|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
29 Februari 2008
|
|
Suara
Rakyat adalah suara Tuhan?(1)
Oleh: Drs E Yasharni L
|
Sikap adalah fungsi kepentingan demikian pribahasa lama, dengan kata lain orang akan bersikap mengikuti kepentingannya. Demikian juga dalam soal pemilihan, orang akan memuji jagonya bahkan menjual orang lain berdasarkan kepentingan yang melatarbelakangi sikapnya tersebut.
Demam Pemilihan Kembali melanda masyarakat dunia, di tingkat dunia pemilihan Presi-den Amerika Serikat yang ditan-dai dengan calon Presiden wani-ta pertama mantan Ibu Negara Hilary Clinton dengan calon ku-at kulit hitam pertama Presiden Senator Barak Obama di partai Demokrat serta di partai Repu-blik sudah terpilih Senator Jhon Mcain. Di tingkat Nasional orang mengarahkan perhatian pada pertarungan Gubernur Incum-bent dan wakilnya yang kisruh di Sulsel, Maluku Utara kemu-dian pemilihan Gubernur di Ja-wa Barat dan Sumatera Utara, Sumatera Selatan. Di tingkat Kabupaten pemilihan Walikota Bekasi, dan beberapa daerah lain yang akan menyusul menjadi tensi pembicaraan orang sema-kin sering.
Perang spanduk/baliho dan stiker di Kabupaten/kota yang akan melakukan pemilihan Ke-pala Daerah di Sulawesi Utara semakin banyak dilakukan. De-ngan berbagai cara orang mem-perkenalkan diri mulai dari ucapan selamat Natal, Idulfitri dan ucapan lain yang dipam-pang besar-besar. Ucapan-ucapan ini sangat wajar dan tak lain lebih kepada untuk mempromosikan diri bahkan mencuri star untuk dapat me-narik simpatik orang/pemilih. Dengan kata lain ada split per-sonaliti/udang di balik batu da-lam penyampaian ucapan-ucapan ini. Demikian juga de-ngan segala tindakan calon yang diunggulkan selalu saja di-kaitkan dengan pencalonan.
Ada lima (4) Kabupaten dan satu kota yang akan melakukan pemilihan Kepala Daerah pada tahun 2008 ini di Sulawesi Uta-ra. Selain dari 4 Kabupaten/ko-ta hasil pemekaran maka Kabu-paten Talaud akan melakukan pemilihan Kepala Daerah tahun 2008 ini. Kemudian di tahun 2009 pemilihan anggota legisla-tif / DPRD dan DPR serta DPD akan dilakukan termasuk pe-milihan Presiden dan Wakil Pre-siden. Kemudian pada tahun 2010 di Sulawesi Utara akan dilakukan pemilihan di 5 ka-bupaten dan gubernur serta wakil-wakilnya.
Pemilih Rasional versus Irasional
Kebanyakan masyarakat Sulawesi Utara telah memiliki pendidikan di atas rata-rata bahkan memiliki Indeks Pem-bangunan Manusia nomor 2 di Indonesia setelah Jakarta. Hal ini menunjukan bahwa tingkat pertimbangan orang Sulut lebih dari orang lain yang ada di Indonesia. Sayangnya dalam banyak kasus mulai dari pe-milihan Hukum Tua/Sangadi/Kapitalaung atau sebutan yang lain, pemilihan Kepala Daerah, Dewan sampai pada pemilihan Pengurus Organisasi agama yang terjadi lebih banyak menggunakan pertimbangan karena kontraprestasi-kontra-prestasi tertentu yang belum mendekati rasional yang se-sungguhnya.
Pemilih yang rasional mem-pertimbangkan pilihannya le-bih karena pertimbangan ob-jektif seperti karena prestasi kerja, track record, jujur, pin-ter dan bijaksana serta ke-mampuan tertentu yang lain tanpa mempedulikan latar be-lakang agama, etnis, parpol dan paham yang lain. Secara etimologi rasional itu menurut kamus Bahasa Indonesia Pur-wadarminta adalah memakai akal yang sehat, perbanding-an yang adil. Sedangkan pen-jatuhan pilihan karena uang, jabatan, hubungan keluarga, balas jasa dan kepentingan pribadi yang lain lebih kepada irasional. Pemilihan karena emosi, perasaan dan sikap an-tipati tanpa didasari pertim-bangan yang terkontrol lebih kepada penjatuhan pilihan karena irasional. Jika sese-orang tidak memilih calon ter-tentu hanya karena keluarga dekat maka hal tersebut wa-jar saja kalau tidak memilih keluarga dekat kecuali mung-kin istri memilih lain.
Kebanyakan orang akan mempromosikan/menyanjung calonnya lebih karena latar be-lakang/alasan pilihan dijatuh-kan. Semisal bahwa akan ber-beda pilihan seorang pejabat dengan masyarakat di desa atau di perkotaan, berbeda pu-la anak muda, ibu-ibu mudah dengan bapak-bapak atau nyong/ungke muda.(bersambung)
|
|