|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
11 Januari 2008
|
|
Generasi Baru- Politik Indonesia(1)
Oleh: Jusran D Mokolanut MSi
|
JIKA rakyat Indonesia menengok jauh ke belakang maka saksi-saksi bisu berupa monumen bahkan fosil-fosil dan makam para pahlawan cukup menjadi bukti, bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia, penuh heroisme dan berliku-liku. Lahir dari satu rahim kesamaan “nasib”, tentang ketertindasan, penjajahan, kebangkitan demi mempertahankan kehormatan bangsa dengan satu cita-cita luhur yaitu kemerdekaan rakyat sejati. Bahkan kejatuhan dan keterpurukan ekonomi politik sepanjang tahun 90-an hampir saja menjadikan Indonesia hanya ada di peta dunia saja.
Beruntung rakyat Indonesia mempunyai jiwa nasionalisme yang kuat dengan semangat reli-giusitas yang mengakar dalam kultur rakyat. Ini adalah fakta bahwa Bangsa Indonesia telah mengalami proses historitas panjang. Negara yang pernah di-jajah lebih dari tiga abad, ber-juang meraih martabat kemer-dekaan, mengalami masa tran-sisi politik demokrasi yang ru-wet, menghadapi problem eko-nomi politik, bahkan sampai sa-at ini bangsa Indonesia masih dalam proses “bangkit” menge-jar cita-cita masa depan Indone-sia yang merdeka dan bermar-tabat. “Indonesia harus disela-matkan” singkat dan serius salah seorang kawan menanggapi. Memang mengidealkan suatu perubahan fundamental dari bangsa seperti Indonesia tidak-lah mudah, tapi mencita-citakan suatu perubahan mendasar de-ngan belajar dari sejarah adalah suatu keniscayaan. Orang bijak berkata bangsa besar dan ber-peradaban adalah bangsa yang pintar-pintar belajar dari seja-rahnya.
Satu generasi tidak terlahir begitu saja, tapi dihasilkan oleh dialektika sejarah, sedangkan sejarah bagi seorang pemikir so-sial bernama Foucoult tidak le-pas dari “Nalar Kuasa’ atau da-lam pengertian siapa dan sis-tem apa yang berkuasa di za-man itu ‘nalar kuasa ’sebagai-mana yang dijelaskan Foucoult mampu memproduksi dan me-lahirkan ‘konstruksi sosial dan sejarah’. Teori ini memaklumkan bahwa relasi kuasa mampu memproduksi sistem bahkan pengetahuan untuk mempenga-ruhi pola perilaku sosial yang nantinya akan terwujud menjadi realitas. Secara sosiologis Emile Durkheim menjelaskan bahwa gejala sosial bersifat eksternal, memaksa, dan bahkan berlaku umum terhadap individu, misal-nya saja bahasa, sistem moneter norma-norma profesional dan sebagainya. Durkheim menegas-kan lagi, ini merupakan cara ber-tindak, berpikir, dan berperasa-an yang menunjukkan sifat, ini patut dilihat dari sesuatu yang berada di luar kesadaran indivi-du. (Jhonson 1986:177-188). disini dapat diartikan bahwa cara bertindak, berfikir,bersikap suatu masyarakat dapat di produksi oleh suatu “nalar kuasa” dengan relasi kuasa yang dimilikinya. “relasi Kuasa inilah yang mem-pengaruhi individu-individu, ke-lompok-kelompok bahkan pada tingkatan tertentu menjadi suatu pola perilaku kolektif masyarakat (baik konstruktif maupun nega-tive). sifatnya eksternal dan me-maksa individu. Inilah yang di- ingatkan oleh Durkheim “patut diamati sebagai sesuatu di luar kesadaran indivi du” Pertanyaannya adalah Apakah Generasi baru yang kita harap-kan,sedang berada dalam lipat-an “permainan” nalar kuasa?
Secara teoritis “nalar kuasa” (orang yang berkuasa dan sistim yang diproduksi penguasa) mampu memproduksi dan mengonstruksi suatu kenyataan dengan “kuasa” yang dimiliki-nya. Inilah yang disebut “rekaya-sa konstruk sosial” “secara se-derhana dapat dijelaskan bahwa tanpa disadari dengan permain-an “relasi kuasa” diproduksi mo-del model berperilaku, pengeta-huan, sistim, dan didistribusi ke semua segmen kehidupan dan menjadi pola interaksi dan ko-munikasi sehingga kita dipaksa mengikuti suatu pola perilaku tertentu yang belum tentu sesuai dengan pandangan nilai-nilai keyakinan normatif sosial, bu-daya maupun agama. Bisa jadi saat ini generasi baru Indonesia sudah berada dalam lipatan “nalar kuasa” yang destruktif? Tidak ada yang bisa menjamin-nya!
Untuk melakukan pembacaan terhadap realitas politik hari ini, dasar teoritik diatas akan ba-nyak membantu menguak serta mendeskripsikan fakta sosial politik terkini. Seorang Derrida (pemikir sosial) juga menawar-kan suatu pandangan untuk melihat kebenaran sejarah dan realitas , Derrida menawarkan apa yang disebut “dekonstruksi Sejarah”. Di mana sejarah masa lalu dapat didekonstruksi de-ngan penelitian mendalam dan dapat ditemukan konstruksi so-sial apa yang sedang terjadi di masa itu, bahkan masa kini.
Secara sederhana dapat dije-laskan bahwa suatu rezim poli-tik pemerintahan pada satu ma-sa dan generasi tertentu akan berusaha memaksimalkan pro-duk dan produksi kekuasaan-nya dengan memainkan secara terus menerus “relasi nalar kua-sanya”.(bersambung)
|
|