|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Bolaang Mongondow
|
21 Februari 2008
|
|
Calciopoli dan Pilwako KK(3)
|
TRIO Beringin. Begitu sebutan untuk tiga figur handal Partai Golkar dari Tanah Totabuan, Dra Hj Marlina Moha Siahaan, Drs Syachrial K Damopolii MBA dan Drs Hi Djelantik Mokodompit.
Fenomena menarik tersebut tak jauh berbeda dengan militansi dan fanatisme para pendukung klub sepakbola. Seperti di Liga Italia, fanatisme yang berlebihan dari pendukung atau suporter kepada satu klub tertentu, sepertinya mengikis habis tali persaudaraan dan kekerabatan. Betapa tidak, ketika pertandingan sedang berlangsung, pendukung masing-masing kubu saling mengolok, mengancam bahkan tak jarang terjadi aksi baku lempar, baku pukul sampai pembakaran massal.
Mereka baru sadar bahwa du-kungan fanatik itu adalah ke-khilafan, ketika pertandingan usai, ketika pemenang telah di-tetapkan, dan ketika terkuak skandal bernama Calciopoli atau harafiahnya skandal pengaturan skor antar dua kubu yang bertanding. Seperti terjadi pada musim kompetisi 2006 silam.
Setelah menyadari kekeliruan, mereka membayangkan, bahwa pada saat terjadi saling olok antar pendukung, saling ancam dan pukul bahkan saling lempar dan aksi pembakaran, ternyata dua kubu yang sedang berjibaku di lapangan hijau sudah mengatur siapa yang bakalan jadi pemenang. Terkadang itu hanya diketahui oleh pelatih atau kapten kesebelasan atau segelintir pemain saja. Sehingga usai per-tandingan, atas nama sportivitas, para pemain yang baru ‘berpe-rang’ saling berjabatan tangan. Sebaliknya, sakit dan rasa kesal yang terlanjur timbul antarsupor-ter ternyata tak mudah terobati sekadar dengan kata ‘maaf’, kecuali membiarkan waktu mengikisnya sampai habis.
Calciopoli alias skandal pengaturan skor di Liga Itali, bisa saja telah mewarnai Pilkada 2001 dan 2006. Dan boleh jadi di Pilwako KK juga. Maka rakyat KK perlu menyadarinya sejak dini. Sebaiknya mempertimbangkan lagi dukungan fanatik dan militan seolah men-Tuhan-kan seorang kandidat. Demokrasi akan lebih indah di Kotamobagu, manakala dua sahabat karib pendukung kandidat berbeda, sebut saja pendukung Yal dan Antik, bisa berjalan bergandengan tangan di tengah publik. Sukses Pilwako Damai.(habis)
|
|