|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
16 Februari 2008
|
![]() |
Beberapa jam setelah Presiden kedua Indonesia, Soeharto, meninggal dunia 27 Januari 2008, satu stasiun televisi swasta di Jakarta menyiarkan wawancara dengan Linda Jalil, mantan wartawan majalah berita mingguan Tempo dan Gatra Jakarta. Sang pewawancara menanyakan kesan-kesan Linda yang pernah tujuh tahun meliput di Bina Graha dan Istana Presiden.
“Pak Harto benar-benar orang Jawa,” ujar Linda. Maksudnya, Soeharto benar-benar menjaga wibawa. Caranya, ia menjaga ja-rak yang tegas dengan warta-wan yang setiap hari setia meli-put di Bina Graha. Hampir tiap hari Soeharto berpapasan de-ngan wartawan, namun ia tidak pernah menyapa wartawan atau membalas anggukan hor-mat wartawan.
Menurut pemahaman Linda terhadap perilaku Soeharto itu, ia merasa tidak perlu dekat dan hormat kepada wartawan. Oleh karena pemimpin tertinggi tam-pak kurang menghargai warta-wan maka bawahannya juga melakukan hal yang sama. Sa-lah satu buktinya, pernah suatu ketika para wartawan yang baru meliput di Bina Graha disuguhi makan siang dengan menu “sa-ngat istimewa”, nasi kotak “ber-lauk” semut-semut hidup (ma-kanannya dikerubuti semut).
Menurut Linda, ini menunjuk-kan betapa rendahnya penghar-gaan orang-orang istana terha-dap wartawan, yang tiap hari se-tia melaporkan berbagai kegiat-an Presiden Soeharto.
Pertengahan 1990-an, se-jumlah mahasiswa program strata dua (S2) hukum sebuah universitas negeri di Bandung menyelenggarakan seminar nasional di hotel berbintang empat. Forum ilmiah itu dibu-ka oleh Menteri Kehakiman masa itu. Seusai acara pem-bukaan, sang menteri dan rombongannya minum kopi/teh di lantai dua hotel terse-but. Seperti biasa, wartawan langsung mengikuti sang menteri, menunggu waktu yang tepat untuk mewawanca-rainya. Tiba-tiba seorang “pe-jabat” panitia dengan wajah garang membentak para war-tawan. “Maaf, ini khusus un-tuk Pak Menteri dan rombong-an. Minuman untuk peserta dan wartawan di lantai satu.”
Seorang wartawan berwajah dingin dengan tegas menya-hut: “Maaf, Bung, kami ke sini bukan cari makanan. Kami ke sini mencari makan!”
Ia dan kawan-kawannya lang-sung menerobos “pagar betis” panitia, dan mewawancarai sang menteri, yang ternyata menyam-but dengan sangat ramah.
Pada akhir 1990-an, him-punan mahasiswa universitas swasta ternama di Bandung mengadakan seminar nasional di sebuah hotel berbintang empat di wilayah utara kota itu. Singkat cerita, sewaktu acara makan siang para war-tawan ikut antre di belakang peserta seminar. Tiba-tiba se-orang anggota panitia meng-hambat antrean wartawan sambil berkata tegas: “Bapak-bapak wartawan, ya! Maaf, ini khusus buat para peserta. Ka-mi sudah siapkan makanan untuk wartawan.”
Lalu ia mengedipkan mata kirinya kepada temannya yang menjinjing kantong plastik hitam. Lalu gadis muda itu mengeluarkan isinya dan membagi-bagikannya kepada para wartawan.
“Hah, nasi bungkus? Kalian menghina kami, wartawan, ya? Kami bukan pengemis! Kami ke sini cari makan, bu-kan mencari makanan! Tau? Nih, ambil,” ujar seorang war-tawan setengah berteriak sambil mengembalikan nasi bungkus di tangannya.
Tiga kisah nyata ini menun-jukkan betapa seringnya war-tawan diperlakukan secara tak sewajarnya. Mengapa wartawan sering diperlakukan demikian rendah? Apakah citra jurnalis di negeri ini telah demikian buruk sehingga sering diremehkan?
Sisi Dalam
Pada kesempatan ini kita mengurai masalah serius ini dari sisi dalam, yakni dari sisi wartawan, perusahaan media massa, dan organisasi warta-wan. Ada satu pertanyaan sentral untuk ketiga pihak da-lam ini, apakah mereka mem-persepsikan atau memahami wartawan sebagai pekerjaan atau sebagai profesi? Bila sta-tus wartawan dipersepsikan atau dipahami sebagai peker-jaan (cari nafkah) belaka, ma-ka sejak awal motif dan tujuan mereka menjadi wartawan ha-nyalah mencari uang. Oleh ka-rena motif dan tujuannya ha-nyalah uang maka siapapun berhak untuk terjun bebas ke samudera jurnalisme.
Atas nama kebebasan ber-ekspresi, kini setiap orang me-rasa berhak menjadi warta-wan. Motif dan tujuannya ha-nya satu: uang. Inilah salah satu faktor utama yang meru-sak citra wartawan di negeri ini. Hal ini semakin menjadi-jadi, bahkan kebablasan (kele-watan), pascalengsernya Pre-siden Soeharto, pada 21 Mei 1998. Tetapi, bila status war-tawan dipahami sebagai profe-si, maka sesungguhnya orang sangat sulit untuk terjun ke dunia jurnalisme.
Sejak dulu banyak ilmuwan membuat karakteristika pro-fesi (bukan pekerjaan). Di sini kita kutip pendapat beberapa ilmuwan tersebut. Pertama, menurut Terence J Johnson, profesi memiliki enam kriteria, yaitu keterampilan yang dida-sarkan pada pengetahuan teo-retis, penyediaan pelatihan dan pendidikan, pengujian kemampuan anggota, organi-sasi, kepatuhan kepada suatu aturan main profesional, dan jasa pelayanan yang sifatnya altruistik.(bersambung)
Oleh: S. Sahala Tua Saragih
|
|