CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

11 Januari 2008

Generasi Baru- Politik Indonesia(1)
Oleh: Jusran D Mokolanut MSi 

 IKUTI BERITA LAIN

UKIT dan GMIM(5) 
Oleh: Augustien Kapahang-Kaunang

SURAT PEMBACA

Cegah Kemacetan di Belakang Multi Mart

 COMMENTAREN

Antisipasi Kekurangan Pangan

 
JIKA rakyat Indonesia menengok jauh ke belakang maka saksi-saksi bisu berupa monumen bahkan fosil-fosil dan  makam para pahlawan cukup menjadi bukti, bahwa  sejarah perjuangan bangsa Indonesia, penuh heroisme dan  berliku-liku.  Lahir dari satu rahim kesamaan “nasib”, tentang ketertindasan, penjajahan, kebangkitan demi mempertahankan kehormatan bangsa dengan satu cita-cita luhur yaitu kemerdekaan rakyat sejati. Bahkan kejatuhan dan keterpurukan ekonomi  politik sepanjang tahun 90-an hampir saja menjadikan Indonesia hanya ada di peta dunia saja. 

Beruntung rakyat Indonesia mempunyai jiwa nasionalisme yang kuat dengan semangat reli-giusitas yang mengakar dalam  kultur rakyat. Ini adalah fakta bahwa Bangsa Indonesia telah mengalami proses historitas panjang. Negara yang pernah di-jajah lebih dari  tiga abad, ber-juang meraih martabat kemer-dekaan, mengalami masa tran-sisi politik demokrasi yang ru-wet, menghadapi problem eko-nomi politik, bahkan sampai sa-at ini bangsa Indonesia masih dalam proses  “bangkit” menge-jar cita-cita masa depan Indone-sia yang merdeka dan bermar-tabat. “Indonesia harus disela-matkan” singkat dan serius salah seorang kawan menanggapi. Memang mengidealkan suatu perubahan  fundamental dari bangsa seperti Indonesia  tidak-lah mudah, tapi mencita-citakan suatu perubahan mendasar de-ngan belajar dari sejarah adalah suatu keniscayaan. Orang bijak berkata bangsa besar dan ber-peradaban adalah bangsa yang pintar-pintar belajar dari seja-rahnya.
Satu generasi  tidak terlahir begitu saja, tapi dihasilkan oleh dialektika  sejarah, sedangkan sejarah  bagi seorang pemikir so-sial bernama Foucoult tidak le-pas dari “Nalar Kuasa’ atau da-lam pengertian  siapa dan sis-tem apa yang berkuasa di za-man itu ‘nalar kuasa ’sebagai-mana yang dijelaskan Foucoult mampu memproduksi dan me-lahirkan ‘konstruksi sosial dan sejarah’. Teori ini memaklumkan bahwa relasi kuasa mampu memproduksi sistem bahkan pengetahuan untuk mempenga-ruhi pola perilaku sosial yang nantinya akan terwujud menjadi realitas. Secara sosiologis Emile Durkheim menjelaskan bahwa gejala sosial bersifat eksternal, memaksa, dan bahkan berlaku umum terhadap individu, misal-nya saja bahasa, sistem moneter norma-norma profesional dan sebagainya. Durkheim menegas-kan lagi, ini merupakan cara ber-tindak, berpikir, dan berperasa-an yang menunjukkan sifat, ini patut dilihat dari sesuatu yang berada di luar kesadaran indivi-du. (Jhonson 1986:177-188). disini dapat diartikan bahwa cara bertindak, berfikir,bersikap suatu masyarakat dapat di produksi oleh suatu “nalar kuasa” dengan relasi kuasa yang dimilikinya. “relasi Kuasa inilah yang mem-pengaruhi individu-individu, ke-lompok-kelompok bahkan pada tingkatan tertentu menjadi suatu pola perilaku kolektif masyarakat (baik konstruktif maupun nega-tive). sifatnya eksternal dan me-maksa individu. Inilah yang di- ingatkan oleh Durkheim “patut diamati sebagai sesuatu di luar kesadaran indivi du” Pertanyaannya adalah Apakah Generasi baru yang kita harap-kan,sedang  berada dalam lipat-an “permainan” nalar kuasa?  
Secara teoritis “nalar kuasa” (orang yang berkuasa dan sistim yang diproduksi penguasa) mampu memproduksi dan mengonstruksi suatu kenyataan dengan “kuasa”  yang dimiliki-nya. Inilah yang disebut “rekaya-sa  konstruk sosial” “secara se-derhana dapat dijelaskan bahwa tanpa disadari dengan permain-an “relasi kuasa” diproduksi mo-del model berperilaku, pengeta-huan, sistim, dan didistribusi ke semua segmen kehidupan dan menjadi pola interaksi dan ko-munikasi sehingga kita dipaksa mengikuti suatu pola perilaku tertentu yang belum tentu sesuai dengan pandangan nilai-nilai keyakinan normatif sosial, bu-daya maupun agama. Bisa jadi saat ini generasi baru Indonesia sudah berada dalam lipatan “nalar kuasa” yang destruktif? Tidak ada yang bisa menjamin-nya!  
Untuk melakukan pembacaan terhadap realitas politik hari ini, dasar teoritik diatas akan ba-nyak membantu menguak serta mendeskripsikan fakta sosial politik terkini. Seorang  Derrida (pemikir sosial) juga menawar-kan  suatu pandangan untuk melihat kebenaran sejarah dan realitas , Derrida menawarkan apa yang disebut “dekonstruksi Sejarah”. Di mana sejarah masa lalu dapat didekonstruksi de-ngan penelitian  mendalam dan dapat ditemukan konstruksi so-sial apa yang sedang terjadi di masa itu, bahkan masa kini. 
Secara sederhana dapat dije-laskan bahwa suatu rezim poli-tik pemerintahan  pada satu ma-sa dan generasi tertentu akan berusaha memaksimalkan pro-duk dan produksi kekuasaan-nya dengan memainkan secara terus menerus “relasi nalar kua-sanya”.(bersambung)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin