HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Berita Mimbar dan Keagamaan

19 Februari 2008

Lintas Berita Mimbar 


Hut ke-7 Jemaat GMIM Yerusallem Kawangkoan
Soumokil: Hanya Satu Yang Menang
Sabtu, (16/02), perayaan HUT ke-7 Jemaat GMIM Yerusallem Kawangkoan, Minut, berlangsung meriah dan sukses. Ketua BPMJ Jemaat GMIM Yerusallem, Pdt Hendrik Soumokil STh, dalam khotbahnya, 1 Korintus 9:24-27, dalam pertandingan hanya ada satu orang yang menang. 
“Untuk mendapat kemenangan seseorang harus melatih dirimu, tapi kemenangan yang didapat tidak abadi. Dalam kehidupan ini kita juga bertanding mengalahkan dunia. Caranya, menyerahkan seleuruh kehidupan kepada Allah, maka kita mendapat mahkota yang abadi, yaitu keselamatan dari Allah,”ujanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Minut, Ibu Sus Pangemanan SPd, dalam sambutannya, mengatakan bahwa dalam pertandingan bukan kemenangan semata yang dikejar. Tetapi persatuan dan kesatuan yang diutamakan. “sebab persatuan dan kesatuan merupakan simbol kerukunan yang harus kita jaga terus,”tandasnya.
Disisi lain Ketua Panitia Kegiatan, Pnt Suryati Pontoh, menyatakan bersyukur, karena pembukaan kegiatan telah dilaksanakan. ”Saya juga berharap, untuk kegiatan lain, seperti lomba-lomba bisa sukses sesuai dengan keinginan kita semua,”ucapnya.
Dimana, perayaan ini diawali, dengan jalan sehat pagi, dan diikuti oleh seluruh Jemaat Yerusallem, kolom 1-21. Selanjutnya sesampai di finis, peserta melakukan olah raga poco-poco. Sus Pangemanan yang membuka secara resmi kegiatan, juga menyerahkan secara simbolis bibit pohon manguni kepada perwakilan masing-masing jemaat. Langkah ini, untuk menunjang program penghijauan yang telah digalakkan oleh pemerintah Minut.
Sementara itu, untuk kegiatan aneka lomba dimulai Februari –Mei Mendatang.(aan)

Yubelium 100 Tahun Kebangkitan Nasional Harusnya Dikalenderkan
Melihat dalam beberapa kalender bahwa, 20 Mei adalah libur nasional dalam rangka Hari Raya Waisak. Sedangkan, Hari Kebangkitan Nasional tidak ditulis. Padahal, di Tahun 2008 masyarakat dan bangsa Indonesia akan memperingati dan merayakan yubelium 100 tahun kebangkitan nasional. 
“Harusnya, Yubelium 100 tahun Kebangkitan Nasional juga ditulis dalam kelender. Sebab, jika kita mengevaluasi tahapan pergerakan kebangkitan nasional dalam lima babak; 1908-1945, 1945-1950, 1950-1965, 1965-1998, 1998-2008. namun, bisa saja periodisasi ini berbeda dengan pendapat resmi yang disumbangkan oleh pakar sejarah nasional Indonesia atau dalam buku pelajaran di sekolah-sekolah / Perguruan Tinggi (PT). Namu, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ada orang Kristen atau institusi gereja yang ikut aktivitas dalam proses gerekan kebangkitan nasional. Itu sampai sekarang? Jawab, ada. Mula-mula perorangan,” ujar Ketua Sinode AM Gereja-Gereja di Sulawesi Utara-Tengah (SAG Suluttenggo), Pdt J R Sumakul STh, Senin (18/01).
Dijelaskannya, sejak RI diploklamirkan institusi gereja sampai sekarang terlibat dalam memberi pendapat yang sifatnya konseptual, seminar, konsultasi, rapat-rapat, diskusi. “Saya membaca bahwa sejak awal beberapa mahasiswa / intelektual Kristen telah menyadarai bahwa, penjajahan Bangsa Belanda harus diakhiri. Bersama para mahasiswa/intelektual Islam mereka melakukan diskusi-diskusi bagaimana jalan yang terbaik untuk mengusir penjajah Belanda keluar dari wilayah Hindia belanda (Sabang-Merauke). Terbentuklah organisasi-organisasi keuskupan, keagamaan, daerah/pulau untuk melawan penjajah Beland,”katanya.
Gerakan Kebangkitan Nasional ialah, yang mengantar Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya lewat proklamator Bung Karno dan Bung Hatta. Semangat Kebangkitan Nasional inilah, yang merasuk para pejuang nasional di Jawa, dan pulau lainnya, diwilayahRI untuk melawan Belanda sesudah proklamasi kemerdekaan. Karena, Belanda belum suka melepaskan RI sebagai daerah jajahannya. Munculnya RIS (Republik Indonesia Serikat) yang federalis akhirnya tidak disukai oleh Bung Karno, sehingga harus kembali ke UUD 45, lewat dekrit presiden. Dalam masa orde baru reformasi muncul usaha kelompok tertentu yang militan, dan vokal di semua arah, untuk menerapkan Syariat Islam (SI)di seluruh RI. 
“Penganut agama non Islam menjadi resah dan kawatir sampai sekarang. Upaya gerakan ini secara resmi dilawan oleh pemerintah dan orsosma dan sebagian besar masyarakat Bangsa Indonesia. Orang-orang Kristen / Katolik, dan gereja sebagai lembaga ikut dalam usaha mempertahankan isi nasionalisme kebangsaan Indonesia yang tidak berdasarkan agama. Tetapi hanya berdasarkan pancasila dan UUD 45,”ucapnya.
Lebih jauh ia mengatakan, memang warga masyarakat non Islam harus menghormati setiap orang Islam dalam melaksanakan syariat. Islam karena itu hak asasinya dalam hidup kesehariaanya. 
Dan sejak 1970 mulailah ada program gereja-gereja melakukan pendidikan / pembinaan politik yang membekali para peserta untuk memahami pandangan agama Kristen tentang politik? Etika berpolitik, aktivitas politik, hak dan kewajiban setiap orang Kristen dalam masyarakat majemuk. 
“Dalam program ini, gereja tidak bermaksud untuk melatih orang-orang untuk berjuang mengubah RI menjadi negara Kristen. Tidak ada konsepsi dalam alkitab yang memerintahkan agar harus membentuk negara Kristen. Yang harus dilakukan setiap orang Kristen ialah, melakukan firman Allah; mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh menjadi berkat bagi banyak orang,”ucapnya ulang.(aan) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin