|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
18 Februari 2008
|
|
Sumber
Minyak Melimpah di Luar Angkasa
|
Di tengah cadangan minyak semakin menipis dan harga yang bergejolak, siapa me-nyangka kalau nun jauh di luar angkasa terdapat sumber mi-nyak yang sangat melimpah dan lebih besar dari seluruh cadangan minyak di Bumi.
Baru-baru ini para peneliti menyiarkan bahwa Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus yang beratmosfer tebal, menyimpan kandungan gas alam dan cairan hidrokar-bon lain ratusan kali lipat le-bih banyak dari yang terkan-dung di Bumi.
Sejauh ini telah ditemukan beberapa ratus danau dan laut di daerah kutub utara Titan. Untuk mendapatkan gambaran potensi sumber daya alam di sana, ilmuwan mengukur kedalaman perair-an di sana dengan mengguna-kan pembanding danau-da-nau di Bumi, di mana keda-laman danau sering kali ku-rang dari 10 meter.
“Dengan demikian, kita tahu kedalaman beberapa danau lebih dari 10 meter, karena mereka tampak sangat gelap di radar. Kalau dangkal, kita akan dapat melihat dasar-nya,” kata Ralph Lorenz dari laboratorium fisika terapan di John Hopkins University.
Kesimpulan tersebut didapat berdasarkan pemantauan melalui wahana Cassini milik NASA, yang telah menuntas-kan survei terhadap 20 persen permukaan Titan. Hasil pan-tauan tersebut juga memper-lihatkan bahwa kandungan sumber daya alam di bebe-rapa wilayah di bulan itu saja sudah lebih banyak dari se-mua kandungan sumber daya alam di bumi (minyak bumi, gas alam dan batu bara).
Meskipun demikian, para peneliti juga mengatakan bah-wa Titan tidak dapat ditinggali manusia. Menurut mereka, permukaannya tidak mengan-dung air, melainkan hidrokar-bon cair dalam bentuk me-thane dan ethane, sementara daratannya terbentuk dari tholins. Kondisi ini diduga se-rupa dengan Bumi pada wak-tu sebelum ada kehidupan.
“Kami memperkirakan kon-disi serupa juga terdapat di daerah Kutub Selatan, namun kami belum tahu berapa jum-lah kandungan cairan di sana,” kata Ralph. Menurut dia, data ini penting karena umur hidup Titan tergantung dari berapa banyak jumlah methane yang terkandung dalam zat cair di sana.
Lanjutnya, jika kandungan methane habis, maka suhu di sana akan semakin dingin, yang saat ini diketahui minus 179 derajat Celsius. Asumsi sementara, kandungan me-thane tersebut semakin ber-kurang melalui letusan gu-nung api, yang diperkirakan telah menyebabkan fluktuasi suhu yang dramatis di masa lalu. “Memahami kompleksi-tas yang terjadi di Titan dapat membantu kita memahami asal-usul kehidupan di alam semesta,” kata Ralph.(spc/*)
|
|