|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Mimbar dan Keagamaan
|
16 Februari 2008
|
Jadilah Lilin Yang Memberi Terang Kasih Sayang
RABU , 13 Februari 2008, tepatnya malam hari, remaja Syaloom Karombasan, mengadakan malam valentine day dengan simbol “jadilah lilin yang memberi terang kasih sayang”.
Pendeta pelayanan, Gereja Syalom Karombasan, Pdt Marthin Luther Rindengan mengatakan, dimana perayaan malam itu, dihadir oleh ratusan remaja dan pemuda, serta Pnt Lenna Wulus SPd. Acara meriah ini dikemas oleh panitia team 12, dan memberikan hadiah kepada tiga orang pemegang pembatas alkitab yang bernomor angka VT 14.2.08. Adapun, jenis kegiatan lain, yang tidak kalah menariknya, adalah pemilihan quin dan king valentine 2008. “Dimana, kegiatan ini sangat ramai dan meriah sampai pada Pukul10.30. Disisi lain, para remaja sangat antusias meramaikan koor remaja peserta asian choir tahun lalu dan tarian sekolah minggu,”katanya menambahkan, dan untuk tahun ini Jemaat Syaloom memiliki tema pelayanan interen “tahun keluarga. Maksudnya melibatkan, dan memberdayakan semua anggota keluarga dalam pelayanan jemaat, karena keluarga dalam pelayanan jemaat , adalah subjek dan objek pelayanan. Sesuai Firman, dimana dua orang atau tiga orang (suami istri-anak) adalah, satu kesatuan yang kokoh oleh injil.
Mereka jangan terpisah oleh agama, dan keyakinan , tetapi makin kokoh dalam iman kepada Yesus Kristus kepada keluarga.(aan)
Bos ini berita, bos jefry pai yang suruh
Lomba Cipta Lagu PKB Sinode GMIM.
Dalam rangka menyambut Word Ocean Centre (WOC), Komisi Pria Kaum Bapa (P/KB) Sinode GMIM rencananya akan melaksanakan lomba cipta lagu. “Kegiatan yang diselenggarakan ini memiliki makna tersendiri,” kata Ketua Pokja PKB Sinode GMIM Ir James Paulus MSi, Jumat (15/02).
Menurut dia, lomba cipta lagu ini mengusung tema utama yaitu menggusung tema utama lagu Pria Kaum Bapa (PKB) dan Lingkungan. Mengapa mengusung masalah lingkungan, karena dengan lagu-lagu yang diciptakan nantinya dapat memberikan sentuhan hati melalui seni agar masyarakat terlebih jemaat GMIM tergerak hatinya untuk melestarikan dan memelihara lingkungan.
Loba cipta lagu ini juga merupakan rangkaian menyambut WOC, karena itulah sangat diharapkan seluruh masyarakat dan jemaat GMIM sekiranya dapat terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan PKB Sinode GMIM. “Lagu-lagu yang diciptakan tersebut juga dalam rangkaian dengan kegiatan festival PKB yang dilaksanakan mendatang. Bahkan sebagai intruktur dalam kegiatan ini akan didatangkan dari Jakarta yaitu Jery Silangit,” tambahnya.(aan)
Aku Mengingatmu!
Bacaan : Galatia 6:1-5
Roger sadar dirinya menderita penyakit Alzheimer dan ingatannya bakal hilang. Ia takut kelak tak bisa mengenali istri dan anaknya lagi sehingga ia menulis di catatan hariannya demikian: "Sayang, akan tiba harinya aku lupa segalanya. Tidak mengenalimu dan anak-anak, meski kalian di dekatku. Saat itu terjadi, maafkan aku! Ingatlah, aku sangat mengasihimu." Esoknya, sang istri membaca tulisan suaminya sambil menangis. Ia menulis di bawahnya: "Sayang, jika semua itu terjadi, aku akan tetap merawatmu. Engkau telah melamarku dan setia di sampingku puluhan tahun. Aku mengasihimu bukan karena engkau mengingatku, tetapi karena aku mengingatmu."
Betapa indahnya pasangan yang saling memberi dorongan semangat. Dengan kata-kata penuh kasih, mereka "bertolong-tolongan menanggung beban" (Galatia 6:2). Sayangnya, banyak orang lebih suka meluncurkan kritik yang melumpuhkan. Padahal menurut Paulus, sekalipun kekasih kita melakukan pelanggaran, kita tak perlu melukainya dengan kata-kata kasar. Ia perlu dipimpin kembali "dalam roh lemah lembut" (ayat 1). Mengapa? Karena dengan bertindak kasar, kita menempatkan diri seolah-olah lebih baik, lebih berarti. Kita jatuh dalam kesombongan. Kritik pedas itu pun menghancurkan! Hanya kata-kata penuh kasih yang bisa memulihkan.
Orang-orang di sekitar kita sangat memerlukan kata-kata pendorong semangat. Sudahkah kita memberikannya? Apakah yang memenuhi mulut kita; pujian atau makian? Kata-kata penuh kasih atau kritik? Mari kita gunakan lidah kita untuk menguatkan seseorang hari ini.(sbo)
Enam Minggu Masa Pra Paskah
Selama ini, terdapat dua kekeliruan besar sehubungan dengan masa Pra Paskah. Pertama, kita menyebut seluruh minggu sebagai Minggu Sengsara. Kedua, kita merayakannya selama tujuh hari Minggu. Di mana letak kekeliruannya?
Seperti yang ditulis Pdt Agus Wiyanto dalam situs gloria.net, dalam studi liturgi tidak pernah dikenal adanya Minggu Sengsara yang lebih dari satu hari Minggu. Minggu Sengsara hanya dirayakan pada minggu terakhir sebelum Hari Paskah. Sedangkan minggu-minggu sebelumnya selalu disebut Minggu-minggu Pra Paskah (Lent). Mengapa? Karena, pada minggu-minggu Pra Paskah itu Yesus dalam kisah hidup-Nya memang belum menjalani kesengsaraan-Nya.
Yesus sendiri memasuki Yerusalem seminggu sebelum kematian-Nya. Itu sebabnya, minggu terakhir sebelum Hari Paskah barulah disebut Minggu Sengsara atau Minggu Palmarum.
Jadi, penamaan yang tepat adalah: Minggu Pra Paskah I s.d. Minggu Pra Paskah V, barulah Minggu Sengsara. Lalu mengapa hanya enam minggu? Bukankah biasanya terdapat 7 minggu menjelang Paskah?
Paskah kristiani tidak melepaskan diri dari Paskah Israel. Anak domba Paskah yang dikorbankan pada Paskah Israel digantikan oleh Yesus, Anak Domba Allah (Yoh. 1:29, 36; 1 Kor. 5:7; 1 Ptr. 1:19; Why. 5:1-6:5). Dalam tradisi Israel yang diikuti oleh gereja, Masa Paskah didahului oleh 40 hari masa persiapan yang dimulai dengan Hari Yom Kippur (Hari Penebusan). 40 hari ini melambangkan 40 tahun perjalanan Israel di padang gurun setelah penebusan mereka dari tanah Mesir.
Jadi, ada 5 Minggu Pra Paskah dan 1 Minggu Sengsara (semuanya 6 minggu). Karena Hari Minggu dalam tradisi Kristen selalu dipandang sebagai Hari Kebangkitan Tuhan, maka Hari Minggu dalam Minggu Pra Paskah tidak diperhitungkan. Dengan demikian, selalu dihitung 6 x 6 = 36 hari. Empat hari untuk menggenapi 40 hari dihitung mundur dari minggu pertama Pra Paskah dan jatuh pada Hari Rabu. Itulah yang disebut Rabu Abu (Ash Wednesday).
Jadi masa Pra Paskah sesungguhnya dimulai sejak Rabu Abu itu. Karena banyak gereja Protestan merasa kesulitan merayakan Rabu Abu, maka mereka menggesernya ke hari Minggu sebelumnya. Sehingga perhitungan seluruhnya menjadi 7 Hari Minggu Pra Paskah. Padahal Hari Minggu sebelum Rabu Abu itu dalam kalendar liturgi disebut sebagai Hari Transfigurasi, yaitu hari di mana Yesus dimuliakan di atas gunung, yang merupakan akhir dari Lingkaran Natal. Maka, amat mengherankan, bahwa dalam akhir Lingkaran Natal, kita malah mulai merayakan Minggu Pra Paskah.
Karena itu, ini bukan soal pilihan dan selera, namun soal kelurusan dan pertanggungjawaban teologis-liturgis. Akankah kita sekedar meneruskan tradisi yang keliru dan kita tidak pernah mendewasakan umat, atau kita berani mulai berubah dan mengubah diri.
|
|