|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Mimbar dan Keagamaan
|
21 Februari 2008
|
Rindengan: Jadilah Orang yang Suka Memaafkan
Memasuki minggu sengsara kedua, pesan khusus disam-paikan Pdt Marthin Luther Rindengan. “Hindari sifat den-dam dan amarah. Tetapi, jadi-lah orang yang suka memberi maaf kepada orang yang telah meminta maaf. Dan mengasihi kepada sesama,”ujarnya, Rabu, (20/02) kemarin.
Dijelaskannya, sifat ini ten-tunya sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus Kristus kepada umatNya. “Yesus Kristus rela menderita di salib demi mene-bus dosa-dosa umat manusia. Sifat keteladan Beliau juga pa-tut kita contohi, untuk selan-jutnya kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari,”ucapnya.
Pasalnya, sifat memberi maaf terlebih dahulu merupakan si-fat mulia dan luhur, diban-dingkan jika kita harus me-nunggu orang lain meminta maaf lebih dulu. Begitu juga de-ngan sifat mengasihi, baiknya kita lakukan kepada orang-orang yang membutuhkan (per-lu mendapatkan perhatian).
Di sisi lain ia juga meng-ingatkan, betapa pentingnya arti keselamatan yang diberi-kan Tuhan bagi umat manusia. Makna sengsara yang pada in-tinya merupakan tujuan untuk hidup mau berkorban, akan menjadi sangat mulia jika da-pat diwujudkan dalam kehi-dupan berbangsa dan berne-gara. “Artinya, keselamatan yang dilakukan Tuhan bagi umat manusia dapat diwu-judkan untuk merespons ber-bagai pergumulan bangsa dan negara, antara lain melalui pro-fesi, tugas dan pelayanan kita masing-masing,” ujarnya me-nambahkan, tantangan kehi-dupan umat Kristen dewasa ini demikian besar, terutama ma-salah ekonomi. Dan diharap-kan, hal ini tidak membatasi je-maat untuk meninggalkan per-sekutuan. Di mana, masyara-kat saat ini sedang diperhadap-kan dengan naiknya harga pa-ngan
Dalam minggu-minggu seng-sara ini, ia juga menitip pesan agar umat Kristen dapat me-laksanakan puasa. Puasa ini bukan hanya sekedar tidak makan dan minum melainkan lebih ditujukan pada pem-berlakukan dalam totalitas hidup. “Puasa ini dimaksudkan agar kita dapat menghindarkan diri dari berbagai jenis pesta pora. Dan merealisasikannya dalam pelayanan nyata yakni meningkatkan kepedulian pada sesama antara lain seperti me-ngunjungi orang sakit dan membantu yang susah,” tan-dasnya.(aan)
Fakultas Pertanian (Faperta) Unsrat melalui Badan Tadzkir akan menggelar Muktamar IX, Jumat (22/02) besok dengan te-ma “Tanamkan kebersamaan dalam keikhlasan untuk mem-bangun badan tadzkir yang lebih inovatif”.
Menurut ketua panitia penye-lenggara, Arief Rahman, tujuan kegiatan ini untuk mencari pe-mimpin yang memiliki keteram-pilan, konsistensi belajar, berlatih dan mempererat ukhu-wah islamiah dan insania yang tulus, berjuang dan berkorban untuk menggapai tujuan mulia yang diharapkan bersama.
“Kegiatan ini merupakan program kerja membentuk keterampilan memimpin, di mana yang mengikuti akan tulus berjuang dan berkorban untuk menggapai tujuan mu-lia yang diharapkan,” kata Rahman pada Komentar, Ra-bu (20/02).
Senada dengan Rahman, Ronny Soputan MP selaku Pembantu Dekan Bidang Ke-mahasiswaan mengharapkan, agar para pengurus Badan Tazkir dan mahasiswa yang beragama Muslim dapat hadir dalam kegiatan tersebut.(tr-04)
Rendah Hati dan Penyabar
MESKIPUN kita tidak kenal dekat. Dengan melihat sepintas saja, kita bisa menebak pembawaan pendeta yang satu ini, bersifat rendah hati dan penyabar. Inilah sosok Pdt Marthin Luther Rindengan, yang sehari-harinya menjadi pelayan di Gereja Syalom Karombasan. Karena, pembawaannya yang sabar, membuat Ayah tercinta, Jaulie Deo Justitianus Rindengan ST MM MSC, Jaule Mercy Dey Rindengan Sked dan Jusie Grace Th Rindengan Am Perh S Com, terlihat awet muda di usia ke-56 tahun. “Hindari sifat marah-marah yang ndak pada tempatnya, karena malah merugikan kita sendiri. Orang yang sering marah, penyakit akan cepat datang,”ucapnya.
Suami tercinta Ruth Martje Wuisan menjadi pendeta sejak 1981 sampai sekarang. Meskipun, berpindah-pindah tugas, namun pelayanan senantiasa ia lakukan. “Ini sudah menjadi resiko sebagai seorang pelayan. Jadi kita tidak boleh me-ngeluhkannya. Kunci pokok da-lam menjalankan setiap peker-jaan yang kita lakukan adalah, harus didasari dengan niat yang tulus. Pasalnya, jika kita sudah berniat, semua pekerjaan yang kita lakukan akan mengalir de-ngan sendirinya,” ujarnya. Kelahiran Lembean, Tonsea 2 Maret 1952 ini selalu mengandalkan Tu-han.
“Tuhan adalah se-gala-galanya, yang memberi kekuatan kepada kita di saat lemah dan dalam keadaan tak ber-daya,”ucapnya ulang.(aan)
|
|