HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

18 Januari 2008

Keinginan Habibie Bertemu Soeharto 


BJ Habibie sengaja ter-bang jauh-jauh dari Jerman de-mi menje-nguk senior-nya, Pak Har-to, di RSPP. Tapi apa la-cur, selain hanya bisa melihat Pak Harto dari luar ruang, tak ada anak-anak Soeharto yang menemuinya pada tanggal 15 Januari malam. Wartawan pun bertanya kepada Habibie soal perasannya setelah lama tidak bertemu Pak Harto. “Anda bisa temukan jawaban-nya di buku saya,” ujar Habi-bie.
Yang dimaksud buku terse-but adalah otobiografinya berjudul ‘Detik-detik yang Menentukan’, terbitan 2007. Habibie menulis tentang Pak Harto dalam bab I Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto. Di halaman 41, Habibie me-nyatakan kekecewaannya ka-rena tidak bisa berkomu-nikasi dengan Soeharto pada 20 Mei 1998 malam, untuk melaporkan suatu hal pen-ting. Habibie menulis:
“Namun, sangat saya sa-yangkan bahwa Pak Harto ke-tika itu tidak berkenan ber-bicara dengan saya. Ia hanya menugaskan Menteri Sekre-taris Negara, Saadilah Mursyid untuk menyampaikan kepu-tusan bahwa esok harinya pukul 10.00 pagi, Pak Harto akan mundur sebagai Presi-den. Sesuai UUD ’45, Pak Har-to menyerahkan kekuasaan dan tanggung jawab kepada Wakil Presiden RI di Istana Merdeka. Pengambilan sum-pah wakil presiden menjadi presiden akan dilaksanakan oleh Ketua Mahkamah Agung di hadapan para anggota Mahkamah Agung lainnya.
Saya sangat terkejut dan meminta agar segera dapat berbicara dengan Pak Harto. Permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan, dan ajudan presiden menyatakan akan diusahakan pertemuan empat mata dengan Pak Harto di Cendana besok pagi sebelum ke Istana Merdeka.”
Namun esok harinya, 21 Mei 1998, pertemuan empat mata di Cendana itu tidak pernah terjadi. “Tetapi, kemudian sa-ya mendapat berita bahwa Pak Harto ternyata belum ber-sedia menerima saya, dan sa-ya dipersilakan langsung saja ke Istana Merdeka,” tulis Ha-bibie di halaman 62. Di Istana Merdeka, Habibie juga ber-usaha bertemu dengan Soe-harto, namun gagal.
“Tiba-tiba, Protokol dan ADC Presiden mempersilakan Ketua dan para anggota Mah-kamah Agung masuk ke Ruang Jepara. Saya langsung berdiri dan menyampaikan bahwa saya dijanjikan untuk dapat bertemu dengan Presi-den Soeharto. Langsung ADC Presiden kembali ke Ruang Jepara dan hanya sekejap ke-mudian, ADC kembali hanya mempersilakan Ketua ber-sama para anggota Mahkamah Agung masuk ke ruang Jepara di mana Pak Harto berada.
Saya merasakan diperlaku-kan “tidak wajar” dan mena-han diri untuk tetap sabar dan tenang. Saya membaca beberapa ayat Alquran yang saya hafal. Setelah beberapa waktu berlalu, Ketua dan ang-gota Mahkamah Agung keluar dari Ruang Jepara untuk ber-temu dengan Pak Harto. Pera-saan saya makin penuh de-ngan kekecewaan, ketidaka-dilan, dan “penghinaan”, se-hingga saya kemudian mem-beranikan diri untuk berdiri dan melangkah ke Ruang Je-para ingin bertemu langsung dengan Presiden Soeharto.
Namun, baru saja saya ber-ada di depan pintu Ruang Je-para, tiba-tiba pintu terbuka dan protokol mengumumkan bahwa Presiden Republik Indonesia memasuki ruang upacara. Saya tercengang me-lihat Pak Harto, melewati saya terus melangkah ke ruang upacara dan “melecehkan” keberadaan saya di depan se-mua yang hadir.
Betapa sedih dan perih pera-saan saya ketika itu. Saya melangkah ke ruang upacara mendampingi Presiden Soe-harto, manusia yang saya sangat hormati, cintai, dan kagumi yang ternyata meng-anggap saya seperti tidak ada. Saya melangkah sambil me-manjatkan doa dan memohon agar Allah SWT memberi ke-kuatan, kesabaran, dan petun-juk untuk mengambil jalan yang benar.” (halaman 64-65).
Setelah itu, Pak Harto berpi-dato menyatakan mundur di-sertai alasannya. “Untuk per-tama kalinya saya mendengar, alasan Pak Harto mengun-durkan diri sebagai Presiden RI,” tulis Habibie di halaman 66. “Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Pak Harto memberi salam kepada semua yang hadir termasuk saya. Tanpa senyum maupun se-patah kata, dia meninggalkan ruang upacara,” kenang Habi-bie di halaman 67 yang dilan-sir detik.com.(dtc)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin