|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Bolaang Mongondow
|
03 Januari 2008
|
|
2008, Akankah UDK Jadi Perguruan Tinggi Negeri?
|
KOTAMOBAGU yang digagas menjadi Kota Pendidikan dan Jasa, setidaknya harus didukung fasilitas pendidikan yang memadai. Salah satunya dengan adanya satu Perguruan Tinggi Negeri. Disayangkan pengalihan status Universitas Dumoga Kotamobagu tak jelas keberadaannya. Akankah di tahun 2008 UDK menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN)?
Sejak berdiri 1987 UDBK (Universitas Dumoga Bone Kotamobagu) yang saat ini sudah berganti nama menjadi UDK (Universitas Dumoga Kota-mobagu), kini memiliki tiga Fa-kultas yakni Fakultas Kehu-tanan, Ekonomi dan Pertanian, dan memiliki satu Jurusan dengan Program Studi S1.
Di bawah naungan YPTK (Ya-yasan Perguruan Tinggi Kota-mobagu) UDK diharapkan mam-pu berbicara di tataran lokal Su-lut. Apalagi waktu kedatangan Prof Bj Habibie di tahun 1980-an saat menjabat sebagai Men-teri Riset dan Teknologi, mantan Presiden Indonesia ini telah memberikan batuannya untuk pembangunan UDK sebesar Rp 90 juta. Uang sebesar itu di dekade 80-an setidaknya bisa memberikan perubahan yang besar untuk bangunan UDK yang hingga saat ini statusnya masih pinjaman dari Pemkab Bolmong.
Namun, bantuan tersebut sam-pai saat ini tidak diketahui kebe-radaannya dan bangunan UDK pun tidak pernah berubah. UDK yang selama ini dipercaya akan menjadi salah satu PTS yang bisa dibangggakan oleh masyarakat Bolmong dan dapat bersaing dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan PTS lainnya, nampak-nya belum bisa bersuara lebih.
Para Rektor yang sudah empat kali ini berganti, dinilai tidak mam-pu untuk membawa perubahan bagi kemajuan UDK ke depan. Para aktivis mahasiswa telah me-ngalami titik puncak dari keje-nuhan, pengurus YPTK dan Rek-tor yang sudah terpilih hanya berjalan di tempat, UDK tidak pernah mengalami perubahan.
Tiga tahun sebelumnya, saat kepemimpinan Bupati Bolmong Hj Marlina Moha-Siahaan, sempat beredar isu dari mahasiswa UDK untuk diserahkan saja kam-pus UDK kepada Pem-kab Bolmong, agar pe-ngelolaannya jauh lebih baik. Penggiri-ngan isu tersebut men-dapat pengawalan dari sejumlah aktivis UDK agar menjadi pembe-naran. Bupati pun menyambut baik dan untuk pengembangan-nya UDK akan diang-garkan dalam APBD tiap tahunnya. Namun harapan mahasiswa UDK agar UDK men-jadi kebanggan masyarakat Bolmong, lagi-lagi mengalami kebuntuan.
Hingga pada pemekaran Bol-mong menjadi dua daerah otonomi, yakni Bolaang Mongon-dow Utara dan Kota Kotamobagu, Rektor UDK yang saat ini dipimpin oleh Ir Sahrun Dalie, tetap tidak berubah. UDK masih memiliki tiga fakultas dan tiga jurusan, dan berdiri di atas bangunan dengan stastus pinjaman dari Pemkab Bolmong, yang bangu-nannya adalah eks salah satu kantor Pemkab Bolmong.
Walikota Kotamo-bagu, Ir Hi Siswa Rach-mat Mokodongan, melalui pencanang-annya, Kota Kotamo-bagu selain menjadi Kota Pendidikan dan Jasa, pun menyambut dan merespons baik agar UDK yang meru-pakan salah satu Universitas di Kota Kotamobagu, menjadi perguruan tinggi yang bisa di-banggakan oleh masyarkat Kota Kotamobagu.
Tidak hanya itu, anggota Dekot Kota Kotamobagu, Rizal Damo-polii, sangat merespons baik bila UDK akan dikelolah oleh Pemkot Kotamobagu. Putra bungsu man-tan Bupati Bolmong, Hi Djambat Damopolii ini mengatakan YPTK sudah menaruh niat baiknya untuk menyerahkan UDK kepada Pem-kot Kotamobagu, namun bagai-mana itu bisa dilakukan, Rektor yang seharusnya mengontrol dan mengetahui persis terhadap per-kembangan internal UDK, tidak mempertanggungjawabkan ke-pada pihak pengurus YPTK. Se-lain itu Rektor pun tidak pernah melaporkan keuangan UDK pada periode tertentu yang seperti biasa dilakukan.
Sementara itu, Rektor UDK Ir Sahrun Dalie mengatakan bahwa pihak YPTK tidak sama sekali memberikan bantuannya ter-hadap UDK.
Dari kedua penyampain ter-sebut, dapat dinilai bahwa ke-duanya sama-sama tidak pernah berkoordinasi mengenai arah dan perkembangan UDK selama ini. Untuknya, pertemuan antara ke-dua belah pihak dengan Pemkot Kotamobagu untuk menemukan solusi yang terbaik wajib segera dilakukan.
Di sisi lain, seharusnya para aktivis dan Alumnus UDK segera merapatkan barisannya dan mengambil peluang emas ini. Rencana tindak lanjut untuk mempertemukan jajaran Rek-torat, pengurus YPTK yang saat ini dipimpin oleh Hi Djambat Damopolii dengan Walikota Kotamobagu belum juga kun-jung digelar.
Padahal, melalui pertemuan ini diharapkan dapat menemukan solusinya, dan hanya satu jalan keluar dari keterpurukan UDK selama ini adalah dengan me-nyerahkan seluruh aset UDK untuk dikelolah langsung oleh Pemkot Kota Kotamobagu. Ini merupakan alternatif yang ter-akhir menuju UDK menjadi PTN. Jika tidak bisa pada tahun se-belumnya, maka ditahun ini UDK harus di PTN-kan.
Siapa yang menginginkan UDK hanya menjadi sebuah angan-angan dan kenangan???
Di awal tahun ini, mari bersa-ma kita ciptakan segala keingin-an dan perubahan agar cepat terwujud. Seluruh pihak yang menginginkan perubahan, tanpa terkecuali, harus menentukan sikap dan pilihannya. Kita akan merasakan besarnya perubah-an dan pengaruh yang akan ter-cipta jika di tahun 2008 ini, Uni-vesitas Dumoga Kotamobagu menjadi Perguruan Tinggi Ne-geri. SEMOGA.(***)
|
|