|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
29 Februari 2008
|
|
Fatek akhirnya liburkan para mahasiswanya
Usai Damai, Pecah ‘Perang Batu’ Lagi
|
Situasi kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), kembali mencekam. Setelah sehari sebelumnya (Rabu la-lu) terjadi aksi tawuran yang menjurus perang batu antar- mahasiswa Fakultas Hukum (FH) dan Teknik (Fatek), kini kejadian serupa terulang kembali, Kamis (28/02) sore kemarin.
Ironisnya, sebelum perang batu terjadi kemarin, pada pagi harinya sejumlah perwa-kilan mahasiswa FH dan Fatek telah sepakat untuk berdamai. Didampingi kalangan dosen, mereka berjanji untuk tidak mengulangi aksi tawuran Ra-bu lalu.
Tapi ‘perjanjian damai’ itu hanya bertahan sekitar 7 jam lamanya. Diduga akibat disu-lut tindakan sejumlah oknum mahasiswa, ditambah sedikit lengahnya penjagaan aparat kepolisian, sehingga tawuran antara sejumlah mahasiswa FH dan Fatek pecah lagi.
Berdasarkan pantauan Ko-mentar, Kamis (28/02) sekitar pukul 10.00 pagi kemarin, massa yang merupakan gabu-ngan dari civitas akademika Unsrat, baik mahasiswa, dosen dan staf tata usaha ber-gerak dari halaman fakultas menuju kantor pusat. Aksi de-monstrasi yang berlangsung damai itu, mendapat kawalan dari sejumlah pihak kepoli-sian. Massa pun berjalan sam-bil menyanyikan mars kampus merah tersebut.
Melewati kampus biru (Fa-kultas Teknik, Red), mereka berhenti sejenak sambil me-neriakkan salam damai. “Kami dari civitas akademika hukum Unsrat menyatakan kata da-mai, tidak ada gunanya ta-wuran karena kita semua merupakan satu keluarga Un-srat, karena musuh kami bukan Fakultas Teknik tapi pejabat rektor Unsrat,” teriak Ketua BPM Fakultas Hukum yang disambut dengan nya-nyian alangkah bahagianya hidup rukun dan damai oleh massa dari civitas hukum Un-srat sambil mengatakan salam damai ‘’peace’’.
Aksi damai pun ditunjukkan dengan saling berjabat tangan yang diperlihatkan oleh Prof Ellen Kumaat dan Toar Palili-ngan bersama Janly Tucunan dan Fernando Karel sebagai ketua senat mahasiswa kedua fakultas tersebut. Selanjutnya, massa dari Fakultas Hukum bergerak melanjutkan aksi demonstrasi ke gedung Rek-torat Unsrat.
Di sana, mereka menuntut bertemu dengan Penjabat Rektor Unsrat, Prof Dr LW Sondakh. Namun permintaan itu tak terkabulkan, sehingga massa pun sempat menerobos masuk keruangan rektorat, namun berhasil digagalkan pihak kepolisian.
“Kami meminta agar Son-dakh bisa berdialog dengan kami, kalau tidak kami akan kembali lagi besok, lusa dan seterusnya,” ucap Tucunan yang diaminkan Tonny Rompis SH, PD3 Hukum dan Toar Palilingan, Dosen Hukum. Melihat aksi massa yang semakin panas, PR3, Ir Bonny Sondakh pun turun dan ber-dialog dengan mereka. “Saya mendukung, sikap Anda, tapi tolong jangan anarkis, sebab Unsrat ini rumah kita,” harap Sondakh.
Akhirnya massa pun kembali ke fakultas mereka (Fakultas Hukum, red) sambil melewati gedung pascasarjana. Di sana mereka menurunkan bendera hingga setengah tiang, pertan-da matinya demokrasi di Un-srat, selanjutnya massa me-lewati fakultas sastra dan aksi demo berakhir di fakultas hu-kum.
Sejumlah aparat kepolisian yang berjaga di kampus juga, sempat kembali ke ‘markas’-nya karena kondisi yang su-dah mulai kondusif. Apalagi, masing-masing perwakilan sudah menjamin tidak akan ada lagi insiden perang batu lagi.
Namun entah mengapa dan disulut oleh apa, sekitar pukul 16.00 Wita, puluhan maha-siswa FH bergerak dan sambil berteriak-teriak mendatangi gedung Fisip yang letaknya berdekatan dengan Fatek. Ke-datangan tiba-tiba dari maha-siswa FH sempat mengagetkan para mahasiswa dan dosen Fisip dan Fatek.
Bahkan sejumlah mahasiswa Fisip langsung berlari mencari tempat yang aman, sedangkan puluhan mahasiswa Fatek langsung merapatkan barisan di halaman depan fakultasnya. Tak pelak, dalam hitungan detik perang batu antara kedua kubu (mahasiswa FH dan Fatek) akhirnya kembali terjadi dengan jarak sekitar 15-20-an meter. Tawuran ini disertai teriakan-teriakan yang menambah dan membuat sua-sana di kampus Fisip dan Fa-ket mencekam.
Apalagi ditambah pekikan histeris dari para mahasiswi yang takut. Beruntung, pihak kampus langsung menelpon pihak Poltabes. Mendapat informasi tersebut, tim Pol-tabes di bawah pimpinan Ka-sat Reskrim Kompol RH Wi-bowo langsung terjun ke lo-kasi.
Setibanya di lokasi, aksi pe-rang batu masih terjadi dan sudah berlangsung sekitar 15 menit. Di tengah hujan batu yang dilontarkan kedua belah pihak, Wibowo dan Ka SPK Plug A Ipda Okky Ariano lang-sung masuk di tengah kedua kubu dan berupaya menghen-tikan aksi tersebut. Sesekali keduanya nyaris dilempari ba-tu oleh mahasiswa. Namun ak-si berani keduanya dan keha-diran puluhan personel Sa-mapta dan Lantas Poltabes, akhirnya berhasil meredam emosi kedua kubu. Sekitar pu-kul 16.45 Wita, suasana ak-hirnya berhasil diatasi.
Puluhan mahasiswa FH akhirnya kembali ke kampus-nya, sementara mahasiswa Fatek tetap berada di kampus-nya. Perang batu ini mengaki-batkan dua mahasiswa Fatek mengalami luka-luka akibat kena hantaman batu di bagian kepala. Kapoltabes Manado, Kombes Pol Drs bambang Su-geng SH MH bersama sejum-lah petinggi Poltabes juga mendatangi lokasi tersebut.
Setelah berbincang-bincang dengan kalangan Pembantu Rektor serta sejumlah maha-siswa, akhirnya kapoltabes bertemu langsung dengan Dekan Fatek Prof Ellen Ku-maat DEA. Dari pertemuan tersebut diputuskan mahasis-wa Fatek diliburkan hingga Senin (03/03) mendatang. Me-nariknya, keputusan ini sem-pat ditolak mahasiswa Fatek karena mereka takut aset fa-kultasnya dirusak. Namun setelah diberikan jaminan pe-ngamanan selama liburan dari Kabag Ops Poltabes Manado Kompol Sudjarwoko SH SIK, para mahasiswa akhirnya me-nerimanya.
Sementara itu, akibat perang batu tersebut, puluhan perso-nel gabungan kembali disiaga-kan di kampus Unsrat, khu-susnya di kedua fakultas ter-sebut. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kemung-kinan terburuk yang bakal terjadi. Keberadaan para per-sonel ini dipastikan akan ber-langsung beberapa hari ke de-pan selama para mahasiswa Fatek diliburkan.
DISESALKAN
Pada bagian lain, situasi yang terjadi di kampus Unsrat ini, sangat disesalkan sejum-lah kalangan. Mantan Pang-dam VII Wirabuana Mayjen TNI Arief Budi Sampurno ma-lah mengaku prihatin men-dengar kabar tawuran maha-siswa di Unsrat. “Sejak Kapan mahasiswa Manado pandai berkelahi di kampusnya?,” kata Sampurno heran lewat pesan singkat HP-nya yang diterima Komentar di Jakarta, kemarin (28/02).
Padahal, kata dia, Masya-rakat Manado itu terkenal ramah dan damai. “Manado yang ramah dan damai men-jadi hinggar-bingar oleh ma-hasiswa yang sedang unjuk keterampilan,” sindirnya. Bahkan dia menyesalkan per-kelahian tersebut dilakukan mahasiswa yang sedang me-nimba ilmu hukum. “Apalagi sebagai mahasiswa hukum yang mengerti hukum,” tukas-nya seraya menambahkan, agar mahasiswa jangan mu-dah terpancing.
“Insiden itu mencederai wa-jah Manado yang terkenal ra-mah dan aman. Saya kalau lagi pusing datang ke Manado karena suasananya aman dan tentram,” akunya menyesalkan tawuran mahasiswa yang ter-jadi di perguruan tinggi terna-ma di Sulut. Dia menyarankan agar semua pihak duduk ber-sama mengatasi persoalan ini.
Seperti diketahui, aksi ta-wuran ini sebenarnya hanya-lah bias dari demo yang digelar civitas akademika Fakultas Hukum Unsrat terkait infor-masi Pilcarek Unsrat bakal di-ulang karena hasilnya ditolak Mendiknas karena dianggap cacat hukum. Perlu diketahui, Dekan Fakultas Hukum Prof Dr Donald Rumokoy adalah kandidat yang meraih suara terbanyak dalam pilcarek.
Namun saat demo berlang-sung, tiba-tiba mahasiswa FH bersinggungan dengan maha-siswa Fakultas Teknik, yang kemudian bermuara pada aksi saling lempar.(imo/zal)
|
|