujar Ibu Nur-handayani diamini oleh se-jumlah warga yang ada di As jalan yang nantinya bagian dari pembagunan jembatan Soekarno. “Mo bagimana le, kalo proyek jalan somo mulai, terpaksa torang so harus ang-kat kaki,” ujar sejumlah warga yang rumahnya berada di atas proyek jalan Boulevard II.
Namun disisi lain, mereka mengharapkan kepada peme-rintah kiranya bisa memberi-kan biaya ganti rugi sebagai biaya kesehtraan kepada war-ga miskin. “Ya torang kasiang kebanyakan orang-orang mis-kin yang tidak ada tempat tinggal. Mudah-mudahan pe-merintah kase biaya kesejah-teraan, biar cuma Rp 5000 jo so lumayan,” ujar Pak Darwin Akuba diamini warga lainnya.
Terkait hal tersebut Kepala Dinas Ketertiban Umum (Dis-tibum) Manado, Drs Jemmy R Kowaas MSi, mengatakan, un-tuk warga yang ada di daerah yang terkenal penertiban pro-yek tersebut, tidak ada biaya ganti rugi. “Kan bangunan itu tidak ada sebelum adanya pro-yek tersebut. Bangunan-ba-ngunan tersebut ada karena orang ingin mempergunakan kesempatan,” ujarnya.
Terpantau harian ini, ada puluhan rumah yang telah mendiami di kawasan yang nantinya akan terkenak pro-yek pembagunan jembatan Soekarno dan pembangunan jalan Boulevard II. Umumnya mereka merupakan warga miskin yang kebanyakan tidak memiliki tempat tiggal yang tetap. Dan kebanyakan mere-ka berprofesi sebagai nelayan dan pedagang di Pasar Bersehati.(tr-02)
|
|