|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
04 Januari 2008
|
|
Great Leader for Great
Minahasa
Oleh: Veldy Umbas SE
|
Gagah berani dan kokoh terpancar dari patung Korengkeng dan Sarapung seketika kita memasuki Kota Tondano. Sayang, kisah kepahlawanan dua ksatria Minahasa itu masih menjadi serpihan-serpihan memori kultural Minahasa tentang sejarah heroisme bangsa Minahasa yang berserakan di atas amnesia budaya Tou Minahasa.
Padahal, guratan-guratan suverinitas ini jelas menjadi modal dasar untuk mem-bangun Minahasa masa de-pan.
Bahwa, Tou Minahasa ada-lah perjalanan panjang se-jarah dengan semangat le-luhur di masa lampau, me-rentas jaman dan peradaban, untuk menuju Minahasa hari esok yang gemilang.
Kita toh tidak bisa meng-hapus sejarah bahwa the founding fathers bangsa Indonesia yang kait-mengkait dengan sejarah peradaban Minahasa yang kuat dimaknai oleh Ratulangi, Maramis, Palar, dll.
Ini bukan soal nostalgia, belaka. Ini adalah panggilan peradaban bahwa Tou Mina-hasa yang ngaasan, niatean dan mawai, harus benar-benar pula memaknai hidup menuju Minahasa yang mo-deren dan sejahtera.
Barangkali, ekspektasi pu-blik yang mulai luntur oleh kenyataan-kenyataan objektif yang meluruhkan spirit pem-bangunan dan pengembangan Minahasa.
Lihat bagaimana potensi Da-nau Tondano yang redup se-iring enceng gondok mereng-kuh keindahannya, sekaligus mematikan memori heroisme perang Tondano yang dulu gegap gempita memerahkan Danau Tondano.
Lalu, cengkih yang terus me-nerus menjadi komoditi meng-gemaskan, mahal di saat tidak musim, murah saat petani me-metiknya; cengkih tak lagi emas cokelat! Di sektor pen-didikan menjadi persoalan yang sangat merisaukan kita. Di tengah angka trafficking, kriminalitas, dan berbagai sakit sosial ini terus melonjak, angka partisipasi pendidikan justru melorot.
Yang lebih aneh, dalam dua tahun terakhir angka pendu-duk perempuan di Minahasa merosot tajam higga tujuh persen (data ICRES 2007); indikasi ekspor perempuan Minahasa?
Kita bahkan mungkin se-dang mengalami tragedi ke-budayaan, karena kesadaran kultural Tou Minahasa mulai pudar seiring dengan me-rambahkan kapitalisme dan neo liberalisme menjalar ke berbagai sendi kehidupan.
Maka, Minahasa ke depan tidak punya pilihan. Gende-rang kompetisi global telah ditabuh. Sementara persaing-an memperebutkan supre-masi ekonomi antar daerah otonom terus berpacu.
Klaim Manado menjadi kota wisata dunia, Tomohon kota bunga, Minsel dengan konsep agro-politannya menjadikan Minsel pusat rempah-rempah dunia, Bitung dengan kota pelabuh-annya, Minut dengan konsep wisata baharinya, dsb.
Sayang sekali tidak bisa memberikan pilihan lagi bagi Kabupaten yang indentik de-ngan induk pemekaran ini yang selama ini diam, statis, jalan di tempat, dengan se-kadar harapan-harapan ko-song tentang perubahan.
Karena itu, mari kita melukis indah Minahasa esok yang penuh warna. Sebuah lukisan Minahasa yang penuh dengan ekspresi, apresiasi, dan krea-tivitas; dalamnya kita ingin agar hidup mejadi lebih baik, Minahasa menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal (stay), tempat yang indah bagi para pelancong menikmati keindahan alam (visit), dan bahkan menjadi daerah tu-juan investasi yang kondusif untuk menggairahkan pereko-nomian rakyat (invest).
Artinya, Minahasa ke depan adalah Minahasa yang besar (great) yang mana semua cita-cita perubahan dan pembaha-ruan itu dapat dicapai dengan menempatkan rakyat sebagai subjek utama pelaku pem-bangunan. Minahasa yang be-sar juga berarti Minahasa yang mampu menyelesaikan masalah petani, nelayan, bu-ruh, tukang dan bahkan PNS.
Di mana rasio pendapatan dengan harapan hidup me-ningkat seiring dengan me-ningkatnya pula tuntutan konsumsi yang makin tak ter-elakan.
Karena itu, kita berharap Minahasa yang besar kelak akan menempatkan sejumlah agenda berikut dalam prio-ritas program pembangunnya, yakni;
I. pelayanan dan sarana publik.
Yaitu meliputi standar mi-nimum kebutuhan masyara-kat. Seperti, pelayanan ke-sehatan yang memadai de-ngan meningkatkan mutuh pelayanan kesehatan rumah sakit lokal, Puskesmas, Pustu, Polindes, Posyandu, dsb.
Di sektor pendidikan, peme-rintah diharapkan tidak se-kadar memberikan bea siswa serta pendidikan murah, tapi juga meningkatkan kualitas pendidikan yang meliputi, peningkatan kapasitas dan kompetensi tenaga pendidik juga sarana-prasarana penun-jang pendidikan seperti alat peraga, laboratorium dan komputerisasi.
Masalah transportasi dan sarana penunjangnya seperti terminal, halte, resting area, dsb.
II. sistem birokrasi.
Konsep birokrat adalah pe-layan rakyat nampaknya ma-sih jauh panggang dari api. Karena itu reformasi birokrasi menjadi cita-cita rakyat Mina-hasa yang diharapkan benar-benar menjadikan aparat birokrasi kita menjadi pro-fesional yang menempatkan diri sebagai pamong pelayan rakyat.
Bukan arogansi dengan embel-embel pegawai negara yang mentereng.
Dari sinilah maka ide-ide besar seperti good governance (tata kelola) dan clean gover-ment (pemerintahan yang bersih) dapat kita gagas.
Di samping itu, perlu pula agar model pemerintahan yang moderen, efektif dan efi-sien, harus dilengkapi dengan sarana penunjang seperti komputerisasi administrasi desa.
III. prioritas pembangun-an ekonomi harus benar-benar dilakukan secara tulus dalam pengertian yang sebenar-benarnya.
Motif pembangunan ekonomi selama ini cenderung bersifat politis sehingga dampak dari program-program berlabel revitalisasi dan sebagainya hanyalah bersisa tulisan di atas kertas.
Karena itu komitmen untuk memajukan sektor ekonomi rakyat harus turun dari ke-inginan kuat pemimpinnya. Barangkali Gubernur Goron-talo, Bupati Sragen, dan be-berapa bupati daerah lainnya menjadi contoh dari betapa pemerintah bersungguh-sungguh ingin agar ekonomi rakyatnya bertumbuh.
Tidak sekadar mengimbau, tapi turun langsung, menga-wal proses, melakukan moni-toring dan evaluasi (monev), bahkan tak segan-segan mengambil langkah cepat demi menggenjot perekonian rakyat.
Tentu dengan melakukan kajian mendalam terhadap sektor-sektor mana saja yang bisa memberikan multiplier effect yang cocok sesuai dengan karakteristik ekonomi di Minahasa.
IV. pembangunan sosial dan budaya.
Hal yang kadang dilupakan banyak orang, karena tidak berhubungan dengan hal fisik, materi, visible, dan measure-able.
Namun, kualitas pemba-ngunan akan ditakar dari se-berapa sehat kondisi sosial masyarakatnya sehingga memberikan suasana kondu-sif bagi pembangunan itu
sendiri.
Gagah berani dan kokoh ter-pancar dari patung Korengkeng dan Sarapung seketika kita me-masuki Kota Tondano. Sayang, kisah kepahlawanan dua ksa-tria Minahasa itu masih menja-di serpihan-serpihan memori kultural Minahasa tentang seja-rah heroisme bangsa Minahasa yang berserakan di atas am-nesia budaya Tou Minahasa.
di sinilah, perlunya role mo-del, keteladanan, budi pekerti, kearifan, dan kebijaksanaan kepemimpinan yang tercermin dalam suasana masyarakat yang berkarakter.
Masyarakat Minahasa se-mestinya memiliki nilai-nilai keteladanan tersebut yang merupakan kearifan lokal leluhur Minahasa yang turun temurun. Modal budaya ma-palus menjadi social capital bagi pembentukan karakter budaya bangsa rakyat Minahasa. Sa-yangnya hal ini mulai tergerus seiring dengan menguatnya individualisme, materialisme, dan konsumerisme akibat dari serbuan kapatalisme global yang makin tak terbendung.
Dari semua harapan-ha-rapan rakyat tersebut, kini kita tentu membutuhkan pemimpin Minahasa yang benar-benar mampu (capable), berkomitmen kuat (reasonable), dan berhati nurani (integrity). Artinya, kita tidak sekadar mencari figur yang cerdas, tapi integritasnya diragukan atau sebaliknya.
Menjelang Pilkada Minahasa, sejumlah asa dipundakkan pa-da sosok calon pemimpin Mina-hasa yang diharapkan mampu membawa Minahasa ke depan menjadi daerah otonom yang mampu bersaing di era global de-ngan tetap mempertahankan ciri khas budaya dan kearifan lokal.
Ada tiga harapan rakyat Mi-nahasa versi survei lembaga Institute of Community Re-search and Empowerment Sumekolah (ICRES, OCT/2007) dalam laporan tahunannya me-nyebutkan figur pemimpin Minahasa yang paling dibutuh-kan mencakup tiga hal yakni; Pertama, figur intelektual dan cerdas. Kedua, memiliki inte-gritas, yang didasarkan pada nilai-nilai moralitas dan religius yang melekat pada karakter pribadinya. Ketiga, populis dan merakyat.
Ketiga hal ini memang ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Karena itu, berharap orang Minahasa akan secara cerdas menentukan pilihan-nya. Menuju Minahasa yang besar, makmur, berjaya, tentu membutuhkan pula pemimpin yang besar, dengan kualitas dan kapabilitas yang didasar-kan pada nilai-nilai moralitas dan komitmen yang kuat untuk melakukan perubahan untuk Minahasa. Siapa Pemimpin itu, semua terserah kepada rakyat Minahasa yang akan menen-tukan pilihannya pada tanggal 18 Desember nanti. Selamat milih?(habis)
Penulis adalah Tou Minahasa.
|
|