HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

19 Februari 2008

Catatan Jeffrey Johanes Massie dari Inggris
Tentang Landy dan Kunjungan ke London


SUNGGUH mengagetkan berita yang saya dapat dari Ma-nado beberapa hari lalu. Jeffrey Johanes Massie Landy Hendri Wowor, salah seorang jurnalis yang telah bersama-sama dengan Komentar se-menjak harian ini terbit Januari 2001, telah meninggalkan kita semua. Saya cukup mengenal sosok Landy yang ketika tahun awal Komentar beroperasi, bekerja di ruangan di sebelah saya. Almarhum adalah sosok yang pendiam, berpengalaman dan pekerja keras. 
Terakhir saya berjumpa de-ngan Almarhum adalah ketika saya berada di Manado bulan Desember tahun lalu. Ketika itu saya bersama Landy, Friko Poli (Pemimpin Redaksi Komentar) dan Jemmy Saroinsong (Pe-mimpin Redaksi Harian Metro) 
sedang bertemu bersama un-tuk makan siang di sebuah hotel yang berlokasi di Bou-levard. Obrolan kami ketika itu berkisar banyak hal dan politik tentu menjadi bagian yang tidak terpisahkan, apa-lagi saat itu sedang hangat-hangatnya Pilkada Minahasa. 
Dalam kesempatan itu, kami juga sempat berbincang-bin-cang tentang rencana saya untuk mengikuti program beasiswa tentang reformasi sektor keamanan negara-ne-gara pascakonflik yang di-sponsori Departemen Luar Negeri Inggris (biasa disebut Chevening course) yang seka-rang sedang saya ikuti dan sudah memasuki bulan ke-dua. Tidak saya sangka bah-wa pertemuan siang itu ada-lah yang terakhir dengan Landy. Semoga Tuhan yang Mahakua-sa melindungi keluarga, istri dan anak yang ditinggalkan. 
LONDON
Di sisi lain, sedikit catatan yang bisa saya share dengan pembaca Komentar tentang kegiatan di sini, adalah ketika kami (para peserta course yang berjumlah 12) mengun-jungi London, Ibukota Inggris, pekan lalu. Sejumlah institusi prestisius kami kunjungi, ter-masuk di antaranya adalah Departemen Luar Negeri Inggris, Markas Polisi New Scotland Yard, Royal Courts of Justice (Mahkamah Agung) dan beberapa kantor LSM (lembaga swadaya masyara-kat) besar seperti Safer World. 
Selain itu kami juga mengun-jungi RUSI atau Royal United Services Institute, sebuah think-tank yang acap kali me-nyumbangkan pemikirannya ke Pemerintah Inggris terkait masalah keamanan dan pertahanan. Pada bulan Ja-nuari lalu RUSI baru saja menjadi tuan rumah seminar keamanan yang menampilkan Presiden Pakistan Pervez Mu-sharraf sebagai narasumber.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kantor De-partemen Luar negeri Inggris, dikenal dengan sebutan Foreign and Commonwealth Office (FCO). Di sana kami ti-dak hanya mendengar ‘cera-mah’ tentang kebijakan politik luar negeri Inggris, tetapi juga dibarengi dengan diskusi ter-buka yang sangat demokratis, sekaligus kritis. Saya sendiri sempat mengajukan poin tentang kebijakan luar negeri Inggris, yang sekarang dipim-pin oleh PM Gordon Brown, dalam hal perang Irak. 
Isu yang saya angkat adalah betapa terasa perbedaan kebi-jakan antara Tony Blair (man-tan PM yang baru saja pen-siun) dan Gordon Brown. Ar-gumen yang saya sampaikan menyangkut keputusan Brown untuk ‘mengungsikan’ pasu-kan Inggris dari Basra, Irak, sedangkan Blair termasuk yang mempertahakannya. Bantahan bahwa policy atau kebijakan Inggris tentang Irak berubah sejak Brown menggantikan Blair serta-merta disampaikan pihak deplu. 
Richard Shaw, diplomat muda yang menanggapi per-tanyaan tersebut terlihat agak defensive membela sikap Brown, yang menurut saya, jelas berbeda dari Blair dalam hal Irak dan isu seputar perlunya kehadiran tentara Inggris untuk mengawal negara kaya minyak itu me-nuju demokrasi dan meme-rangi kelompok teroris. Sekadar informasi, tulisan saya kali ini tidak untuk membicarakan kondisi Irak yang oleh pihak konservatif disebut dengan ‘membaik’ (dalam kaitannya dengan perang melawan kelompok teroris) atau ‘memburuk’ me-nurut pihak kiri atau liberal yang semenjak awal sangat menentang perang Irak, tetapi hanya untuk mendapatkan penjelasan mengapa terkesan kuat ada kebijakan yang sangat mencolok dari perdana menteri baru dan lama yang berasal dari satu partai (Partai Buruh). 
Selepas dari FCO kami juga singgah di Markas Besar Kepolisian Inggris yang di-kenal dengan sebutan New Scotland Yard. Di mabes polisi yang namanya sering kita baca di sejumlah buku dan tonton di film itu, kami mela-kukan tur keliling dan men-dengarkan paparan tentang kegiatan kepolisian di Inggris. Dijelaskan bahwa khusus untuk menjaga keamanan Kota London dan sekitarnya (Greater London) ada 50 ribu petugas polisi yang tergabung di New Scotland Yard. 
Juga dijelaskan bahwa polisi di Inggris pada saat patroli tidak diperkenkan membawa senjata seperti halnya di ne-gara lain, kecuali dalam si-tuasi khusus. Selain itu, me-nyangkut reformasi kepoli-sian, ada satu fakta menarik yang disampaikan bahwa Kepolisian Inggris pernah melakukan pembenahan internal secara besar-besaran akibat beberapa kasus ko-rupsi yang melanda New Scotland Yard. Sungguh sua-tu pengakuan yang jujur dari sebuah institusi keamanan ternama yang tadinya saya anggap bersih dari korupsi. Dan dalam diskusi tentang reformasi sektor keamanan yang berkembang lebih lanjut, ternyata terlihat bahwa in-stitusi kepolisian merupakan pihak yang termasuk paling sulit untuk direformasi, di banyak negara. 
Tidak hanya di Inggris tetapi juga di Amerika Serikat (se-perti halnya dengan New York Police Department yang su-dah beberapa kali mengalami reformasi namun masih juga mencuat kasus-kasus penya-lahgunaan wewenang di tingkat tertentu).
Di kesempatan lain kami juga melakukan diskusi ter-buka dengan lembaga think tank bernama Royal United Services Institute. Bertempat di kawasan Whitehall, daerah perkantoran di mana keba-nyakan kegiatan pemerin-tahan Inggris dilakukan, kami diterima oleh Mike Condor, Director of Military Sciences. RUSI, yang pada Januari lalu baru saja menjadi tuan ru-mah diskusi tentang Pakistan yang dihadiri oleh Presiden Pervez Musharraf, merupakan institusi pertahanan tertua di dunia. Tidak hanya Mushar-raf saja yang pernah melaku-kan diskusi, tetapi Presiden AS George W Bush pun per-nah menjadi narasumber di sini pada tahun 2003. 
Sungguh suatu kesempatan yang menarik bagi kami un-tuk bisa bertukar pikiran dan saling menyampaikan ma-sukan atas isu-isu keamanan yang sedang menjadi topik pemberitaan media di Inggris, seperti misalnya kasus penya-dapan atas anggota Parlemen Inggris. Di Inggris ada hukum yang melarang penyadapan terhadap anggota dari in-stansi tertentu, salah satunya parlemen. 
Namun belum lama ini ada sebuah kasus unik yang me-nimpa seorang anggota DPR Partai Buruh yang bernama Sadiq Khan, seorang pria ke-lahiran London dengan latar belakang keluarga yang ber-asal dari Pakistan. Sadiq Khan pada awal bulan ini menjadi berita hangat di me-dia akibat kunjungannya ke salah seorang konstituennya yang sedang ditahan di pen-jara akibat kasus terorisme. Terkuak oleh pers bahwa pem-bicaraan Sadiq Khan ternyata disadap oleh anggota anti-terorisme New Scotland Yard. 
Tidak disebutkan secara rinci apa yang dibicarakan Sadiq Khan dengan konsti-tuennya, namun fakta bahwa seorang anggota parlemen disadap lebih mendominasi pemberitaan. Dalam diskusi tentang hal ini, saya menyam-paikan bahwa sah-sah saja jika anggota parlemen kebal terhadap penyadapan, na-mun jika ada argumen bahwa penyadapan terpaksa dilaku-kan demi menjaga keamanan negara (national security) maka siapa pun tanpa kecuali, semua warga negara, boleh menjadi subjek intervensi pemerintah dan alasan civil rights and liberties (hak-hak dan kebebasan sipil) patut dinomorduakan. 
Seperti biasanya dalam se-buah diskusi tentu ada yang pro dan kontra terhadap se-tiap masukan. Namun menu-rut saya, apa yang dilakukan Sadiq Khan wajar dan patut menjadi kecurigaan pihak berwenang karena kebetulan konstituennya, yang ternyata teman masa kecilnya itu, sedang menjalani hukuman atas aktivitas terorisme. Dan saya tambahkan juga kepada peserta diskusi bahwa keja-hatan yang berkaitan dengan aktivitas terorisme tentunya sangat jauh berbeda dengan tingkat kriminalitas pengutil di supermarket misalnya. Oleh sebab itu wajar sekali jika aparat keamanan perlu melakukan tindakan-tindak-an pengamanan, sesuai de-ngan fungsinya.
Setelah beberapa kunjungan tambahan ke sejumlah LSM besar seperti Safer World, lalu ke sebuah perusahaan konsul-tan keamanan Control Risks dan kantor Mahkamah Agung, kami pun kembali ke Brad-ford. Di sini, memasuki bulan kedua, rencananya kami akan melakukan kunjungan ke Irlandia Utara untuk mempe-lajari bagaimana proses per-damaian antara pemerintah Inggris dan kelompok sepa-ratis IRA (Irish Republican Army) dapat terwujud. Semoga pada saatnya nanti saya dapat menuliskan hasil kunjungan tersebut. Selamat Paskah.(***)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin