|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Bolaang Mongondow
|
05 Januari 2008
|
|
Pilwako Kotamobagu Pertarungan Rachmat ‘Modapa’(2)
Catatan:
Sugianto babay'
|
“WELCOME 2008. Selamat Datang Hajatan Politik Akbar Perdana di Tanah Matoa, yaitu Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota definitif langsung oleh rakyat dari empat kecamatan di Kotamobagu”
Juga rasa kecewa karena pengkhianatan seorang sahabat, sampai sekarang belum pulih total. Salim Landjar, Ketua LSM Surya Madani, menyampaikan kekhawatiran bahwa saat ini masyarakat Kotamobagu mulai terjerumus lagi pada dampak-dampak buruk tadi. Menurutnya, itu adalah tugas top eksekutif daerah ini, Walikota Ir Hi Siswa Rachmat Mokodongan untuk memberikan penyadaran politik kepada masyarakat. Kalau bukan Rachmat, siapa lagi. Menurut Landjar, Bahwa Rach-mat jangan terpengaruh klaim dari segelintir warga KK yang menyebut dirinya sebagai Pj walikota hanya punya tiga tuags, yakni membentuk kabinet, mem-bentuk DPRD dan melaksana-kan Pilwako.
“Tiga tugas pokok seorang Pj Waliktoa memang demikian, tapi terlalu sempit kalau ada warga yang meminta Rachmat hanya melakukan ketiga hal tersebut, tanpa memikirkan imbas dari pelaksanaan tiga hal pokok itu. Contohnya, imbas dari Pilwako adalah dampak positif dan negatif yang dialami rakyat KK akibat propaganda politik para kandidat. Sehingga tugas Walikota dan jajaran Pemkot KK untuk memberi-kan penyadaran politik. Saya percaya, walikota dan kabinetnya serta Dekot KK, tidak akan tega melihat rakyatnya terjerumus dalam dampak buruk sebuah permainan politik,” papar Landjar.
Anehnya, ketika bicara soal peran aktif Walikota Rachmat dalam urusan kemasyarakatan yang memang harus dia lakukan demi kemaslahatan rakyat KK, justru ada politisi yang cemburu. Sederhananya, ada politisi yang terkesan tidak ingin bila walikota terlalu dekat dengan rakyat KK, dia juga tidak mau kalau walikota hadir atau menggeber kegiatan kema-syarakatan. Amatan harian ini, rasa cemburu itu semakin besar seakan ada politisi yang takut kalau saja Ir Hi Siswa Rachmat Mokodongan bakal menjadi seteru di Pilwako. Padahal Racmat sendiri tidak pernah menyatakan dirinya akan maju di Pilwako. Sama sekali tidak pernah!
Sayangnya pihak-pihak yang diduga pendukung politisi cemburu tadi menciptakan opini bahwa Rachmat tetap maju di Pilwako. Opini itu kemuidan dijadikan isu lalu disebar ke masyarakat. Ke-mudian Rachmat pun diserang. Ide serangan begini, ‘Rachmat tidak boleh maju di Pilwako, jika tidak, dia akan dipecat dari Pj Walikota’. Juga ada ide, ‘Rahmat hanya boleh melakukan tiga tugas pokok seoprang Pj walikota, di luar dari itu tidak boleh’. “Sungguh aneh, karena ada pihak yang menyerang opini yang mereka ciptakan sendiri,” ujar seorang warga KK.
Alhasil, lantaran serangan itu, nama Rachmat yang notabene tidak pernah menyatakan maju di Pilwako, justru tersosialisasi dengan apik. Sebagian masyara-kat pun mulai bergunjing, bahwa bila birokrat senior ini benar-benar maju, maka akan menjadi biang gerutu bagi tiga calon kandidat lain dari unsur politisi. “Rachmat kan Ketua Korpri, jadi kalau dia mo maju, ribuan anggota Korpri di KK pasti akan memberikan duku-ngan,” sampai begitu jauh tang-gapan warga setelah sosialisasi opini yang menyebut Rachamt akan maju di Pilwako terus me-nyebar di tengah masyarakat.
Sehingga, kalau sebelumnya hanya tiga nama yang disebut-sebut akan bertarung mempere-butkan walikota perdana KK, maka di awal tahun 2008 ini, tak sedikit warga yang telah menjadikannya empat figur. Keempatnya adalah Rachmat dan ‘Modapa’ (Moko-dompit, Damopolii dan Papu-tungan).
Di awal 2008 ini juga, mulai ber-munculan sejumlah nama yang berpeluang untuk maju di papan dua. Nama-nama yang sering disebut warga di antaranya Ir Hi Dul Mokodompit MM yang kini men-jabat Asisten II Pemkab Bolmong, Sutomo Samad salah satu legis-lator KK, Ir Jaya F Mokoginta MT mahasiswa program Doktoral di UI. Sering pula disebut nama Drs Jainudin Damoopolii, Ketua Panitia Pemekaran Bolmong yang men-jabat juga sebagai Sekkot KK. Bahkan hari-hari pertama di tahun 2008 ini, nama Drs Hi ZA Jemmy Lantong mulai dielus di papan dua, padahal baru beberpa hari dirinya hengkang dari Gedung Kinalang, setelah digantikan rekannya Safrudin Lahiya.
Akhirnya, analisa maupun asum-si-asumsi di atas memang masih perlu pembuktian, bisa benar pun bisa juga meleset. Baiknya, kita tunggu saja hari H, yang akan ditentukan KPUD. Satu harapan, semoga Pertarungan ‘Rachmat Modapa’ di Pilwako nanti, akan tercatat dalam sejarah sebagai Pilwako damai. Amin.(habis)
|
|