|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Bolaang Mongondow
|
04 Januari 2008
|
|
Pilwako Kotamobagu
Pertarungan Rachmat ‘Modapa’
Oleh: Sugianto Babay
|
“WELCOME 2008. Selamat Datang Hajatan Politik Akbar Perdana di Tanah Matoa, yaitu Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota definitif langsung oleh rakyat dari empat kecamatan di Kotamobagu…”
Sejatinya Pilwako Kotamobagu digelar sebelum bulan Mei tahun ini. Lalu walikota dan wakil walikota perdana definitif pilihan langsung rakyat dilantik tanggal 23 Mei 2008, bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Ir Hi Siswa Rachmat Mokodongan sebagai Pj Walikota Kotamobagu, yang dilantik Mendagri Widodo AS di Manado, Rabu (23/05) tahun lalu. Dengan demikian, tahapan Pilwako KK mestinya sudah mulai disusun oleh KPUD Bolmong, atau oleh KPUD Kotamobagu bila saja akan segera dibentuk, pada bulan Januari ini juga.
Tak heran, kalau menyambut hajatan politik perdana ini, sejak medio 2007 sampai saat ini, warga Kotamobagu mulai disuguhkan aksi ‘tebar pesona’ dan pencitraan dari para politisi, juga ada dari kalangan profesional maupun birokrat, yang unya keinginan merebut kursi panas di KK.
Data yang dihimpun mengungkap, tiga politisi yang sudah mulai unjuk gigi bahkan ada yang terang-terangan menyampaikan kesiapan untuk mencalonkan diri sebagai kandidat Walikota, masing-masing punya tajir dan basic yang kuat. Masing-masing pun berkeyakinan akan mampu menyisihkan lawan-lawannya. Yang unik, ketiganya sama-sama berlindung di bawah naungan Beringin. Mereka adalah Drs Hi Jelantik Mokodompit yang kini duduk di DPR RI, Drs Syachrial Damopolii MBA yang memegang tapuk pimpinan tertinggi legislatif Sulut serta Hi Hamdi Paputungan SMM, salah satu unsur pimpinan DPD PG Sulut.
Hingga awal 2008 ini, tiga figur ini aktif melakukan sosialisasi. Yang menjamur adalah sosialisasi dalam bentuk spanduk bertulis berbagai ucapan, seperti Selamat Idul Adha, Selamat Natal dan Selamat Tahun baru. Spanduk bahkan ada yang berbentuk Baliho dari ketiganya selalu terlihat di sejumlah ruas jalan di wilayah Kotamobagu. Tak hanya itu, ketiga politisi kawakan ini juga selalu aktif menghadiri berbagai acara kemasyarakatan, baik itu acara kedukaan ataupun pesta pernikahan dan syukuran, asalkan saat itu banyak orang yang hadir.
Sehingga tak perlu heran, kalau di musim kawin seperti saat ini (Di Bolmong, banyak warga yang menikah pasca Idul Adha, red), selagi politisi yang berkepentingan di Pilwako diundang, hampir pasti akan hadir di pestanya. Satu pesan buat masyarakat manfaatkan saja peluang ini, soalnya mereka tak segan-segan memberikan amplop ‘pogogutat’ yang besar kala menghadiri sebuah acara. Kalau ndak salah, amplop mereka rata-rata Rp 500 ribu per sekali hadir.
Alhasil, geliat politisi dalam merebut simpati kembali menjerumuskan warga Kotamobagu dalam panggung politik yang kejam. Bagi warga yang sedikit pintar dan tak mau rugi, mereka melibatkan diri secara aktif, lalu menawarkan berbagai ide kepada kandidat dengan maksud merebut hari rakyat. Bila disetujui, pembesut ide ini akan mendapat dana dari kandidat untuk menggeber sebuah acara, dan meski tidak ada yang tahu, dana politik tadi selalu punya sisa yang cukup yang belakangan akan menjadi keuntungan pembesut acara. Malah kalau acaranya sukses karena dihadiri banyak warga, pembesut pun bisa saja mendapatkan bonus khusus dari sang kandidat.
Sebaliknya, sebagian besar warga justru menjadi korban politik. Karena sudah terbuai oleh propaganda dan bujuk rayu politik bahkan janji yang belum tentu terealisasi, mereka pun mulai rela meninggalkan aktivitas keseharian seperti mengelolah kebun dan sawah. Lalu lebih memilih untuk hadir di acara sosialisasi atau semacamnya. Akibatnya, mereka mulai lupa dengan urusan wajib seperti mencari nafkah rumah tangga dan membiayai sekolah anak-anak.
Biar dampak buruk dari permainan politik tadi tak melebar pada kehidupan rakyat kecil khususnya kalangan petani, seorang tokoh masyarakat di Kotamobagu menitip pesan kepada harian ini, agar berkenan menyampaikan kenyataan tersebut kepada warga. “Pasca Pilkada Bupati Bolmong 2006 lalu, banyak kebun dan sawah yang tidak dikelolah lagi karena petani aktif ikut sosialsiasi sampai kampanye. Mereka baru menyadarinya ketika kandidat yang menang maupun kalah, ternyata tak lagi menggubris ketiadaan ‘asap’ di dapur mereka. Sekarang, menjelang Pilwako KK, rakyat Kotamobagu mulai mengarah pada dampak buruk seperti itu. Satu pesan, rakyat sebaiknya jangan lagi mau dibodohi oleh politik,” pesan seorang tokmas KK kepada harian ini.
Satu pesan juga kepada masyarakat KK, jangan lagi men-Tuhan-kan seorang kandidat, siapapun dia dan apapun propanganda yang ditawarkannya. Sebab semua tahu, gara-gara terlalu terhanyut oleh propaganda dan bujuk rayu tersebut, tatanan kekeluargaan serta silaturahmi bisa jadi rusak. Contoh konkrit, di Pilkada 2006 lalu, ada orang tua yang tega mengusir anaknya turun dari rumah sendiri gara-gara berbeda dukungan, ada juga suami dan istri harus pisah ranjang karena perbedaan pilihan. Dan tak sedikit sahabat yang tiba-tiba menjadi musuh. Ironinya, pasca Pilkada, para kandiat yang menjadi seteru, begitu mudah berdamai lagi. Sebaliknya, rasa sakit hati karena anak diusir ayah, juga rasa kecewa karena penghianatan seorang sahabat, sampai sekarang belum pulih total.
Salim Landjar, Ketua LSM Surya Madani, menyampaikan kekhawatiran bahwa saat ini masyarkat Kotamobagu mulai terjerumus lagi pada dampak-dampak buruk tadi. Menurutnya, itu adalah tugas top eksekutif daerah ini, walikota Ir Hi Siswa Rachmat Mokodongan untuk memberikan penyadaran politik kepada masyarakat. Kalau bukan Rachmat, siapa lagi. Menurut Landjar, Bahwa Rachmat jangan terpengaruh klaim dari segelintir warga KK yang menyebut dirinya sebagai Pj walikota hanya punya tiga tuags, yakni membentuk kabinet, me mbentuk DPRD dan melaksanakan Pilwako.
“Tiga tugas pokok seorang Pj Waliktoa memang demikian, tapi terlalu sempit kalau ada warga yang meminta Rachamt hanya melakukan ketiga hal tersebut, tanpa memikirkan imbas dari pelaksanaan tiga hal pokok itu. Contohnya, imbas dari Pilwako adalah dampak positif dan negatif yang dialami rakyat KK akibat propaganda politik para kandidat. Sehingga tugas Walikota dan jajaran Pemkot KK untuk memberikan penyadaran politik. Saya percaya, Walikota dan kabinetnya serta Dekot KK, tidak akan tega melihat rakyatnya terjerumus dalam dampak buruk sebuah permainan politik,” papar Landjar.
Anehnya, ketika bicara soal peran aktif Walikota Rachmat dalam urusan kemasyarakatan yang memang harus dia lakukan demi kemaslahatan rakyat KK, justru ada politisi yang cemburu. Sederhananya, ada politisi yang terkesan tidak ingin bila walikota terlalu dekat dengan rakyat KK, dia juga tidak mau kalau walikota hadir atau menggeber kegiatan kemasyarakatan. Amatan harian ini, rasa cemburu itu semakin besar seakan ada poltisi yang takut kalau saja Ir Hi Siswa Rachmat Mokodongan bakal menjadi seteru di Pilwako. Padahal Racmat sendiri tidak pernah menyatakan dirinya akan maju di Pilwako. Sama sekali tidak pernah!
Sayangnya pihak-pihak yang diduga pendukung politisi cemburu tadi menciptakan opini bahwa Rachmat tetap maju di Pilwako. Opini itu kemuidan dijadikan isu lalu disebar ke masyarakat. Kemudian Rachamt pun diserang. Ide serangan begini, ‘Rachmat tidak boleh maju di Pilwako, jika tidak, dia akan dipecat dari Pj Walikota’. Juga ada ide, ‘Rahmat hanya boleh melakukan tiga tugas pokok seoprang Pj walikota, di luar dari itu tidak boleh’. “Sungguh aneh, karena ada pihak yang menyerang opini yang mereka ciptakan sendiri,” ujar seorang warga KK.
Alhasil, lantaran serangan itu, nama Rachmat yang notabene tidak pernah menyatakan maju di Pilwako, justru tersosialisasi dengan apik. Sebagian masyarakat pun mulai bergunjing, bahwa bila Birokrat senior ini benar-benar maju, maka akan menjadi biang gerutu bagi tiga calon kandidat lain dari unsur politisi. “Rachamt kan ketua Korpri, jadi kalau dia mo maju, ribuan anggota Korpri di KK pasti akan memberikan dukungan,” sampai begitu jauh tanggapan warga setelah sosialisasi opini yang menyebut Rachamt akan maju di Pilwako terus menyebar di tengah masyarakat.
Sehingga, kalau sebelumnya hanya tiga nama yang disebut-sebut akan bertarung memperebutkan walikota perdana KK, maka di awal tahun 2008 ini, tak sedikit warga yang telah menjadikannya empat figur. Keempatnya adalah Rachmat dan ‘Modapa’ (Mokodompit, Damopolii dan Paputungan).
Di awal 2008 ini juga, mulai bermunculan sejumlahnama yang berpeluang untuk maju di papan dua. Nama-nama yang sering disebut warga di antaranya Ir Hi Dul Mokodompit MM yang kini menjabat Asisten II Pemkab Bolmong, Sutomo Samad salah satu legislator KK, Ir Jaya F Mokoginta MT mahasiswa program Doktoral di UI. Sering pula disebut nama Drs Jainudin Damoopolii, Ketua Panitia Pemekaran Bolmong yang menjabat juga sebagai Sekkot KK. Bahkan hari-hari pertama di tahun 2008 ini, nama Drs Hi ZA Jemmy Lantong mulai dielus di papan dua, padahal baru beberpa hari dirinya hengkang dari Gedung Kinalang, setelah digantikan rekannya Safrudin Lahiya.
Akhirnya, analisa maupun asumsi-asumsi di atas memang masih perlu pembuktian, bisa benar pun bisa juga meleset. Baiknya, kita tunggu saja hari H, yang akan ditentukan KPUD. Satu harapan, semoga Pertarungan ‘Rachmat Modapa’ di Pilwako nanti, akan tercatat dalam sejarah sebagai Pilwako Damai. Amin.(***)
|
|