|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
14 Januari 2008
|
|
Jurnalisme Simpati bagi Korban Bencana(1)
oleh: Triyono Lukmantoro
|
Jurnalisme hadir untuk memberikan sentuhan kemanusiaan. Itulah pokok soal yang harus ditekankan ketika jurnalis meliput berbagai bencana alam. Pernyataan ini memiliki kontekstualitas karena negeri ini tidak pernah berhenti dirundung bencana alam, dari banjir bandang, angin puting beliung, tanah longsor, hingga tsunami.
Tanpa nilai humanisme, jurnalisme bisa terpelanting sebagai mesin dokumentasi yang menempatkan korban-korban bencana hanya se-bagai obyek konsumsi.
Memang, obyektivitas adalah nilai moral yang harus di-pegang teguh para jurnalis. Namun, layakkah dengan pa-tokan obyektivitas itu yang terjadi justru jurnalis meng-eksploitasi korban-korban bencana?
Disadari atau tidak selama ini kalangan jurnalis telah bertindak eksploitatif ter-hadap korban bencana.
Fenomena paling mencolok adalah model jurnalisme te-levisi, yang lebih mengandal-kan aspek visualitas dan sua-ra dalam menampilkan para korban.
Digambarkan secara jelas bagaimana kaum ibu berte-riak-teriak histeris akibat ke-takutan dan kehilangan ang-gota keluarga. Anak-anak dan bayi-bayi tak berdosa yang berada dalam situasi kenes-tapaan disorot kamera secara vulgar. Mayat-mayat bergelim-pangan dengan kondisi me-ngenaskan ditampilkan secara kasar.
Dalam perspektif jurnalisme setiap peristiwa bencana yang mengakibatkan korban jiwa, manusia yang terluka, dan lenyapnya harta benda, pasti memiliki nilai berita (news values) yang tinggi.
Apalagi, jurnalisme memiliki doktrin bahwa berita berasal dari fakta, namun tidak setiap fakta dapat diberitakan.
Bencana alam memiliki nilai berita yang tinggi. Sebab, pada satu sisi, bencana jarang ter-jadi. Peristiwa yang langka dan tidak diharapkan terjadi se-cara otomatis memuat nilai berita yang tinggi.
Pada sisi lain, bencana se-cara potensial ataupun realis-tis menimbulkan efek destruk-tif bagi kehidupan manusia. Hal ini dengan sendirinya me-ngundang jurnalis untuk me-liputnya dengan alasan nilai berita.
Problem substansialnya, apakah jurnalis masih pantas menjadikan nilai berita se-bagai panduan absolut tanpa pernah merisaukan nilai-nilai kemanusiaan?
Jika gejala ini yang bergulir bukankah nilai berita sejajar dengan nilai jual?
Tidakkah jurnalis menjadi-kan korban bencana sebagai komoditas yang diperjualbeli-kan dalam mekanisme pasar?
Dalam rumusan yang lebih tegas, korban bencana men-jadi materi berita yang disir-kulasikan akibat kepentingan uang belaka. Jurnalisme pun memperlakukan korban se-kadar sebagai kapital.
Ketika jurnalis memposisi-kan kalangan korban bencana sebagai modal yang memiliki harga finansial maka kalkulasi tertinggi yang dijalankan jurnalis adalah bagaimana mengakumulasikan kapital serta memaksimalkan keun-tungan.
Deskripsi Penderitaan
Kemungkinan saja pada saat jurnalis mengekspos pen-deritaan korban bencana ru-jukan yang digunakan adalah pernyataan Finley Peter Dunne (1867-1936) yang ber-bunyi: To comfort the afflicted and afflict the comfortable.
Salah satu tugas utama jur-nalis, menurut penulis dan humoris Amerika pada abad ke-19 itu, adalah “Mem-berikan rasa nyaman bagi pi-hak yang berkesusahan dan menyusahkan pihak yang hi-dup nyaman”.
Namun, benarkah ketika jurnalis menampilkan des-kripsi tentang penderitaan korban bencana serentak de-ngan itu membuat korban me-rasa nyaman?
Benar pulakah ketika kha-layak media massa mengkon-sumsi penderitaan korban otomatis membuat mereka merasa terganggu atau jatuh hati dan memberikan bantu-an? Tentu saja, tidak!
Mengandaikan jurnalisme memiliki efek linear dan lang-sung bagi korban dan kon-sumen media adalah pemikir-an naif.
Selalu saja ada keberjarakan emosional antara pihak yang mengalami langsung bencana dengan pihak yang sekadar berposisi sebagai penonton atau penikmat.
Ketika korban bencana di-suguhkan jurnalis dalam pemberitaan media peranan yang bisa dimainkan korban adalah sebagai obyek yang disaksikan.
Sebaliknya, kalangan kon-sumen media berperanan se-bagai subyek yang menyak-sikan. Hubungan obyek-sub-yek inilah yang menjadikan sisi keterlibatan perasaan seringkali gagal dihadirkan media.
Tepat apa yang dikemuka-kan oleh F Budi Hardiman (dalam ‘Nafsu Mata atas Derita: Perihal Tatapan Fotografis’, Kalam No. 23, 2007) yang me-nyatakan bahwa melihat pen-deritaan orang lain akan tam-pak sebagai keangkuhan jika tidak disertai keterlibatan.
Bukanlah aku berpikir mau-pun aku melihat yang dibutuh-kan untuk terlibat dalam pen-deritaan, melainkan di sinilah aku.
Dalam penderitaan, ada yang mudah terluka oleh sorot mata orang lain. Melihat memiliki momen kekerasannya sendiri.
Ketika sorot mata itu ber-jarak, maka hal yang terjadi adalah mengabaikan ketung-galan dan menghujam deng-an perspektif egosentrisnya sendiri.
Inilah tatapan yang cuma menjalankan inspeksi, me-mandang sekilas, menelanja-ngi sesuatu sebagai obyek hasrat, menghakimi, dan se-terusnya.
Demikian itulah yang di-sebut sebagai the violence of vision, kekerasan pandangan.
Bukan cuma tatapan mata kamera jurnalis yang men-jadikan penderitaan korban semakin dihujam.
Seiring dengan frekuensi media menampilkan korban-korban bencana, peristiwa yang seringkali tidak disadari para jurnalis dalam meliput bencana adalah jurnalis ber-transformasi sebagai spin doctors dalam aktivitas public relations.
Kenyataan ini dapat disimak ketika para pejabat negara, tokoh-tokoh partai politik, atau figur-figur penuh ke-genitan yang berpredikat se-lebritis, mengunjungi lokasi bencana.
Sosok-sosok populer itu di-gambarkan sebagai agen-agen sosial yang memiliki kepeduli-an tinggi terhadap penderita-an korban. Mereka ditampil-kan sedang memberikan ban-tuan sambil berceloteh ten-tang kesabaran.
Jika jurnalis tidak bersikap kritis terhadap hal ini, maka jurnalis beralih fungsi sebagai operator mesin pencitraan belaka. Itulah spin doctors.
Fakta dengan Nilai
Jenis jurnalisme apa yang tepat untuk meliput korban dalam peristiwa bencana? Tidak lain adalah jurnalisme simpati.(bersambung)
|
|