HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

28 Februari 2008

Pilcarek ulang picu demo mahasiswa dan dosen FH
Mahasiswa Perang Batu di Kampus Unsrat

 
Berita penolakan Mendik-nas terhadap hasil Pilcarek (Pemilihan Calon Rektor) Unsrat, memicu aksi demo di kalangan mahasiswa dan dosen dari Fakultas Hukum (FH), Rabu (27/02) kemarin. Mereka menolak pemilihan ulang yang praktis mengor-bankan Dekan Fakultas Hu-kum, Prof Dr Donald Rumo-koy yang telah terpilih de-ngan suara terbanyak dalam Pilcarek November 2007 lalu. 

Berdasarkan pantauan ha-rian ini, sekitar pukul 10.00 Wita pagi kemarin, massa yang terdiri dari gabungan mahasiswa, dosen, staf tata usaha FH, menggelar aksi un-jukrasa di seputaran fakultas. Mereka secara tegas menolak diadakan pemilihan ulang calon rektor karena kepu-tusan ini diduga direkayasa.
Penjabat Rektor Prof Dr LW Sondakh MEc menjadi titik sasaran kekesalan. Sondakh dicap telah memperlambat pro-ses pelantikan rektor yang ba-ru, sehingga ujung-ujungnya ada keputusan yang mengha-ruskan pilcarek harus diulang. ‘’Penjabat rektor harus segera turun,’’ teriak pengunjukrasa seraya menolak adanya inter-vensi dari luar. 
Tak puas aksi cuma di sepu-taran fakultas, massa kemu-dian bergerak menuju rektorat Unsrat (Kantor Pusat). Mereka sempat memblokir jalan dan membakar ban. Bahkan ben-dera di kantor pusat, diturun-kan sampai setengah tiang, menandakan matinya demo-krasi kampus. “Kami meminta Sondakh segera turun, jangan korbankan dekan kami (Ru-mokoy, red),” koar mereka. 
Disayangkan aksi ini kemu-dian membias. Saat melewati ja-lan depan Fakultas Teknik (Fa-tek), massa dari FH ini ber-singgungan dengan sejumlah mahasiswa teknik. Bermula dari kesalahpahaman ini dan di-picu adanya oknum mahasiswa yang memanasi suasana, se-hingga terjadi pelemparan batu.
Gedung fakultas teknik pun hujan batu diserang. Buntut-nya, tiga mahasiswa Fatek dan satu pihak keamanan dikabar-kan dilarikan ke rumah sakit. Sejumlah mobil juga rusak di-timpuk batu. Di antaranya mobil dinas Dekan Fakultas Teknik. Mahasiswa Teknik pun tidak tinggal diam. Mere-ka membalas. 
Untunglah aksi menjurus tawuran dua kelompok maha-siswa bisa diredakan oleh pi-hak keamanan. Namun tawu-ran sempat berulang sekitar pukul 16.00 Wita, di saat pi-hak kepolisian lengah dan ke-mudian ditenangkan kembali. Dekan Fakultas Teknik Prof Dr Ellen Kumaat DEA memin-ta semua pihak bisa menahan diri dan tidak terpancing atas peristiwa ini, serta tidak mem-besar-besarkannya. 
Sementara Dosen FH, Toar Palilingan SH mengatakan, akan segera mengupayakan perdamaian dengan fakultas teknik terkait insiden kema-rin. ‘’Kalau perlu kami mela-kukan kunjungan kekeluar-gaan ke fatek,’’ katanya.
Menurut Toar, agenda pro-tes dan kekesalan pihaknya pada rektor dan bukannya ke pihak lain atau fakultas tek-nik. PD3 FH, Tonny Rompis SH menambahkan, aksi de-monstrasi pihaknya merupa-kan gerakan spontan dari fa-kultas setelah mendengar ka-bar tentang pilrek yang akan diulang kembali. 
Pasalnya, menurut dia, sukse-si rektor sudah dilaksanakan secara jurdil dan terbuka, tapi kenapa pilrek harus diulang kembali. Hal inilah yang memi-cu civitas akademika FH berge-rak menunjukkan sikap. “Ini ba-ru pemanasan,” ucap Rompis. 
Sementara itu, dari Jakarta, Anggota Komisi X DPR RI, Wa-yan Koster menilai, jika me-mang ada cacat hukum ter-kait keanggotaan senat yang melakukan pemilihan, sudah sepantasnya Mendiknas me-nolak Pilcarek Unsrat. “Kare-na usulan rektor cacat
Hukum, harus ditolak Men-diknas. Seharusnya persyara-tan yang diatur dalam UU di-penuhi,” katanya kepada Ko-mentar di Jakarta, kemarin (27/02). 
Wayan mengimbau, terha-dap masalah ini, tidak ada yang perlu dijadikan kambing hitam. “Jangan ada yang sa-ling menyalahkan satu de-ngan lainnya. Sebaiknnya ke-tentuan yang ada dipatuhi,” tukasnya seraya mengingat-kan, panitia pemilihan men-cermati ketentuan yang ada. 
Anggota komisi X lainnya, Musfihin Dahlan juga mendu-kung sikap Mendiknas. “Peno-lakan itu sudah tepat,” tan-dasnya seraya mengatakan, persoalan tersebut tidak bisa dibebankan ke pejabat rektor. Sebab sudah seharusnya, sejak awal tim penjaringan dan panitia selektif terhadap persyaratan dan ketentuan yang ada.(mes/zal) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin