|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
29 Februari 2008
|
|
Orangtua mahasiswa mengadu
DPRD Agendakan Hearing Rektorat Unsrat
|
Polemik soal suksesi pemili-han rektor (Pilrek) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Ma-nado dan bias yang ditim-bulkannya, terutama perse-teruan mahasiswa Fakultas Hukum dan Teknik, diseriusi DPRD Sulut. Buktinya, Senin (03/03) mendatang, DPRD akan memanggil hearing pihak petinggi Rektorat Unsrat.
“Hearing ini merupakan tin-dak lanjut permintaan masya-rakat, khususnya para orang-tua mahasiswa terkait dengan masalah yang terjadi di Un-srat. Sebagai wakil rakyat dan khususnya yang duduk di ko-misi yang membidangi masa-lah pendidikan, kita akan menggelar hearing Senin nanti,” ujar Ketua Komisi D DPRD Sulut, James Karinda SH via ponsel, tadi (28/02) ma-lam.
Dikatakannya, saat ini, ba-nyak orangtua mahasiswa yang menghubungi para wakil rakyat, khususnya di Komisi D, menyatakan kekhawatiran mereka dengan kondisi yang terjadi di Unsrat. “Karena itu, dalam hearing nanti, kita akan minta penjelasan dari pihak rektorat, mengapa hal ini bisa terjadi, kemudian langkah-langkah apa yang akan di-tempuh,” paparnya.
Ditanya apakah hearing juga akan membahas soal dibatal-kannya proses penjaringan rektor yang digelar Unsrat, Karinda mengatakan, pada prinsipnya, pihaknya tak ingin mengintervensi kewenangan pemerintah pusat, dalam hal ini Mendiknas. “Namun Kalau-pun akhirnya hal tersebut me-ngemuka, sekali lagi kita ha-nya ingin meminta penjelasan rektorat, langkah apa yang akan mereka tempuh menyi-kapi hal ini, sekaligus memberi kepastian dan ketenangan ba-gi mahasiswa dan orangtua mahasiswa,” terangnya.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi A DPRD Sulut, Jemmy Lelet SH juga sangat menya-yangkan peristiwa ini. Se-hingga pihaknya mendesak supaya Rektor Unsrat harus bertanggung jawab dengan segala persoalan yang terjadi di internal Kampus Unsrat. Pi-haknya sangat menyayangkan ulah Rektor Unsrat yang ge-gabah mengekspose suatu in-formasi, padahal informasi ter-sebut belum disertai dengan legitimasi dari pihak yang ter-kait (Mendiknas-red).
Personel Komisi D DPRD Sulut, Benny Rhamdani, me-ngatakan polemik suksesi rek-tor dan kisruh yang terjadi, merupakan hal yang sangat memalukan dan mempriha-tinkan. Alasannya, Unsrat adalah barometer pendidikan di Sulut, justru memelopori ke-giatan yang tidak terpuji. Rham-dani menilai, penolakan ter-hadap hasil pilcarek yang di-lakukan Mendiknas baru-baru ini, merupakan suatu skenario yang sengaja dimainkan.
Bagi Rhamdani, kejanggalan-kejanggalan pilcarek yang di-utarakan Mendiknas sangat beralasan, namun hal ini ada-lah bagian dari skenario ok-num rektor. “Harusnya sejak awal keganjalan ini sudah di seriusi pihak panitia dan Rektor Unsrat. Namun karena ini bagian dari skenario, maka keganjalan ini sengaja dibiar-kan mengalir hingga ke Men-diknas,” ujar Rhamdani.
Melihat proses pilcarek se-perti ini, Rhamdani menilai bah-wa Sondakh sebenarnya tidak memihak pada salah satu kandidat rektor masing-ma-sing Prof Dr Donald Rumokoy SH, Prof Dr Ellen Kumaat dan Prof dr Sarah Warouw. Asum-sinya Sondakh hanya memen-tingkan kepentingan pribadi, dengan maksud supaya ke-kuasaannya diperpanjang. Jusrtu Rhamdani menilai, tiga kandidat rektor ini adalah kor-ban dari Sondakh.
“Saya harapkan pihak DPRD Sulut secepatnya membentuk pansus, untuk menelusuri per-soalan ini,” tukas Rhamdani yang memintakan supaya Son-dakh secepatnya diganti, untuk memulihkan kondisi Unsrat yang terus memanas. Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen In-donesia (GMKI) Cabang Mana-do, Rubi Rumpesak SH, menga-takan, konflik yang terjadi ba-ru-baru ini telah memberikan image yang buruk terhadap du-nia pendidikan di Sulut.
Bukan hanya itu, polemik dan perseteruan ini telah me-nggambarkan bahwa demo-krasi di Unsrat tidak berjalan dengan baik. Rumpesak juga mengimbau supaya kandidat rektor yang kalah dalam kom-petisi di internal Unsrat, ha-rusnya legowo menerima ke-kalahan.(ftj/ran)
|
|