HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

20 Februari 2008

Prof Sondakh: Unsrat Kurang Dilirik Pemda


Menjelang akhir masa jaba-tannya sebagai Rektor Unsrat, Prof Dr LW Sondakh MEc me-nuangkan gundah-gulananya terhadap pihak pemerintah dae-rah (pemda). Pemda dinilai Son-dakh, kurang melirik eksistensi dan potensi Unsrat. Itu dibuktikan dengan minimnya bantuan dana dan kurang dilibatkan dalam pe-ngambilan sebuah kebijakan pu-blik (public decision). 
‘’Saya cemburu terhadap per-hatian pemda di beberapa Uni-versitas di Indonesia Timur (In-tim). Unmul (Universitas Mula-warman) Samarinda misalnya. Mereka mendapatkan dana Rp 300 miliar dari pemda,’’ ungkap Prof Sondakh dalam Pidato Pengukuhan 3 Guru Besar Unsrat, Senin (18/02) lalu. 
Bahkan dikatakannya, PTN di daerah-daerah Intim merupa-kan partner pemda dalam pe-rencanaan dan penyusunan rencana strategis dan program-program, serta menjadi anda-lan dalam proses merumuskan sebuah public decision. ‘’Ke-cenderungan-kecenderungan kontemporer juga membuat saya selaku rektor sedikit ke-cewa dengan perhatian pe-merintah yang relatif rendah terhadap Unsrat. Bukan saja
anggaran bantuannya relatif menurun, tetapi juga Unsrat belum merupakan bagian integral dari ‘public decision making process’ tadi, dan malahan sejumlah objek riset dari Unsrat sudah dan sedang dalam proses alih status pe-manfaatannya untuk kepen-tingan lain.’’
Salah satunya, yakni lahan penelitian Fakultas Pertanian di Pandu telah diambilalih, dan yang terakhir objek pene-litian kelapa di Balitka sedang dalam proses alih status. ‘’Kami melihat sudah mulai dilakukan penggusuran pohon kelapa dan plasma nuftah, se-belum adanya master plan yang disusun secara ilmiah dan transparan serta accoun-table, sesuai dengan ‘public decision making procedure of a democratic civil society,’’’ tandasnya.
Menurutnya, fenomena ter-sebut aneh. ‘’Seorang anggota masyarakat yang tergolong rendah sekalipun tidak akan mulai membangun rumah tanpa ada gambar yang men-jadi acuan, tanpa ada arsitek yang menggambarnya. Lucu kalau di dalam suatu masya-rakat yang sudah tergolong maju pendidikannya tetapi masih saja tidak menjadikan kajian ilmiah sebagai landasan dalam perumusan ‘public decision making’. Lucu me-mang melihat bagaimana pro-yek dengan biaya puluhan bahkan ratusan miliar, sudah mulai dikerjakan tanpa ada “feasibility study”, tanpa ada “Amdal”. Tapi kenyataannya masih demikian, kita hanya bisa berdoa dan bersabar dan tidak perlu menyalahkan sia-pa-siapa kecuali kita sendiri,’’ kata Sondakh. 
Dikatakannya, alih status lahan penelitian Balitka men-jadi areal pacuan kuda itu, mungkin lebih besar man-faatnya dalam strategi pe-ngembangan Kota Manado menuju Kota Wisata Dunia. ‘’ Tetapi apakah masih bisa didengar jeritan dan keluhan dari pencinta ilmu pengeta-huan yang ‘a politik’ untuk memberi masukan dan saran kepada pembuat kebijakan?.’’ 
Secara khusus, Prof Sondakh pun mengimbau kepada Gu-bernur Sulut dan Walikota Manado. ‘’Perkenankan saya mengimbau bapak gubernur dan walikota untuk berkenan kiranya dengan segala keren-dahan hati dan hormat untuk mendengarkan jeritan hati ka-mi, yang melihat harta terin-dah hasil-hasil riset perke-lapaan termasuk pengorbanan keras untuk memelihara pals-ma nuftah dari berbagai kul-tivar kelapa, sekarang ini su-dah mulai berangsur beralih dan hilang secara sistematis,’’ terangnya.
Rektor menyatakan, masih yakin dan percaya manfaat lahan Balitka untuk tetap di-pertahankan sebagai lahan penelitian dan studi-studi ke-lapa tidak kalah manfaatnya dibanding dengan dialih-statuskan. ‘’Prospek kelapa ma-sa depan masih sangat men-janjikan terutama karena ‘palm oil’ telah mulai digunakan se-bagai ‘biofuel’ dan dengannya minyak goreng kelapa akan meningkat harganya di masa depan.’’
Selain soal Balitka, Prof Son-dakh juga menyentil program revitalisasi pertanian, WOC dan kontroversi MSM. Menurutnya, Unsrat masih sangat kurang dilibatkan secara institusional dalam sejumlah development planning dan proses peru-musan kebijakan publik. Padahal, Unsrat yang didu-kung sekitar 100 guru besar dan doktor serta ratusan mas-ters serta kalangan ‘young aca-demian’ yang punya idealisme, seharusnya menjadi potensi dan kekuatan intelektual yang besar.
“Memang, personel Unsrat banyak yang direkrut sebagai staf ahli baik di Pemprop dan DPRD Sulut, akan tetapi saya jelaskan di sini bahwa dengan segala hormat akan kompe-tensi mereka dalam keahlian-nya masing-masing, akan se-makin besar manfaat dan efek-tif kontribusinya dalam me-najamkan kebijakan publik. Kalau itu sudah merupakan rekomendasi para tim ahli, coba didebat publik secara akademik lebih dahulu pada institusi ilmiah yang sah, an-tara lain di Unsrat atau di aso-siasi keilmuan lainnya seperti di ISEI, Perhepi dan lainnya,” tukasnya. 
Untuk itu, Sondakh pesimis pada penyelenggaraan WOC mendatang, pemda akan siap untuk menghadapinya. ‘’Kare-na hal itu juga harus di dorong dengan sarana prasarana yang memadai bagi kepala negara dan undangan tamu penting lainnya, baik dari segi fasilitas kenyamanan hotel, keadaan jalan yang belum rampung proses pelebarannya, keama-nan, dan masih banyak hal lain-nya yang justru akan menjadi bumerang bagi Sulut untuk ke-suksesan pelaksanaan iven internasional ini,’’ urainya.(ino)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin