|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Politik dan Pemerintahan
|
29 Februari 2008
|
|
Malese: Tawuran Unsrat tamparan dunia pendidikan
Pilrek Diulang Buntut Lemahnya Kinerja Panitia
|
Rencana bakal diulangnya pemilihan Rektor (pilrek) Unsrat mengundang keprihatinan berbagai pihak. Ketua LSM Gerbang Pacifik, Djekmon Amisi SH misalnya. Dirinya menyatakan keprihatinannya menyusul dianulirnya pengesahan carek Unsrat.
Menurutnya hal ini tidak perlu terjadi, bilamana pihak Unsrat, dalam hal ini panitia bersama rektor sejak awal mau meneliti dalam setiap tahapan suksesi rektor.
“Keputusan pusat tersebut patut disesalkan bersama. Kenapa? Sebab temuan pusat itu harusnya sudah terdeteksi sejak awal oleh panitia, ironisnya kenapa baru dipersoalkan sekarang,” ketus Amisi yang juga alumnus fakultas hukum Unsrat.
Lebih lanjut dikatakan ketua KPU Talaud ini, sikap para calon rektor juga patut dipertanyakan sebab bukan tidak mungkin kekurangan yang menjadi alasan pusat hingga menganulir pengesahan calon rektor itu sudah diketahui mereka. “Ada apa ini, maaf saja jika bisa saya menduga, ini semua bukan tidak mungkin sebagai bagian dari sebuah skenario sistematis untuk menganulir pengesahan rektor Unsrat yang baru,” imbuh Amisi.
Sementara itu, pernyataan senada dikemukakan Sekjen Alumni Unsrat Jabodetabek Alex Mallese SSOs. Dikatakannya, pengulangan pilrek patut menjadi perenungan bersama. Selain internal kampus, koreksi patut juga dialamatkan kepada pemerintah mengingat prosesi pilrek yang lumayan panjang. “Kondisi ini bisa membuka berbagai celah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan,” katanya.
Selanjutnya, pernyataan kritis turut disampaikan Mallese menyusul aksi tawuran Rabu (27/02) lalu. Menurutnya ini tamparan bagi dunia pendidikan Unsrat. Sebab hakikat sebuah kampus sebesar Unsrat fungisinya seharusnya menjadi laboratorim pendidikan, dan bukan berubah menjadi gelanggang tawuran massal.
“Kalo budaya kekerasan ini dpertontonkan terus, otomatis akan mengorbankan semangat Tridharma perguruan Tinggi dan kaidah-kaidah akademis yang selalu memperjuangkan nilai-nilai kebenaran yang selalu melihat sesuatu hal atau masalah secara ilmiah,” tandasnya.
Ia kemudian mencontohkan aksi-aksi demo era tahun 90-an yang tak pernah sekalipun tercoreng oleh prilaku anarkis. Sebut saja bagaimana ketika seorang Elly Lasut (Bupati Talaud saat ini,red) memimpin demo menuntut oknum Direktur sebuah rumah sakit dengan santun dan elegan. Demikian juga bagaimana seorang Benny Rhamdani memimpin aksi demo damai terkait soal penembakan mahasiswa yang berjalan mulus tanpa cacat. “Itu semua bisa berlangsung sukses karena mereka-mereka tahu dan sadar saat membawa aspirasi tanpa harus bersikap anarkis,” pungkasnya.(eky)
|
|