|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
05 Januari 2008
|
Mantan Presiden Soeharto, kembali dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan. Soeharto lang-sung diopname. Disebut-sebut penyakit yang dia alami serius. Kabarnya ada bagian tubuh penguasa Indonesia selama 32 tahun itu bengkak-bengkak. Namun seperti pengalaman se-belumnya, Soeharto kemungki-nan bisa ‘ditangani’ dan dapat pulang ke rumah lagi.
Soeharto sendiri dikategori memiliki umur yang lebih pan-jang dibanding tokoh-tokoh sa-
tu zamannya. Kini, Soeharto berusia 87 tahun. Dia diyakini memiliki trik untuk menjaga agar umurnya panjang. Dise-but-sebut, itu terkait mistik. Selain laku di Gunung Lawu, Soeharto juga pernah memin-jam keris pusaka kraton Solo.
Bagaimana kisah mengenai Soeharto dan keris kraton Solo ini? Artikel yang dilansir detik.com menarik untuk di-simak. Berikut cuplikannya: Suatu hari di Bandara Adi Su-marmo, Surakarta. Putra-pu-tri Paku Buwono (PB) XII, Raja Surakarta, bertangisan. Saat itu, mereka mengantar keper-gian pusaka andalan kraton. Pusaka itu akan dibawa ke Jakarta karena akan dipinjam Presiden Soeharto.
Peristiwa itu masih membe-kas betul dalam ingatan KGPH Puspo Hadikusumo, putra ketiga PB XII. Kapan persisnya peristiwa itu terjadi dia memang kesulitan lagi mengingatnya. Salah satu pangeran yang mendapat ke-percayaan memelihara pusa-ka kraton Solo itu, memper-kirakan kejadian itu terjadi saat Soeharto baru saja men-jabat presiden.
Berdasarkan catatan seja-rah, MPRS menunjuk Soehar-to sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967. Kemu-dian baru 27 Maret 1968, ia dilantik menjadi presiden. Saat menjabat presiden, Soeharto memiliki penasihat spiritual yaitu Soedjono Hoe-mardani. Di masa awal men-jabat presiden, Soedjono me-nyarankan Soeharto agar men-cari kekuatan pendukung se-cara magis. Kekuatan pendu-kung itu berupa pusaka anda-lan para raja di Jawa yang ter-simpan di Kraton Surakarta.
Setelah Soeharto setuju, lalu Soedjono menemui PB XII me-ngutarakan maksud tersebut. PB XII mengizinkan lalu me-ngajak Ki Panji Mloyo Hami-luhur mengambil dan menye-rahkannya kepada Soedjono. Apa pusaka kraton yang di-pinjam itu, hingga kini belum jelas. Puspo hanya menyebut pusaka itu merupakan pusa-ka sangat penting bagi kraton.
Menurut sejumlah sumber yang dilansir detik.com, di antara sejumlah pusaka yang dimiliki Kraton Solo, ada satu pusaka utama yang kedudu-kannya jauh di atas pusaka-pusaka tersebut. Pusaka itu berupa keris bernama Kan-jeng Kiai Ageng. Apakah keris itu yang dipinjam, Puspo eng-gan membeberkan. “Saat itu semua menangis karena yang dibawa itu adalah pusaka an-dalan kraton. Tapi apa boleh buat, Sinuhun sudah mengi-zinkannya,” tutur Puspo.
Belasan tahun kemudian atau pada tahun 1985, Soe-harto kembali menyampaikan niat untuk meminjam pusaka Kraton Solo. Perantara saat itu tetap penasihat spiritual-nya, Soedjono. Sementara yang diminta mengambil adalah almarhum Panji Mloyo Hamiluhur, tokoh spiritual Kraton Surakarta. PB XII telah mempersilakan Ki Panji Mloyo untuk memilih sendiri pusaka yang akan dipinjam Pak Harto. PB XII telah menetapkan sebuah malam untuk meng-ambil pusaka itu. Namun pada malam yang ditentukan itu ternyata terjadi kebakaran hebat di kraton. Akibatnya pemilihan dan pengambilan pusaka itu dibatalkan.
Selanjutnya, apakah proses peminjaman itu benar-benar terjadi, hingga kini masih menjadi teka-teki. GPH Puger, putra PB XII yang mengetahui rencana peminjaman itu mengaku tidak tahu. “Sebaik-nya hal itu tidak ditanyakan kepada saya,” kata Puger. Kini puluhan tahun telah berlalu. Soeharto telah berumur 85 tahun. Ia telah lengser dari kur-si presiden. Sejumlah kasus hukum dan penyakit membelit Soeharto. Berkali-kali mantan presiden itu masuk rumah sakit namun kemudian ia pulih kembali. Masuk rumah sakit lagi dan pulih lagi.
Banyak yang meyakini pe-nguasa RI 32 tahun itu memi-liki kesaktian dan jimat yang memberati kehidupannya. Sejumlah tokoh spiritual yang menggeluti dunia mistis menyarankan Soeharto agar segera membersihkan diri. Membersihkan diri, tak hanya dalam arti meminta ampun dan mendekatkan diri kepada Tuhan, namun juga harus melepaskan diri dari jimat dan pusaka-pusaka yang men-dampinginya selama ini. “Se-cara spiritual dia harus me-lakukan acara-acara ritual guna mencabut semua kekua-tan atau ilmu mistik yang telah dimiliki,” kata paranor-mal Ki Joko Bodo.
Dan beberapa hari terakhir sebuah informasi datang dari sumber di Cendana. Disebut-kan putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, akan mengembalikan sebuah pu-saka ke Kraton Surakarta. Pusaka itu dipinjam ayahnya ketika masih berkuasa dulu. Namun sumber itu juga me-nyebutkan niat Tutut, demi-kian Hardiyanti biasa dipang-gil, tidak terlaksana. Pihak Kraton Surakarta menolak menerima pusaka tersebut. Benarkah? Masih perlu dite-lusuri lagi, karena pihak kraton mengaku tidak pernah menerima kedatangan Tutut dalam beberapa pekan terakhir untuk kepentingan tersebut. Yang pasti, Soeharto telah mencatat sejarah sakit yang panjang. Ia sudah berkali-kali masuk RS sejak lengser pada 1998 silam.(dtc/*)
|
|