|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Mimbar dan Keagamaan |
17 Januari 2008
|
|
MUI Sulut Minta Pemerintah
Tetap Waspadai JAI
|
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulut menilai pernyataan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir perlu disambut baik. Namun, pemerintah harus tetap mewaspadai.
Sekretaris MUI Sulut, Drs Amin Lasena, Rabu (16/01) mengatakan, sesuai informasi yang kami ikuti waktu lalu, keputusan yang diambil JAI tersebut setelah melakukan pembicaraan dengan Depag pada 14 Januari 2008 lalu yang dihadiri tokoh agama Is-lam dan instansi pemerintah. Dalam pertemuan tersebut JAI mengeluarkan 12 butir penjelasan mengenai pokok ajaran Ahmadiyah yang di-tandatangani oleh Amir JAI Abdul Basit.
“Kami menyambut baik se-bagai saudara sesama Mus-lim kalau benar JAI sudah bertobat mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi ter-akhir dan Mirza Ghulam Ah-mad sebagai guru. Tetapi ka-lau pernyataan mereka ini se-kadar taktik saja harus be-nar-benar diwaspadai,” kata.
“Kita berharap JAI tidak se-kadar lips service atau per-nyataan omong kosong de-ngan pengakuan yang terbaru ini. Kami akan lihat lebih lan-jut sejauh mana kesung-guhan pernyataan mereka itu. Kalau sungguh-sungguh mereka kembali kepada aja-ran Islam maka kita terima mereka sebagai saudara kita,” tegasnya.
Pernyataan JAI tersebut me-nurut dia, akan menjadi pem-bahasan selanjutnya dan MUI Sulut masih menunggu un-dangan dari MUI Pusat untuk membicarakan masalah ini. “MUI tetap akan mempelajari dan melakukan klarifikasi ke-pada tim penandatanganan 12 butir JAI,” tandasnya.
Menurutnya, banyak hal yang akan dipertanyakan se-cara detail 12 butir pernya-taan JAI tersebut. “Intinya se-sama umat beragama, seba-gai saudara sebangsa kami menghargai pengakuan yang tertera dalam 12 butir itu. Tetapi hal ini akan diakui bila telah ada klarifikasi terhadap JAI,” cetusnya.(lex)
|
|