|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Mimbar dan Keagamaan
|
25 Februari 2008
|
Hari Raya Nyepi Peringatan Tahun Saka
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulut, Ir Suryono MT yang didampingi Sekretarisnya Drs Ida Alit, Sabtu (23/02) mengatakan, Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa.
Menurut dia, pengertian Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru saka yang jatuh pada penanggal apisan sasih Kedasa (eka sukla paksa Waisak) sehari setelah tilem Kesanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra).
“Hakekat, penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/ keindahan).
Sementara itu rangkaian hari raya Nyepi seperti yang ditulis situs babadbali.com, Melasti disebut juga melis atau mekiyis bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber/ mata air yang disucikan. Bagi pura yang memiliki pratima atau pralingga seyogyanya mengusungnya ke tempat patirtan tersebut di atas. Pelaksanaan secara ini dapat dilakukan beberapa hari sebelum tawur.
Sedangkan upacara Tawur bertujuan untuk menyucikan dan mengembalikan keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit baik sekala maupun niskala. Upacara ini dilakukan pada sandikala (pagi, tengah hari, sore). Tilem Caitra, sehari sebelum hari raya
Kegiatan dalam menyambut Hari Raya Nyepi ini ada dua macam yaitu, sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem) melaksanakan upacara Bhuta Yadnya (mecaru). Dan kedua, pada hari raya Nyepi yaitu awal tahun baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa dilaksanakan upacara Yoga Samadhi.
Ada empat berata pantangan yang wajib diikuti pada saat hari raya Nyepi, disebut Catur Berata Penyepian, yaitu Amati Geni berpantang menyalakan api, Amati Karya menghentikan aktivitas kerja, Amati Lelanguan berpantang menghibur diri / menghentikan kesenangan, dan Amati Lelungan berpantang bepergian
Dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini kita mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta. Keesokan harinya yaitu hari raya Ngembak Geni, segenap isi rumah keluar pekarangan dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.(lex)
Donor Darah Bakal Awali Rangkaian Nyepi
HARI Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930 icaka Warsa tahun ini, jatuh pada, 7 Maret 2007. Dimana, seperti Juga tahun-tahun sebelumnya, menyambut perayaan Nyepi, Umat Hindu yang ada di Manado melakukan berbagai kegiatan, diantaranya kegiatan donor darah.
Hal ini diungkapkan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulut, Ir Suryono MT belum lama ini. Kegiatan lain, seperti kerja bakti. Kegiatan lain melakukan persembahyangan di pantai, atau yang biasa disebut melasti, yaitu mensucikan jasmani dan rohani di sumber-sumber air (laut). “Untuk itu, kegiatan sembahyang ini dilaksanakan di pantai,” jelasnya.
Kemudian, upacara Tawur Agung Kesanga, yaitu membayar hutang kepada lingkungan. Sebab selalu diambil hasilnya. Entah dalam bentuk buah, sayur, padi maupun lainnya. Disamping itu umat Hindu juga menjalankan puasa selama 24 jam.
Dimana puasa ini biasa disebut puasa mati geni dan mati lelungan (tidak melakukan bepergian). Dan juga mati lelanguan diambil dari bahasa jawa , yaitu lungo (pergi). Ia mengatakan, kata mati geni sendiri memiliki arti menahan dari godaan dalam bentuk apapun, baik makan, minum. “Intinya hal-hal yang bisa membatalkan puasa,” ucapnya.(aan)
|
|