HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

18 Januari 2008

Mentan Larang Lahan Balitka Jadi Pacuan Kuda


Rencana Pemkot Manado menjadikan lahan Balai Pene-litian Kelapa (Balitka) seluas 100 hektar di wilayah Keca-matan Mapanget, sebagai areal pacuan kuda, menuai ke-kecewaan Menteri Pertanian (Mentan), Prof Dr Anton Aprian-tono. Pasalnya, lahan Balitka tersebut merupakan satu-sa-tunya areal plasma nutva yang ada di Indonesia. Juga status tanahnya adalah milik De-partemen Pertanian. 
“Saya akan lihat ke lokasi untuk memastikan hal ini. Ji-ka memang ada rencana un-tuk menjadikan areal sebagai lahan pacuan kuda, maka rencana itu harus dibatalkan, dan secepatnya mencari tem-pat yang lain. Sebab, Balitka ini sangat penting bagi ke-langsungan pembibitan ke-lapa unggul. Jadi sekali lagi saya katakan tidak boleh,” te-gasnya saat dicegat warta-wan, seusai menghadiri semi-nar yang digelar Fakultas Per-tanian Unsrat, di Hotel Qua-lity, Kamis (17/01) kemarin.
Pembabatan lahan Balitka ini, sebelumnya diungkapkan Kepala Balitka, Dr Hengky No-varianto yang mengeluhkan langsung kepada Apriantono, agar persoalan ini dapat di-luruskan. “Sebab, dari 100 hek-tar lahan pembibitan kelapa, 30 persennya sudah dibabat. Jadi kami mohon agar per-soalan ini dapat dituntaskan,” katanya.
Di sisi lain, Apriantono yang hadir sebagai narasumber da-lam seminar tersebut, menga-takan bahwa tanaman kelapa di Indonesia, pada periode ta-hun 1960-1970-an pernah mengalami kejayaan, khusus-nya komoditi kopra. Namun sayang dalam perkemba-ngannya, khususnya pada tahun 1980-an, peran kelapa sebagai bahan baku kelapa itu tenggelam dan tergeser oleh komoditi lainnya. “Saat ini areal tanaman kelapa ter-catat ada 3,8 juta hektar de-ngan produksi 3,2 juta ton se-tara kopra, di mana 98 persen diusahakan oleh perkebunan rakyat. Karena itu, kelapa merupakan komoditi pangan terpenting di Indonesia mau-pun di dunia internasional. Sebab, dari kelapa dapat di-hasilkan banyak manfaat dan kegunaan,” tukasnya.
Selama ini komoditas kelapa, hanya dimanfaatkan produk primernya, baik dalam bentuk kepala segar maupun kopra, untuk bahan baku minyak goreng. Sementara pengem-bangan dan pemanfaatan pro-duk hilir kelapa belum ba-nyak dilakukan, demikian juga dengan hasil turunan lainnya. Padahal, upaya pe-ngembangan produk dan pe-manfaatan hasil samping akan meningkatkan nilai tam-bah yang pada gilirannya juga akan meningkatkan penda-patan petani kelapa. “Bukan itu saja, selain itu lahan di ba-wah pohon kelapa masih da-pat dimanfaatkan dengan ke-giatan diversifikasi baik de-ngan tanaman pangan mau-pun ternak,” katanya.
Di sisi lain, Apriantono juga menambahkan bahwa pe-ngembangan kelapa, khu-susnya terpadu dimaksudkan untuk meningkatkan produk-si dan untuk memperbaiki produktivitas kelapa melalui diversifikasi usaha tani. Ada-pun kebijakan dalam pengem-bangan kelapa tersebut, meli-puti peningkatan produkti-vitas dan mutu hasil kelapa, pengembangan industri hilir dan dukungan penyediaan pembiayaan.
Sementara itu, Gubernur Sulut Drs SH Sarundajang, dalam kesempatan yang sama ini mengatakan pengemba-ngan kelapa telah dijadikan sebagai program revitalisasi pertanian. Hal ini dimak-sudkan agar Sulut dapat me-ngembalikan kejayaan seba-gai Bumi Nyiur Melambai. “Namun untuk mengemba-likan kejayaan tersebut ma-sih ada kendala yang harus dihadapi, antara lain masih rendahnya produktivitas ka-rena luasnya tanaman tua, gangguan penyakit, pemeli-haraan tidak intensif, keter-batasan modal, benih unggul yang terbatas serta lemahnya posisi tawar. Akibatnya, petani dalam posisi sulit, dan hal ini mengurangi motivasi petani untuk mengembangkan usa-hanya,” paparnya.
Namun demikian, untuk mengatasinya, Pemprop Sulut pada tahun 2004 telah men-canangkan Crash Program Pembangunan Pertanian yang terus dipacu dengan mengga-lang komitmen serta kerja-sama seluruh stakeholders dan upaya merubah pola pikir masyarakat agar tidak terfo-kus padaa hasil komoditi teta-pi lebih kepada way of life. “Sehingga kalau saat ini harga kopra mencapai Rp 5,700 per kilogram, hal itu patut disyu-kuri,” kuncinya.(eda) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin