CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

09 Januari 2008

UKIT dan GMIM(4) 
Oleh: Augustien Kapahang-Kaunang

 IKUTI BERITA LAIN

Great Leader for Great Minahasa
Oleh: Veldy Umbas SE

SURAT PEMBACA

Harapan Baru di Tahun 2008

 COMMENTAREN

Membangkitkan Etos Kerja Orang Sulut

 
Tetapi apa boleh buat, kami harus merasakan saat-saat se-perti ‘perang’ yaitu saat keda-tangan rombongan BPS dan Ya-yasan Wenas beberapa kali yang dikomandani oleh Wakil Ketua Sym Andi Cakra dan Pdt KH Rondo, MTh, kemudian seluruh personel BPS dengan BPPS serta tim khusus aset (termasuk di sini Pdt W Langi dan Dokter Su-pit) dan terakhir yang diko-mandani oleh Sekretaris Umum BPS Pdt DK Lolowang, MTh dan Bendahara BPS, Sym Recky Montong STh beserta dengan rombongan Pdt Dr Hein Arina yaitu a.l. anggota jemaat dari Kia-wa. Kedatangan rombongan Se-kum dan Bendahara BPS ini me-nampilkan juga Pendeta Senior, mantan Dekan Fakultas Teologi beberapa kali yaitu Pdt W Langi, MTh yang berorasi di atas ken-daraan dengan menyatakan bahwa ‘para dosen yang pro YPTK adalah pembangkang dan penyesat’. Sayang sekali, sang ‘panutan’ bisa sembarangan ber-ucap. Ada apa? Suasana ‘perang’ makin terasa saat kedatangan Brigade Manguni dengan pakai-an seragamnya lengkap dengan pentungan bersama Dokter Su-pit dengan pakaian yang tidak biasa, kemudian dengan terpak-sa Kapolres Tomohon dan jajar-annya pun datang. Padahal, waktu itu hari Rabu di mana ka-mi bersiap-siap untuk mengada-kan Ibadah Kelompok menurut Kelompok Dosen Penasihat Aka-demik pada jam 11.00. Kamipun mengundang anggota BM untuk beribadah bersama di lapangan UKIT. Sesudah ibadah bersama, baik Dekan maupun Tonaas Wangko diberi kesempatan un-tuk berbicara. Dalam percakap-an sesudah ibadah, tonaas wangko mengatakan bahwa ke-datangan mereka atas perminta-an beberapa pendeta yang mengatakan bahwa di kampus ada kekacauan. Para anggota BM mengatakan bahwa mereka datang karena ada info bahwa mahasiswa akan membakar kampus UKIT. Beginikah gereja menyelesaikan masalah? Apa-kah budaya Minahasa yang kita bangga-banggakan yaitu budaya damai: budaya ‘si tou timou tumou tou’ masih signifikan da-lam mengatasi permasalahan di UKIT, atau kita sedang mem-praktikkan budaya kekerasan: budaya ‘si tou timou tumongko tou’ yang dilakoni oleh para pemerhati adat ? Pada malam hari, kampus harus berjaga-jaga sebab beberapa kali kedatangan beberapa preman yang meng-aku mendapat tugas dari BPS. Semua kedatangan mereka ini disambut oleh civitas kampus dengan ‘berjaga-jaga’. Kami ha-nya minta bukti tertulis bahwa Yayasan Wenas sudah memiliki izin operasional mengelola UKIT. Sampai refleksi ini saya tulis, izin operasional belum ada. 
Kantor dan ruang-ruang kuli-ah sempat dikunci selama tiga hari (15-18 Maret 2007). Semua kunci diserahkan kepada pihak Kepolisian Resort Tomohon sam-pai terbentuknya Tim Indepen-den yang dibentuk oleh Kopertis. Pada tanggal 16 Maret 2007 tim Independen terbentuk di Ma-kassar yang melibatkan dua pihak. Kunci-kunci kantor pusat dan fakultas-fakultas diserah-kan kembali oleh pihak Polres pada tanggal 18 Maret 2007. Ke-beradaan Tim Independen ini se-bagai salah satu jalan yang diha-rapkan dapat menyelesaikan masalah. Keuntungan keber-adaan tim ini ialah suasana kampus kembali kondusif, se-bab masing-masing pihak yang mengatas namakan UKIT pro-duk YPTK GMIM dan Yayasan Wenas tidak boleh saling meng-ganggu, pembelajaran harus tetap berjalan sebagaimana bia-sa. Sayang sekali, niat baik dari Muspida Tomohon dan Kopertis dibatalkan oleh pihak Yayasan Wenas dengan mengadakan Pe-milihan Rektor sendiri. Lagi-lagi, kekuasaan BPS dikedepankan. 
Pihak Rektor melalui Senat UKIT sempat melayangkan surat ke BPS untuk mengadakan dia-log, tetapi yang hal itu tidak per-nah terjadi. Fakultas Teologi juga sempat melayangkan surat pada BPS dengan nomor 785/091005 /810/II/2007 tanggal 5 Februari 2007 memohon diagendakan dialog para pihak yaitu BPS GMIM, BP YPTK GMIM, BP Ya-yasan Ds AZR Wenas, Senat UKIT dan para Dosen UKIT, teta-pi tidak ada jawaban dari BPS. Hanya ada percakapan antara BPS dengan para dosen/pekerja GMIM , pegawai dan perwakilan mahasiswa Fakultas Teologi pa-da tanggal 16 Maret 2007, sete-lah tanggal 15 Maret 2007 dilak-sanakan “pertemuan terbatas” para dosen dengan BPS. Pada pertemuan 16 Maret 2006, kami mengusulkan agar diagendakan dialog yang melibatkan semua komponen UKIT seperti dosen-dosen dari semua Fakultas. Se-bab, UKIT bukan hanya Fakul-tas`Teologi. Juga diusulkan agar ada pertemuan para ahli/kuasa hukum YPTK dan Yayasan We-nas untuk mempelajari bersama semua dokumen yang berhu-bungan dengan persoalan UKIT. Lagi-lagi usulan ini tidak di-realisasikan. Bahkan anehnya, pada tanggal 21 dan 22 Maret 2007, 19 dosen mendapat SK tertanggal 5 Maret 2007 tentang pemberhentian selaku dosen dan mendapat penempatan ba-ru sebagai Pendeta/Pekerja Pe-layanan Umum di Kantor Sino-de. Bayangkan, SK sudah ditan-datangani sejak tanggal 5 Ma-ret, kami masih mendapat surat sebagai dosen untuk menghadiri pertemuan terbatas dan perte-muan 16 Maret tersebut. Sembi-lan belas orang dosen ini adalah mereka yang tidak mengisi for-mulir isian dari Yayasan Wenas. Tentang hal ini ada beberapa su-rat yang kami layangkan kepada BPS. Kami hanya ingin segala se-suatu jelas mengikuti aturan dan prosedural. Meskipun, sua-sana kampus sering ‘mencekam’ tetapi pembelajaran serta aktivi-tas kantor berjalan normal. Ini karena UKIT produk YPTK ma-sih diakui oleh pemerintah dan UKIT ini adalah milik warga GMIM yang adalah juga para do-sen, mahasiswa dan pegawai UKIT. Meskipun sedang diper-soalkan, tetapi kegiatan pembe-lajaran dan hubungan-hubung-an kemitraan dengan pemerin-tah dan Perguruan Tinggi lainnya (dalam dan luar negeri) tetap ber-jalan dengan baik. UKIT produk YPTK GMIM masih diakui oleh pemerintah dan ada landasan ge-rejawi, sebab menurut Statuta UKIT 2001 produk YPTK GMIM masih jelas-jelas milik GMIM (baca: anggota jemaat GMIM).(bersambung)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin