|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Minahasa Minut |
22 Februari 2008
|
|
Dampak puluhan pejabat ke Jakarta
Apel Pagi PNS tak Capai 50 Persen
|
Kesadaran dan disiplin PNS Minut nampaknya ha-rus dipacu. Buktinya Kamis (21/02), kehadiran PNS di apel pagi kemarin tak men-capai 50 persen. Di Sekreta-riat Pemkab Minut, apel pagi dihadiri kurang lebih 80 orang, sedangkan di ka-wasan perkantoran atau ga-bungan dinas, tak menca-pai 200 orang. Merosotnya disiplin PNS ini lebih di-sebabkan ‘hilangnya’ puluh-an pejabat karena meng-hadiri sidang Bupati Minut, Vonnie Panambunan.
Padahal angka normal keha-diran baik PNS di Sekretariat Pemkab Minut dan gabungan dinas jumlahnya mencapai se-kitar 700 PNS. Kehadiran apel pagi yang sangat memiriskan ini setidaknya mendapat sorotan masyarakat dan sejumlah LSM. Apalagi Wakil Bupati Minut, Drs Sompie Singal MBA tak turun tepat waktu untuk memantau kehadiran apel pagi PNS dikare-nakan kecapean kembali dari Ja-karta dan baru masuk kantor se-kitar pukul 10.00 WITA. Apel pagi di Sekretariat Pemkab Minut dipimpin Kadispenda Minut, Drs Jorry Dodie, sedangkan di gabdin, Mieke Dengah.
PEMERINTAHAN NYARIS ‘DIKUDETA’
Terkait masalah di atas, sejum-lah LSM seperti Gerakan Bela Rakyat (Gebrak) Minut, Komite Rakyat Minahasa Utara (KRMU), Kaum Muda Pecinta Alam (KMPA) Tunas Hijau dan Gerakan Rakyat Airmadidi Peduli Minut (Gerap Minut), nyaris ‘mengkudeta’ pe-laksanaan Pemerintahan Kabu-paten Minut.
Menurut Ketua Gebrak, Wil-liam Luntungan, jika saja Wakil Bupati Minut, Drs Sompie Singal MBA tak masuk kantor kema-rin, aksi ‘kudeta’ bisa berjalan mulus. Sejumlah LSM ini be-rencana akan mengambil alih, andaikan terjadi kekosongan kepemimpinan kemarin. Sebab sebagaimana informasi baik wakil bupati, sekab, asisten I-III dan sejumlah kadis, akan ber-ada di Jakarta hinga Jumat (22/02). Untung saja wakil bupati langsung balik Rabu (20/02) malam, jika tidak ‘kudeta pe-merintahan’ pasti terjadi.
Dalam pernyataan sikap yang sudah disiapkan mereka, sejum-lah ormas ini menyorot kinerja pemerintahan yang melalaikan tugas. “Secara khusus Sekda Minut, Dra Dientje Tom-bokan MSi. Seharusnya jika wakil bupati ada di Jakarta, sekda sebagai motor pemerintahan me-nyiasati harus berada di tempat. Ini justru wabup harus ‘mengalah’ pulang terlebih dahulu tak me-nyaksikan sidang bupati, sedangkan sekda dan para asisten stand by di Jakarta. Ini sangat me-miriskan,” tegas mereka. Sikap sekda ini setidaknya men-dapat penilaian minus dan me-reka mengusulkan agar sekda di-rolling.(irv)
|
|