HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

23 Februari 2008

Memasak dengan gas tinja dari MCK
Limbah WC Dijadikan Kompor


MINYAK tanah makin lang-ka. Berbagai solusi pengganti minyak tanah pun diupaya-kan, termasuk menggunakan bahan dari tinja manusia yang dijadikan gas. Ihhh jo-rok! Tapi faktanya memang begitu. Lihat saja artikel ber-judul ‘’Dari Perut Kembali ke Perut’’ yang dimuat dalam ga-tra.co.id. Berikut tulisannya. 
Namanya “MCK++” (Mandi/Cuci/Kakus Plus-plus). Inilah fasilitas paling mewah di seluruh Jalan Petojo Binatu I, Kelurahan Petojo Utara, Ke-camatan Gambir, Jakarta Pu-sat. Betapa tidak, diban-dingkan dengan rumah-ru-mah petak sempit di sekitar-nya, bangunan MCK itu me-mang tampak lebih mente-reng. Seluruh lantai bangu-nan dilapisi keramik dengan cat biru cerah. Ada Micky Tikus dan Donal Bebek segala mejeng di dinding.
Di sanalah 80 kepala keluar-ga warga Petojo bebas dan nyaman melepaskan hajat. MCK++ memang bukan sem-barang tempat mandi-cuci-kakus biasa. Ada embel-embel “plus-plus”, karena MCK ini punya 11 kamar yang terdiri dari enam toilet, empat kamar mandi, serta satu kamar mandi ibu dan anak. Kamar mandi yang terakhir itu me-mang khusus. “Soalnya, itu satu-satunya yang ada sho-wer-nya. Jadi, enak buat man-diin anak kecil,” kata Yuyun, 43 tahun, seorang ibu rumah tangga yang rumahnya hanya berjarak lima meter dari MCK++.
MCK++ seluas 125 meter persegi itu memang “mewah” karena dibiayai hibah murni USAID sebesar Rp 360 juta, April 2007. Limbah MCK++ ini pun tak digelontor begitu saja, melainkan disalurkan untuk diolah menjadi biogas. Ins-talasi biogas itu berupa se-buah kubah berdiameter 4,5 meter dan tinggi 1,75 meter. Kubah ini tertanam di depan toilet sehingga hanya tutup-nya yang terlihat. Dari kubah itu mencuat pipa paralon yang berakhir pada kompor yang terletak di ruangan pos-yandu.
“MCK++ itu menggunakan sistem DEWATS atau decen-tralized waste water treatment system,” tutur Irwansyah, Ketua RW 08 Petojo yang menjadi penanggung jawab MCK. Ringkasnya, limbah yang dipisah menjadi limbah cair (urine, air bekas mandi dan cuci) dan padat (tinja). Limbah cair masuk ke insta-lasi yang disebut baffled reac-tor, yang berada persis di ba-wah kamar mandi dan diba-ngun bersekat-sekat seluas seluas 9 x 4 meter. Di sanalah limbah cair diproses dan dibuang ke Sungai Krukut, yang mengalir persis di sam-ping MCK. “Limbah itu sudah tidak mengandung bakteri E coli yang membahayakan ke-sehatan,” kata Irwansyah.
Jika limbah cair dibuang, limbah padatnya dimasukkan ke instalasi kubah tadi. Sete-lah mengalami pengendapan dan pengolahan, tinja akan menghasilkan beberapa un-sur biogas, terutama gas me-tan yang dapat dijadikan ba-han bakar. Memang, semen-tara ini, biogas itu belum da-pat disalurkan ke perumahan warga. Soalnya, pasokan ba-han bakunya belum cukup. “Katanya sih, masih belum bisa disalurin ke rumah-rumah. Sebab pipanya harus panjang dan gasnya masih belum memenuhi kapasitas maksimal,” kata Yuyun. Se-mentara ini, kompor biogas hanya bisa dipakai ramai-ramai di posyandu.
Toh, menurut Yuyun, masa-lah itu tak mengganggu an-tusias warga. Yuyun sering memasak air untuk mereka yang bekerja bakti mem-bersihkan MCK++. “Sudah pernah coba pisang goreng rasa ‘t’?” tanya Yuyun sembari tertawa. Apa yang dimaksud dengan “t”, tak usah dibahas. Tapi Yuyun hanya bergurau. Makanan apa pun yang dima-sak dengan kompor biogas tak berbau limbah. Buktinya, kalau ada acara posyandu, para balita sering mendapat bonus pisang goreng.
Tak hanya Petojo yang me-miliki fasilitas “plus-plus”. Hampir tiap sore, para santri Yayasan Pondok Pesantren SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamo-ngan, Jawa Timur, meman-faatkan kompor biogas mere-ka untuk memasak air atau menggoreng mi. Bahan bakar-nya, ya, limbah WC dari 450 santri yang ada. “Idul Kurban kemarin, kami malah memba-kar sate dengan biogas tinja ini. Enak dan sama sekali tidak bau busuk,” kata Gus Hafid, Direktur SPMAA.
Biogas tinja milik SPMAA itu bisa bekerja dua jam terus-menerus tanpa mati. “Kalau masih mau dipakai, dimati-kan dulu 5-10 menit supaya gas kembali terkumpul,” ujar Gus Adhim, Kepala Data dan Infomasi SPMAA. Gagasan membuat biogas untuk pe-santren itu timbul ketika Gus Hafid dan Adhim menjadi re-lawan korban tsunami di Aceh, 2004. Di sana, kakak beradik itu mendirikan lem-baga pendidikan bagi anak-anak korban tsunami. Ketika itulah mereka bertemu de-ngan Kelompok Tani Thoyyi-bah yang berasal dari Sala-tiga, Jawa Tengah. Nah, “Ka-wan-kawan dari Salatiga ini-lah yang memberikan ide un-tuk membuat biogas dari tinja sapi di Aceh,” kata Gus Hafid.
Ketika kembali ke kampung halaman pada 2006, Gus Hafid berniat menerapkan gagasan biogas tinja itu. Hanya saja, bahan bakunya tidak berasal dari sapi, melainkan dari para santri. Maklum saja, SPMAA selalu kerepotan mengurus limbah 450 santri. Soalnya, “Tiga sampai empat bulan sekali kami harus panggil tukang sedot WC karena telah penuh tinja,” katanya.(gtr/*)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin