|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Bolamania
|
05 Januari 2008
|
|
Berkacalah Manajemen Persma!
|
REPUTASI buruk Persatuan Sepakbola Manado atau disingkat Persma sepanjang musim 2007-2008 memang sangat disayangkan oleh seluruh “Bolamania” Manado. Imbasnya, penilaian super buruk dialamatkan kepada sang pelatih, yakni Mr Manuel Rodriguez Vega. Pelatih yang didatangkan khusus dari Cili untuk menukangi “Badai Biru” musim ini, dituding sebagai biang kerok kegagalan tim berkostum biru-kuning itu.
Namun, sangat tidak etis bila hanya Mr Vega yang disalah-kan. Bukannya mau membela, tapi letak kesalahan sebenarnya ada pada korps manajemen itu sendiri.
Mau bukti? Hingga saat ini mungkin banyak yang tidak me-ngetahui siapa sebenarnya Ma-najer Tim Persma Manado. Ku-rang tepatnya Ketua Umum Jimmy Rimba Rogi SSos yang menempatkan Ir GSV Lumentut sebagai manajer, merupakan salah satu penyebabnya. Lu-mentut yang tak lain adalah Sekretaris Kota Manado, dinilai sangat tidak cocok untuk porsi itu. Para pemain, tim teknis dan bahkan bagian perlengkapan pun sering mengeluh atas minimnya perhatian seorang manajer untuk tim. Jangankan datang ke mess untuk memantau suasana tim, ke Stadion Klabat saja saat Persma berlaga hanya bisa dihitung de-ngan jari. Kesibukkan birokrat Lu-mentut memang menjadi alasan-nya. Sebagai akal, ditunjuklah Ir Haefrey Sendoh untuk mendam-pingi tim pada paruh putaran per-tama. Namun, Epi sapaan akrab beliau, dinilai belum memuaskan untuk menjadi manajer se-mentara “Badai Biru”.
Nah, diputaran kedua, men-cuatlah sosok Donal Supit SH. Si ‘bos kecil’ ini pun secara tidak langsung telah ngenyosor masuk menggantikan porsi Ir Haefrey Sendoh yang pada pertenga-han tahun kemarin dilantik se-bagai Kadispora Sulut. Namun, lagi-lagi si ‘bos kecil’ itu dinilai sangat tak layak! Bahkan oleh para wartawan, Donal Supit di-nilai lebih cocok sebagai jubir (juru bicara) Persma Manado, ketimbang memberikan perha-tian bagi tim. Manajemen Pers-ma musim ini memang bisa di-kata amburadul! Berbeda de-ngan dua tim sedaerah yang masing-masing memiliki mana-jer paten dan dilengkapi dengan sekretaris tim.
Disisi lain, para suporter yang mengecam mundur Mr Vega, memang sah-sah saja. Namun perlu diingat, siapa pun yang menukangi “Badai Biru”, bila tim ini berjalan tanpa seorang manajer, hasilnya pasti akan seperti ini. Mudah-mudahan saja bila dikompetisi berikut Persma masih memastikan diri sebagai kontestan ligina, keke-liruan-kekeliruan di atas tak ter-ulangi lagi. Perlu diingat, ‘ke-harmonisan’ seorang manajer, tim teknis serta para pemain dan juga suporter, merupakan modal utama Persma Manado untuk menggapai hasil yang maksimal. Mudah-mudahan!(*)
|
|