|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Sanger dan Talaud |
26 Februari 2008
|
Logo Sitaro Diperdebatkan
Sidang paripurna penyam-paian Rencana Peraturan Daerah (Ranperda) soal logo Pemerintah Kabupaten Sitaro, yang disampaikan eksekutif, Senin (25/2) kemarin, me-ngundang perdebatan mena-rik. Buktinya, sejumlah legis-lator langsung memberikan interupsi saat mendengar ran-perda tersebut.
Kalangan legislator mende-sak logo Sitaro yang disayem-barakan beberapa waktu lalu itu, harus benar-benar mewa-kili semua unsur dan elemen yang ada di Sitaro. “Geografis serta potensi daerah yang kini melekat dalam kehidupan masyarakat harus benar-be-nar dimasukan, sebagai logo yang mencerminkan kekua-tan masyarakat dalam mena-tap pembangunan,” tukas anggota Dekab Sitaro PH Sa-hambangun.
Sekdakab Sitaro Drs Jupiter Makasangkil langsung me-nanggapi. “Lambang daerah merupakan abstraksi yang lengkap tentang keseluruhan karakter yang melekat dan menjadi keutuhan yang tidak terpisahkan dari totalitas ke-beradaan sebuah daerah yang mewakili semua unsur yang terbentuk dalam masyara-kat,” jelas Makasangkil.(med)
Jadi sarang nyamuk
Drainase di Jalan Tatehe Memprihatinkan
Keluhan masyarakat Tahu-na terhadap drainase yang kini jadi kubangan air tam-paknya belum dapat jawaban serius pemerintah daerah. Pa-salnya meski sempat terang-kat kepermukaan, namun upaya untuk menetralisir ku-bangan air yang kini meng-hiasi drainase di sepanjang jalur jalan Tatehe wilayah Ke-lurahan Apeng Sambeka me-nuju Bungalawang.
“Kami minta pimpinan dae-rah turun langsung ke lapa-ngan untuk melihat betapa bo-broknya proyek drainase Apes yang seharusnya dibangun untuk memperlancar pembua-ngan air, bukan justru jadi ko-lam yang kini diperkirakan sudah jadi tempat berkembang biak nyamuk demam berda-rah,” tutur warga Apes, Steven Tataung. Tataung mengemu-kakan pembangunan drainase yang disiasati disepanjang jalur Kelurahan Apengsembeka asal saja dibangun.
“Pokoknya proyek yang di-bangun di kelurahan kami sangat memprihatinkan dan ini perlu perhatikan untuk se-gera diperbaiki kekuarangan-nya,” imbuhnya.(med)
Talud di Desa Arangkaa Mendesak Dibangun
Salah satu desa di Kabupa-ten Talaud yakni Desa Arang-kaa yang terletak di Kecama-tan Geme rawan terjadi abra-si. Karena itu, menurut pe-merhati lingkungan Talaud Ir Samsu Tawoeda, dibutuhkan perhatian pemerintah guna mengantisipasi hal terburuk tersebut dengan membangun talud penahan ombak. “Desa Arangkaa di Kecamatan Geme semakin memprihatikan. Ka-lau hal ini tak secepatnya di-tangani beberapa tahun ke depan bisa mengacam desa tersebut,” kata Tawoeda.
Lanjut kata dia, hempasan gelombang yang cukup serius, dengan kondisi abrasi sudah berada di pinggiran jalan de-sa, diharapkan agar dengan situasi yang ada segera dianti-sipasi dengan cara dibuat tanggul pengaman.(est)
Jembatan Permanen
Belum Juga Dibangun
Warga Kolongan dan sekitarnya hingga kini masih saja terisolir. Bukan apa-apa, sebab jembatan darurat sampai saat ini belum dibangun secara permanen sehingga mengganggu transportasi menuju Tahuna.
Pantauan harian ini kemarin (25/02), jembatan darurat yang disiasati untuk mempermudah kendaraan berbagai jenis untuk lewat sering ambruk, mengingat derasnya air sungai yang sewak-tu-waktu datang. “So bekeng depe jembatan, tapi saat air meluap tak jarang jembatan terbawa arus dan warga Kolongan semakin terganggu melaksanakan aktivitas keseharian,” tutur warga Kolongan, Melky Hontomore yang mengaku sulit meloloskan kendaraan untuk menyeberang tatkala air sedang meluap.(med)
|
|