|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
22 Februari 2008
|
|
Strategi
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk
Kelapa di Sulut(1)
Oleh: Prof. Dr. Ir.
Dantje T. Sembel 1) dan Dr. Ir. Semuel D. Runtunuwu2).
|
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, kelapa merupakan salah satu tanaman tahunan yang sangat penting karena semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya. Karenanya kelapa dijuluki sebagai pohon kehidupan (The tree of life). Dari kelapa dapat dihasilkan minyak goreng, kelapa parut kering (desiccated coconut), VCO, santan cair dan beku, air kelapa segar, nata de coco, kelapa muda, kue kelapa dan masih banyak lagi produk-produk makanan lainnya yang potensial untuk dikembangkan.
Khususnya Sulawesi Utara, ta-naman kelapa (nyiur) telah ter-bukti menjadi andalan masyara-kat dalam kehidupan ekonomi, sosial dan budayanya. Karena peranannya yang penting di ma-sa lampau, maka tanaman kela-pa dijadikan sebagai lambang daerah dan juga lambang Uni-versitas Sam Ratulangi yang mengharumkan nama Sulawesi Utara sebagai Propinsi Nyiur Me-lambai. Untuk itu kita harus me-nyambut dengan gembira dan mendukung tekad Gubernur Sulawesi Utara, Drs Sinyo Sa-rundajang bahwa kelapa harus dipertahankan supaya terus me-lambai di Bumi Nyiur Melambai.
Saat ini ada dua hal penting yang menjadi tantangan untuk mewujudkan tekad agar kelapa terus melambai di daerah kita, yaitu pertama, banyak tanaman kelapa yang semakin tua sehing-ga produktivitasnya menurun dan kedua, adanya serangan se-rangga hama dan penyakit ter-utama busuk pucuk kelapa kini menginfeksi dan mulai menye-bar dengan cepat di berbagai perkebunan kelapa di Sulawesi Utara. Tulisan ini hanya akan membahas mengenai strategi pencegahan dan pengendalian penyakit busuk pucuk kelapa.
Serangan Penyakit Busuk Pucuk Kelapa (BPK) di Sulawesi Utara
Seperti penulis telah kemu-kakan dalam harian Komentar pada sekitar pertengahan ta-hun 2007, tanaman kelapa di daerah ini sedang mengalami ancaman yang serius, yaitu adanya serangan penyakit Bu-suk Pucuk Kelapa (BPK) yang mematikan tanaman kelapa dewasa. Dinas Perkebunan Propinsi Sulawesi Utara, me-laporkan bahwa pada tahun 2006 penyakit BPK telah me-nyerang 36.709 pohon kelapa di antara tanaman kelapa se-luas 1.502 ha, dan pada tahun 2008 ini luas serangan pe-nyakit BPK menjadi sekitar 5000 ha dan telah tersebar di berbagai kecamatan, di Mina-hasa Selatan, Minahasa Induk, Tomohon, Minahasa Tenggara dan Minahasa Utara. Tanpa pengendalian dan pencegahan yang cepat dan tepat terhadap penyakit BPK akan dapat meng-akibatkan hancurnya industri kelapa di Sulawesi Utara.
Strategi Pencegahan dan Pengendalian
Dalam menetapkan suatu strategi pencegahan dan pengen-dalian maka kita harus menge-tahui, mengenal dan memaha-mi penyebab utama penyakit (jenis patogen), cara patogen menginfeksi tanaman, gejala se-rangan, serta cara patogen me-nyebar dari satu tanaman ke ta-naman lainnya sehingga pada akhirnya patogen ini menimbul-kan kerusakan yang luas pada suatu daerah.
Penyakit BPK, bukanlah ha-ma atau virus tapi disebabkan oleh cendawan (jamur) yang di-sebut Phytophthora palmivora. Jamur ini memperbanyak me-lalui pembentukan spora yang berukuran sangat kecil (ham-pir tidak dapat dilihat dengan mata) dalam jumlah yang sa-ngat besar. Spora-spora ini da-pat hidup bertahan selama ber-tahun-tahun dalam tanah dan dapat diterbangkan oleh angin, atau dipindahkan melalui arus air/ hujan atau melalui hewan seperti kumbang kelapa (lo-gong). Spora-spora jamur pato-gen menginfeksi tanaman kela-pa melalui luka atau goresan yang terdapat pada bagian pu-cuk kelapa. Tanaman kelapa yang telah terinfeksi oleh jamur akan ditandai dengan gejala awal di mana daun muda ber-ubah warna menjadi pucat, ke-mudian layu dan patah (stadi-um 1) dan bagian pucuk kelapa menjadi busuk akibat infeksi sekunder oleh bakteri. Selanjut-nya dalam waktu 2 – 3 bulan setelah terlihat gejala awal, 5 – 8 pelepah daun termuda akan patah dan mengering. Pelepah daun yang lebih tua tetap ber-warna hijau (segar) dan buah yang ada pada pelepah daun tersebut dapat bertahan sampai panen (stadium 2). Pada akhir-nya seluruh bagian daun kelapa mengering dan yang tertinggal adalah tunggul (stadium 3 atau lanjut). Bila tajuk tanaman (ba-tang) kelapa yang terserang di-belah vertikal dari arah titik tumbuh sampai ke pelepah daun yang sehat akan terlihat gejala nekrosis atau bintik-bin-tik dan pembusukan berwarna coklat keabu-abuan, berlendir dan berbau menyengat.
Tanaman kelapa yang telah terserang (gejala awal) harus se-gera ditebang dan dimusnahkan untuk mencegah penyebaran patogen ini ke tanaman kelapa yang belum terinfeksi.(bersambung)
|
|