|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Pendidikan dan Budaya |
25 Februari 2008
|
|
Relokasi
Kampus Unsrat Ditanggapi Beragam
|
Wacana relokasi kampus ke Minut mendapat tanggapan beragam dari sejumlah civitas akademika Unsrat. Sebagaimana dikemukakan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Prof Alex Masengi dan Dekan Fakultas Pertanian Prof Dantje Sembel pekan lalu, sebaiknya yang akan dilakukan adalah pengembangan kampus saja. Mengingat saat ini di lokasi Kampus Unsrat sudah terdapat sejumlah fasilitas pendukung baik gedung maupun laboratorium yang memadai.
“Menurut pendapat saya, sebaiknya yang dilakukan adalah pengembangan kampus, dan bukan pemindahan keseluruhan. Sebab bangunan yang ada sekarang akan menjadi mubazir. Seperti FPIK yang juga mempunyai laboratorium di Likupang,” katanya. Senada dikemukakan Sembel yang dikonfirmasi terpisah, menurutnya kalaupun memang ada dana yang disiapkan untuk pengembangan kampus Unsrat. Sebaiknya digunakan untuk perbaikan atau peningkatan sarana yang ada.
“Misalnya saja pengisian alat laboratorium yang sudah kosong. Sebab untuk pemindahan kampus memerlukan biaya yang tidak sedikit. Disamping itu akan diapakan bangunan yang ada sekarang?. Jadi menurut saya, biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan di lokasi sekarang akan jauh lebih sedikit daripada pemindahan ke lokasi yang baru,” tandas Sembel.
Apalagi menurutnya, lokasi kampus saat ini terbilang sangat strategis. Meskipun diakuinya masih perlu dilakukan pembenahan untuk menata agar suasana perkuliahan jauh lebih baik. “Misalnya penataan arus lalu lintas dengan pembangunan jalan lingkar kampus yang sudah sejak lama diwacanakan. Juga dengan menertibkan bangunan liar yang di lokasi kampus,” imbuhnya.
Sedangkan Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Unsrat, Ir Moodi Rondonuwu MT, menyatakan dirinya menyambut baik rencana ini. Pasalnya kampus yang ada sekarang sudah tidak representatif lagi. “Saya berpendapat wacana ini harus segera direspon bahkan di follow up pihak Unsrat. Dengan langsung berkomunikasi dan berkoodinasi dengan pihak terkait,” tutur Rondonuwu.
Hanya saja untuk lokasi menurutnya harus ditentukan setelah melakukan feasibility study dengan melibatkan pihak terkait. “Unsrat kan punya pakar di berbagai bidang. Disamping itu, isu ini perlu digulirkan juga ke masyarakat untuk direspon. Sebab Unsrat adalah kebanggaan masyarakat Sulut,” sarannya.
Senada juga disampaikan salah satu Dosen Fakultas Ekonomi (Fekon), Richard Tumilaar SE MSi. “Semuanya harus melalui kajian yang matang. dan Juga apakah ada persetujuan dari Pemprop Sulut dan diimbangi dengan tersedianya dana yang besar dari pemerintah. Disamping itu harus ada persetujuan dari masyarakat karena Unsrat merupakan wadah pelayanan publik pemerintah kepada masyarakat,” ujar Ketua Dewan Pengupahan Propinsi Sulut ini.(tr-04)
|
|