|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
23 Februari 2008
|
|
Amerika: Ini tidak bisa ditolerir lagi
Penentang Kemerdekaan Kosovo Bakar Kedubes AS
|
Demonstrasi ribuan pengun-juk rasa di ibu kota Serbia, Beograd, menentang kemer-dekaan Kosovo, berbuntut pa-da aksi brutal. Sejumlah ke-dutaan besar yang mendu-kung kemerdekaan Kosovo, didatangi dan jadi sasaran amuk massa.
Malah massa dilaporkan te-lah menyerbu dan membakar Kedubes AS yang terletak di jalan utama Kneza Milosa. Ke-dubes Kroasia juga menjadi sasaran penyerangan. Semen-tara segerombolan orang yang jumlahnya lebih sedikit me-nyerang pos polisi yang ber-ada di luar Kedubes Turki dan Inggris. Tetapi aparat berhasil menghalau mereka sebelum melakukan perusakan lebih jauh.
Serangan itu terjadi setelah sekitar 150.000 warga Serbia memadati jalan-jalan Beograd untuk memprotes kemer-dekaan Kosovo. Massa pe-ngunjuk rasa menerobos pa-gar-pagar Kedubes AS dan menyulut api di sebuah rua-ngan. Kepolisian yang ber-usaha menghalau mereka ti-dak mampu menghadapi ribuan orang yang merangsek ke dalam areal kedubes. Bah-kan polisi pun bertikai dengan pengunjuk rasa.
Sejumlah penyerang yang mengenakan penutup kepala dan wajah menerobos kom-pleks Kedubes AS yang saat itu ditutup dan para staf sudah di-ungsikan. Penyerang berusaha melempar perangkat furnitur di dalam sebuah ruang kantor lalu menyalakan api yang ke-mudian membubung ke luar gedung.
Polisi tambahan baru muncul 45 menit kemudian, demikian pula pemadam kebakaran. Setibanya di sana polisi menge-pung areal itu dan memblo-kadenya. Massa di jalan-jalan membakar bendera AS dan menjarah toko-toko. Pihak ke-dubes menyatakan ada mayat terpanggang di dalam ke-dubes. “Mayat itu berada di ba-gian ruangan yang dibakar massa pengunjuk rasa,” ung-kap Juru Bicara Kedubes, Rian Harris. Pink TV di Beograd me-mastikan yang tewas adalah pengunjuk rasa.
Juru Bicara Gedung Putih, Dana Perino di pesawat ke-presidenan Air Force One, mengecam keras penyerangan itu dan Pemerintah Serbia. Ia menyebut bahwa Kedubes AS diserang oleh para preman dan kepolisian tidak berbuat mak-simal untuk mencegah mereka.
AS menyatakan tidak terima atas kejadian itu. Secara resmi, pemerintah AS mengajukan komplain atas insiden tersebut dan menyebutnya tidak dapat ditoleransi. “Pesannya sangat jelas, situasinya tidak dapat ditoleransi. Mereka (peme-rintah Serbia) harus bertindak cepat untuk mengerahkan pa-sukan keamanan sehingga kompleks kedubes dan warga negara kita tidak diserang,” kata diplomat dari Departemen Dalam Negeri AS Nicholas Burns seperti dilansir AFP, Jumat (22/02).
Jubir Depdagri AS, Sean McCormack mengatakan, Burns sudah memanggil PM Serbia Vojislav Kostunica dan Menlunya Vuk Jeremic untuk dimintai penjelasan. Namun belum diketahui hasil perte-muan itu.
JJM
Pada bagian lain, Anggota Komisi I DPR RI, Jeffrey Joha-nes Massie (JJM) yang sedang berada di Inggris, mendesak agar Pemerintah RI segera me-ngaku kemerdekaan Kosovo yang sudah dideklarasi 17 Februari lalu. JJM mengaku heran, Indonesia yang meru-pakan negara dengan populasi terbesar Muslim moderat, belum mau mengakui Kosovo yang juga negara dengan mayoritas penduduk Muslim moderat.
“Kosovo juga sudah me-mimpikan lama untuk bebas dari ketidakadilan dan dis-kriminasi,’’ sambung JJM. Se-nada disampaikan Sekretaris F-PG DPR RI, Hajriyanto Tho-hari bahwa tidak ada alasan Indonesia belum mengakui kemerdekaan Kosovo. ‘’Dasar kita mengakui kemerdekaan Kosovo adalah pembukaan UUD 1945,’’ tandasnya.
Secara terpisah, Menlu Has-san Wirajuda mengatakan, pe-merintah tidak akan terburu-buru mengeluarkan pernya-taan mengakui kemerdekaan Kosovo karena akan melihat perkembangan dari kondisi negara pecahan Serbia itu. “Tidak ada keperluan untuk tergesa-gesa baik bagi In-donesia atau negara lain dalam memberi pengakuan pada kemerdekaan Kosovo,” kata Menlu di Jakarta, Kamis (21/02) lalu.
Menurut Menlu, pernyataan tidak perlu tergesa-gesa ini jangan diartikan bahwa Pe-merintah Indonesia menutup peluang untuk mengakui ke-merdekaan Kosovo, karena pemerintah akan melihat Ko-sovo berdasarkan pengalaman dari lepasnya negara-negara bagian Yugoslavia lain seperti Slovenia, Bosnia, Kroasia dan Montenegro.
“Kita melihat apakah per-nyataan kemerdekaan itu akan menyelesaikan masalah, khu-susnya mengenai ketegangan atau konflik yang diharapkan tidak terjadi. Sejak awal kita mendorong penyelesaian ka-sus Kosovo dilakukan secara dialog dan negosiasi. Kita tidak inginkan ada konflik lain,” ka-tanya.
Menlu juga mengatakan bahwa tidak ada batasan wak-tu untuk mengakui kemer-dekaan Kosovo karena peme-rintah akan melihat sejauh mana kemerdekaan Kosovo menjamin penyelesaian konflik negara itu.(spc/rik/*)
|
|