HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Berita Pendidikan dan Budaya

05 Januari 2008

2008, Tahun Pengharapan Unsrat-Unima
Catatan:
Irvan Grosman

Kata orang, pekerjaan yang paling membosankan
adalah menunggu. 


Dan memang benar bahwa pe-kerjaan menanti atau menunggu itu bisa membuat kita merasa jemu, jenuh dan bisa menimbul-kan rasa kesal juga menaikan tensi darah kita. Contohnya, pe-numpang pesawat yang menga-lami penundaan penerbangan, pasti mereka akan bisa berkata-kata banyak tentang rasa kesal, marah, jengkel karena harus me-nunggu beberapa menit atau be-berapa jam. Apalagi kalau sudah ada janji, lalu pihak yang lain itu karena sesuatu hal tidak tiba pada waktunya, dan kita harus menanti. Menanti adalah peker-jaan yang paling menjemukan.
Begitu juga yang mungkin sedang terjadi di dua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Sulut, yakni Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan Univer-sitas Negeri Manado (Unima). Menunggu atau menanti kapan turunnya keputusan rektor baru merupakan satu pekerjaan yang membosankan. Di masa-masa pe-nantian biasanya muncul satu ‘riak emosi’ yang sepertinya mau mem-berontak dengan satu kalimat tanya, “Kenapa pemerintah pusat lama sekali mengeluarkan satu keputusan, ada apa di balik semua ini? Apakah nanti melhat ada geliat atau reaksi baru dikeluarkan satu keputusan?”
Sungguh…pekerjaan menanti atau menunggu kadang kala membuat batin dan raga ini memberontak, dan sering mem-buat kita, tak kenal apakah dia akademisi, guru besar, bahkan seorang ulama dan pelayan Tuhan sekalipun, sepertinya ‘kehilangan akal sehatnya’.
Suksesi Unsrat dan Unima yang dilangsungkan 26 Oktober 2007 setidaknya telah menjaring sejum-lah nama yang diusulkan ke pusat. Untuk Unsrat ada Prof Dr Donald Rumokoy, Prof Dr Ir Ellen Kumaat MSc, dan Prof dr Sarah Warouw. Sedangkan Unima, Dr Philoteus Tuerah, Drs Mithel Kumajas MSi dan Prof Lolombulan. 
Enam nama ini sudah diusulkan ke pusat dan sementara digodok di Tim Penilai Akhir yang diketuai presiden. Apakah enam akademisi ini akan bersukacita dalam peng-harapan, bersabar dalam kese-sakan dan bertekun dalam doa? Ataukah justru terlena dengan aksi lobi-lobi dan pendekatan politis, (meski hal ini tidak salah juga), tapi jangan sampai melupakan hakekat kepada siapa pengharapan yang sebenarnya itu digantungkan. Tentunya sebagai orang percaya memiliki sandaran iman peng-harapannya.
Bukannya bermaksud menggurui atau pun memberi nasehat, tapi penulis ingin berbagi tentang kesaksian Alkitab. Di situ menyata-kan eksistensi manusia percaya dalam hubungannya dengan Tuhan justru dilukiskan sebagai “menanti”. Pemazmur melukiskan posisi orang percaya itu sebagai menanti dengan penuh kerinduan:
“Aku menanti-nantikan Tuhan,
jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.
Jiwaku mengharapkan Tuhan
lebih dari pengawal mengharap-kan pagi, lebih dari pengawal mengharapkan pagi”. (Mazmur 130:5-6).
Rasul Paulus, juga menegaskan karakteristika hidup orang percaya itu tidak lain dari “menanti dengan tekun”. “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi peng-harapan yang dilihat, bukan peng-harapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (Roma 8: 24-25).
Menanti dan berharap atau me-nanti dalam pengharapan pada hakekatnya berarti tidak memiliki dan sekaligus memiliki: Bila kita mengharapkan sesuatu, jelas bahwa hal itu belum terjadi atau kita miliki; itulah sebabnya Paulus mengatakan, bahwa kita menan-tikannya dengan tekun. Kondisi hubungan manusia dengan Tuhan terutama merupakan kondisi tidak memiliki, tidak mengetahui dan tidak mengangkangi. Jadi hal yang harus disadari bahwa 2008 ini adalah tahun pengharapan bagi Unsrat dan Unima.
So…apakah Unsrat dan Unima, terlebih khusus yang terkait di suksesi rektor akan menanti dengan tekun? Ataukah justru membuat satu reaksi yang men-cerminkan ketidaksabaran dalam pengharapan. Satu hal yang harus kita ingat, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekun-lah dalam doa. Roma 12:12, itulah kuncinya! Semoga.(*)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin