|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
04 Januari 2008
|
|
Revitalisasi Pertanian
Harus Diukur Sesuai Fakta
|
Bicara soal revitalisasi pertanian, tidak bisa asal bicara, tetapi harus dilihat dan diukur sesuai fakta yang ada. Dan yang terpenting jangan sampai mengendorkan semangat para petani yang sekarang ini sementara bangkit.
Demikian antara lain disam-paikan salah seorang Ketua Dewan Jagung Nasional, An-ton Supit kepada wartawan, Kamis 03/01) kemarin.
Menurutnya, kalau misalnya jagung sebagai salah satu ko-moditi dalam program revita-lisasi pertanian, bertambah dari 242.713 ton tahun 2006 menjadi 407.964 ton tahun 2007, apakah ini bisa dika-takan terjadi peningkatan. “Lantas kalau tidak, para- meter apa yang harus diguna-kan untuk mengukur keberha-silan itu?” tanya Supit yang mengaku hanya bicara berda-sarkan data dan tidak punya kepentingan lain.
Lebih jauh dikatakannya, dulu memang jagung di Sulut nampak banyak. “Ketika itu Sulut tidak dilirik oleh daerah lain sebagai penghasil jagung. Sekarang banyak pengusaha dari luar yang membeli jagung Sulut, seperti Makassar, Go-rontalo dan lainnya. Dampak-nya adalah harga di tingkat petani membaik,” ungkap Ketua Asosiasi Perunggasan Nasional ini.
Sementara itu dari data yang disampaikan Kepala Dians Pertanian dan Peternakan Sulut, Ir Herry Rotinsulu, se-lain jagung yang mengalami peningkatan sebesar 165.251 ton (68,08 persen) produksi padi juga mengalami pening-katan yang cukup signifikan. Yakni dari 454.702 ton tahun 2006 menjadi 493.089 ton ta-hun 2007.
Demikian juga dengan nilai tambah produksi, kalau tahun 2006 khusus untuk padi hanya sebesar Rp 55,248 mi-liar, maka tahun 2007 menjadi Rp 94,7 miliar. Sementara ja-gung dari Rp 56,889 miliar ta-hun 2006 menjadi Rp 247,879 miliar tahun 2007.
Sedangkan untuk serapan tenaga kerja juga menun-jukkan pertumbuhan yang besar, yakni dari 8.151 pada tahun 2006 menjadi 24.636 tahun 2007 khusus untuk padi. Sementara untuk jagung dari 31.635 tahun 2006 men-jadi 101.529 tahun 2007.
“Sementara sampai saat ini sektor pertanian masih tetap mendominasi pertumbuhan ekonomi Sulut yang sampai triwulan 3 ini mencapai 6,1 persen,” tandas Kepala BPS Sulut, Drs Jasa Bangun saat dikonfirmasi secara terpisah.
“Dan karena berbagai keber-hasilan tersebut, maka Sulut sebagaimana penilaian Dep-tan, merupakan daerah yang pertumbuhan jagungnya ter-besar (68,08 persen) di seluruh Indonesia. Belum lagi dengan sejumlah penghargaan yang diberikan pemerintah pusat kepada kepala pemerintahan yang ada di daerah ini,” kata Rotinsulu didampingi Dino Rogi selaku staf ahli perta-nian.(ami)
|
|