|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
28 Februari 2008
|
|
Ekstasi 60 M Dikendalikan WNI di Belanda
|
Polisi menggrebek sebuah ruko di Kompleks Mutiara, Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat yang dijadikan ‘pabrik’ penyimpanan ekstasi. 5 orang WNA dan 1 WNI dite-tapkan sebagai tersangka. “Kita mengamankan 6 ter-sangka, 3 dari Taiwan, 1 dari Singapura, 1 Belanda dan 1 Indonesia,” kata Kapolda Me-tro Jaya Irjen Pol Adang Fir-man di kantornya, Jalan Ga-tot Subroto, Jakarta, Rabu (27/02) kemarin.
Keenam orang itu adalah Siegfried Mets (Belanda), Ong Tiong Yoh (Singapura), Chen Hoa Yi (Taiwan), Tzu Chiang (Taiwan), Li Hao Yi (Taiwan), dan Alexander (Indonesia). Adang mengatakan jumlah ekstasi yang ditemukan dalam penggeledahan itu sebanyak 600 ribu butir atau senilai Rp 60 miliar. Butiran ekstasi berwarna kuning dan hijau itu dibawa dengan enam koper berwarna biru.
Sementara itu menurut se-orang sumber, ekstasi-eks-tasi tersebut diperkirakan didatangkan dari Belanda melalui udara. Untuk menge-coh petugas di bandara, ekstasi tersebut dimasukkan ke dalam panel listrik.
Sumber tersebut juga me-ngatakan, ekstasi yang saat ini disita polisi tersebut ter-masuk kualitas bagus. “Bia-sanya ekstasi ini dioplos lagi. Satu ekstasi bisa jadi empat butir,” ujarnya.
Terungkap bahwa bisnis haram ini dikendalikan war-ga negara Indonesia (WNI) di Belanda. “Mereka pada nye-tor ke dia, kemudian dia yang mengatur pengirimannya,” tutur seorang penyidik di Di-rektorat Narkoba Polda Metro Jaya yang enggan disebut identitasnya.
Menurutnya, bos peredaran ekstasi itu disebut Boncel. Barang haram tersebut diter-bangkan dari Belanda de-ngan disembunyikan di pa-nel-panel listrik. “Ekstasi yang dibawa dari sana kua-litasnya nomor satu,” imbuh-nya seperti dilansir detik. com. Selain Boncel, menurut sumber itu ada dua orang WNI lain bernama Afon dan Natali yang terlibat.
Sementara Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Arman Depari menyatakan un-tuk mengungkap jaringan ini, Polda Metro Jaya akan ber-koordinasi dengan Interpol untuk menangkap Boncel. “Kita akan koordinasi dengan Interpol,” katanya.(dtc/*)
|
|