HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

12 Januari 2008

Pemakaman Ala Militer Disiapkan


Secara medis, mantan Presi-den Soeharto masih bernafas hingga Pukul 23.40 WIB tadi malam. Namun demikian kondisinya sudah sangat pa-rah. Jantung, ginjal dan otak mantan penguasa Orde Baru tersebut, sudah rusak. Hidup Soeharto tinggal diperpanjang dengan alat bantu. Salah satunya ventilator (alat bantu pernapasan). Namun alat ini tidak akan banyak membantu. 
“Ventilator adalah alat ter-akhir yang digunakan manu-sia. Tapi itu tidak akan banyak membantu. Karena pasien bernafas dengan bantuan alat, jantung juga berdetak kare-na bantuan alat dan obat-obatan,” ujar Menkes Siti Fa-dilah Supari, Jumat (11/01) pukul 23.05 WIB. 
‘’Ventilator ini tidak mem-bantu untuk sembuh, tapi membantu untuk bernafas, karena sebelumnya tidak bisa bernafas.” 
Siti Fadilah Supari juga me-nambahkan bahwa sebenar-nya dari sisi medis, hingga tadi malam, tinggal menunggu waktu bagi penguasan Orde Baru. Menkes menambahkan, dokter dan keluarga sebenar-nya sudah pasrah. “Dokter se-benarnya sudah menyerah. Keluarga juga pasrah dengan kondisi Pak Harto saat (tadi malam, red) ini,” kata Menkes Siti Fadilah Supari tadi malam. Siti Fadilah mengaku dirinya saat ini terus standby untuk memantau laporan dari dokter kepresidenan yang menangani Soeharto. 
Sementara, seorang kerabat dekat keluarga Cendana me-ngatakan, kematian Soeharto sebenarnya sudah sangat dekat. Jika alat bantu dicabut, tinggal diumumkan kematian-nya. Jika wafat, Soeharto akan dimakamkan ala militer. “Pak Harto kan jenderal bintang lima. Akan ada upacara mili-ter,” ujar Dandim Solo, Letkol Saputro Adi Nuhgroho saat di-temui di Kalitan, tadi malam.
Di sisi lain, disebutkan bah-wa pengamanan Very Very Im-portant Person (VVIP) akan di-lakukan, jika nantinya pema-kaman Pak Harto dipimpin Presiden SBY. “Kalau inspek-tur pemakanan presiden, akan dilakukan secara VVIP. Sesuai protokoler, sesuai prosedur,” ujar Saputro Adi Nuhgroho. Pihaknya juga telah menyiap-kan pengawalan dan penga-manan bagi Soeharto mulai dari Bandara, Kalitan, hingga Astana Giribangun. Jalur yang mungkin akan digunakan me-nuju pemakaman Pak Harto adalah Bandara Adi Soemar-mo-Jebres-Palur-Karang-anyar-Astana Giribangun. 
Presiden SBY dikabarkan akan segera pulang dari lawa-tannya ke Malaysia pagi ini. Wapres Jusuf Kalla juga mem-batalkan kunjungannya ke Riau. Sementara itu, sejumlah kerabat dan tokoh telah da-tang menjenguk Soeharto. Di antaranya Wiranto, Prabowo, Moerdiono, OC Kaligis dan lainnya. Sementara kediaman-nya di Cendana banyak dida-tangi warga masyarakat. Selu-ruh keluarga Soeharto dika-barkan menangis, termasuk di antaranya Tutut yang tak kuasa menitikkan air mata ketika dibesuk Wapres Jusuf Kalla. 
DITIDURKAN
Sampai tadi malam berita ini ditulis, berbagai alat bantu menancap di tubuh Pak Harto. Yang terbaru adalah alat bantu nafas ventilator. Alat itu dipasang karena kondisi Soeharto gawat. “Kondisinya sangat kritis sekali sehingga beliau terpaksa ditidurkan de-ngan alat bantu nafas venti-lator,” kata dr Mardjo Soe-biandono, ketua tim dokter kepresidenan.
Upaya terakhir tadi malam adalah pemberian oksige-nisasi. “Mudah-mudahan de-ngan pemberian oksigensiasi bisa kembali pulih. Tidak tahu kapan alat ini bisa dilepas,” kata seorang anggota tim dokter, dr Munawar. 
Sampai Pukul 01.00 dini hari WITA tadi, kondisi Pak Harto masih bikin penasaran. Dokter pun terus dicecar wartawan yang terus ngepos di RSPP. “Bapak belum meninggal,” kata Ketua Tim Dokter Kepresi-denan Mardjo Soebiandono saat ditanyai. “Kondisi teka-nan darahnya 130/70 mmHg. Saat ini dipasang alat bantu nafas, dan juga alat untuk me-nyedot cairan juga dipasang,” tutur Mardjo. 
Loh, alat sedot cairan tadi ka-barnya sempat dicopot? tanya wartawan. “Ya, itu kita pasang lagi,” sahut Mardjo singkat. 
KISAH
Soeharto adalah Presiden ke-dua Republik Indonesia. Be-liau lahir di Kemusuk, Yog-yakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosu-diro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah da-lam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.
Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindah-kannya ke Wuryantoro. Soe-harto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, se-orang mantri tani.
Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pega-wai Mangkunegaran. Perkawi-nan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hu-tami Endang Adiningsih.
Jenderal Besar HM Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemili-teran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen de-ngan pangkat Mayor dan ko-mandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.
Pada tahun 1949, dia ber-hasil memimpin pasukannya merebut kembali Kota Yogya-karta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembeba-san Irian Barat).
Tanggal 1 Oktober 1965, me-letus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain diku-kuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Re-volusi Bung Karno.
Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasawarsa lewat enam kali pemilu, sampai ia mengundurkan diri 21 Mei 1998 dan menyerahkan peme-rintahan di tangan BJ Habi-bie.(zal/dtc/sum*) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin