|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
04 Januari 2008
|
|
Minyak 100 USD per Barel, Picu Lonjakan Harga Pangan
|
Apa yang dikhawatirkan ak-hirnya terjadi di awal tahun 2008. Harga minyak dunia me-nyentuh 100 USD (US Dollar) per barel. Tingginya harga mi-nyak dunia dipastikan akan menaikkan biaya distribusi pangan. “Yang perlu dicermati adalah harga minyak bumi yang sudah sangat tinggi yang mencapai US$100 per barel. Implikasinya luas pada biaya transportasi, karena itu sejalan dengan harga minyak bumi,” kata Deputi Menko Perekono-mian Bidang Pertanian dan Kelautan, Bayu Krisnamurti, di Jakarta, Kamis (03/01).
Menurutnya, pantauan pro-duk pangan di pasar Amerika Serikat kemarin menunjukkan kenaikan produk pangan, ter-utama biji-bijian. “Terjadi lon-catan yang besar. Yang jelas kedelai, jagung, gandum itu naik,” katanya. Namun, ke-naikan harga beras tidak bisa dipantau di pasar AS karena beras tidak termasuk produk yang diperdagangkan di sana. Kendati demikian, kenaikan harga biji-bijian terkait dengan harga beras patut dicermati.
Karena itu, pemerintah saat ini tengah mengantisipasi pro-duksi beras terkait datangnya musim hujan yang masih akan berlanjut sampai dengan Ja-nuari sampai Februari 2008. “Artinya, pada bulan Februari dan Maret 2008 akan basah. Se-karang sudah mulai terlihat in-dikasinya. Mutu gabah akan tu-run. Itu di satu sisi akan mem-pengaruhi pasokan konsumen dan sisi lain akan pengaruhi harga ke petani,” katanya.
Apalagi, daerah yang surplus beras di Indonesia tidak ba-nyak, hanya 11 propinsi dari 33 propinsi. Di antaranya, seluruh propinsi di Pulau Jawa surplus beras, kecuali DKI Jakarta. Selain itu, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Ba-li, Aceh dan NTB juga surplus beras.
Sementara itu, gubernur ne-gara-negara pengekspor mi-nyak (OPEC) untuk Indonesia Maizar Rahman, menegaskan harga minyak dunia yang tinggi sekarang ini tidak mencer-minkan kondisi pasar sesung-guhnya karena merupakan ulah spekulan saja. “Kenaikan harga ini juga disebabkan ulah spekulan,” katanya di Jakarta.
Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Rabu (02/01) waktu New York sempat me-nembus nilai 100 dollar AS per barel, meski kemudian ditutup 99,48 dollar AS per barel.
Menurut Maizar, stok dunia saat ini dilaporkan dalam kondisi cukup aman. Namun, lanjutnya, pihaknya akan membahas tingginya harga minyak dalam pertemuan luar biasa OPEC di Wina, Austria pada Februari mendatang. Dikatakan Maizar, dengan tingginya harga minyak, negara berkembang yang menjadi importir minyak akan terkena dampak paling besar.
Sementara itu, Dirjen Migas Departemen ESDM, Luluk Sumiarso menyatakan, peme-rintah Indonesia terus mencer-mati perkembangan harga minyak dunia yang terus ber-gejolak akhir-akhir ini.
“Kami cermati terus harga minyak yang naik turun ini,” katanya di Jakarta. Dikatakan Luluk, APBN sendiri berpa-tokan pada formula Indonesia Crude Price (ICP) yang lebih rendah dibandingkan harga minyak di pasar spot dunia. Menurut Luluk, harga rata-rata ICP bulan Desember 2007 ha-nya sekitar 91 dollar AS per barel.
Mengenai rencana pengalihan premium, Luluk mengatakan, pemerintah masih menunggu harga ICP menyentuh 100 dol-lar AS per barel. Namun, lan-jutnya, pihaknya tetap me-nyiapkan kajian pengalihan premium tersebut. “Kami siap-kan, tapi pimpinan yang me-mutuskan,” ujarnya.(spc/dtc)
|
|