|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
16 Februari 2008
|
|
Mencari Sosok Pemimpin
Nomor Satu di Minahasa Tenggara(4)
Oleh: Ir Jantje G Kindangen MS
|
Pada akhirnya terwujud ke-mampuan bawahan secara pro-fesional sekaligus secara kompe-tetif akan terwujud beberapa pi-lihan kader daerah dan bangsa pengganti yang andal di masa yang akan datang, itu sebenar-nya yang diharapkan bisa ter-wujud. Dan yang lebih penting lagi bahwa seorang pemimpin daerah harus menyadari betul bahwa setiap warga dalam setiap rumah tangga juga sangat bera-gam.
Fokus utama dalam pemba-ngunan adalah membangun umat manusia menjadi manusia yang semakin bernilai. Bukan yang terjadi seperti sekarang ukuran keberhasilan dalam pembangunan lebih dominan hanya dilihat secara fisik, seperti gedung-gedung semakin me-wah, seragam aparat semakin rapi dan berwibawa, mobil-mobil dinas semakin banyak, kegiatan pertemuan-pertemuan bersifat serimonial yang makin sering. Menilai indikator keberhasilan pembangunan datanglah ke pe-mukiman bahkan pada setiap rumah tangga masyarakat, ter-utama kepada kelompok ma-syarakat yang masih dikategori-kan miskin dan tidak berdaya, berbaurlah, berceritalah, dan se-lamilah kondisi keberadaan me-reka secara serius dan berke-lanjutan dan dapat disimpulkan sendiri apa impak dari pemba-ngunan selama kepemimpinan sang pemimpin “Bupati”.
Seorang pemimpin dalam men-jalankan kepemimpinan yang efektif dipengaruhi oleh bebera-pa kriteria sebagai berikut:
Pertama, memiliki kekuasaan yaitu seorang pemimpin harus mampu memanfaatkan jabatan yang memiliki kekuasaan ke-pemimpinan yang berorientasi pada pemberdayaan, bukan semena-mena menyalahguna-kan kekuasaan. Seorang pe-mimpin harus mampu mempe-ngaruhi perilaku bawahannya karena melekat pada dirinya ada sumber kekuatan untuk memimpin karena dalam diri sang pemimpin telah melekat ada kekuasaan untuk memberi legitimasi, kekuasaan dapat memberi imbalan, kekuasaan memberi referensi, bahkan pada saat-saat tertentu ada kekuasa-an untuk melakukan pemaksa-an dengan alasan spesifik demi kepentingan umat yang lebih ba-nyak. Asal saja sang pemimpin tidak menyalahgunakan kekua-saan, maka implementasi ke-kuasaan dalam kepemimpinan-nya akan selalu mendapat apre-siasi dari mayoritas komponen masyarakat.
Kedua, memiliki kemampuan skill. Seorang menjadi pemimpin sudah tentu harus punya kele-bihan dari yang dipimpin, meski-pun tidak/bukan segalanya. Ke-lebihan yang dimaksud adalah menyangkut kemampuan di bidang conceptual skill, human skill, dan technical skill. Dengan demikian seorang pemimpin senantiasa berdasarkan hati nu-raninya dapat memotret tentang dirinya sendiri, apakah saya la-yak menjadi seorang pemimpin apalagi menjadi sang pemimpin daerah.
Pada level apapun jabatan sang pemimpin harus mema-hami persyaratan keahlian apa yang memenuhi syarat tentang jabatan yang hendak diemban. Kenyataan yang terjadi sekarang ada banyak sang pemimpin, apalagi pemimpin daerah me-nempatkan pemimpin yang di bawahnya secara proporsional tidak berdasarkan kriteria yang seharusnya. Dengan demikian harus dihindari pengangkatan dengan julukan pemimpin kar-bitan, sang pemimpin yang di-tunjuk tidak sesuai dengan jen-jang serta kemampuan yang ber-sangkutan. Dari evaluasi masya-rakat secara luas dalam berba-gai kesempatan sangat ironis, bahwa sekarang sedang mere-bak menjadi pemimpin karena kedekatan kerabat/saudara, menjadi pemimpin dengan be-ban sistem upeti, menjadi pe-mimpin karena tuntutan partai politik atau kalangan kelompok tertentu. Sistem penjenjangan karier dan kepangkatan (yang profesional) seolah-olah tidak lagi berlaku yang penting ABS. Penerapan sistem pengangkatan pemimpin seperti ini akan ber-akibat fatal, akan terjadi ham-batan dalam proses pemba-ngunan, kalaupun ada kemaju-an maka kemajuan yang dicapai hanya semu belaka.
Ketiga, memiliki pengalaman minimal cukup (berniat besar untuk terus belajar), lebih bagus lagi kalau berpengalaman ba-nyak. Menjadi seorang pemim-pin selalu diperhadapkan dan dituntut untuk mampu meng-ambil keputusan yang strategis serta mampu menyelami ke-inginan serta harapan dari ba-wahan, apalagi sebagai pemim-pin daerah tentunya harus mampu mengakomodir keingin-an dan harapan masyarakat. Dalam pengambilan suatu ke-putusan dari sang pemimpin yang telah berpengalaman saja terkadang menghadapi suatu pi-lihan yang sulit.(bersambung)
|
|