|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
18 Januari 2008
|
|
Saatnya Memacu Kedaulatan Pangan(1)
Oleh: Martaja
|
Kondisi pangan lokal dan nasional kini terkena dampak buruk perubahan iklim dan global warming. Sebab itu pa-radigma kedaulatan pangan amat penting dikedepankan. Paradigma tersebut sekaligus untuk mengatasi kelemahan kebijakan ketahanan pangan yang selama ini hanya bersan-dar pada pemenuhan pangan secara modern melalui pene-rapan agrobisnis, perdagang-an bebas, dan privatisasi sum-bersumber produktif.
Perubahan iklim dan global warming memicu kenaikan harga pangan karena timbul-nya hambatan/tidak adanya pasokan pangan pada saat yang tepat. Awal Desember la-lu saja terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok di Jakarta dan di berbagai daerah. Di Pa-lembang, misalnya, pada saat itu harga beras berkualitas rendah naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 4.300 per Kg. Di Magelang, harga beras kuali-tas medium mencapai Rp 5.000 per Kg atau naik Rp 500 dibanding sebelumnya (Senin, 10/12). Di Jakarta, pada Minggu (02/12) pagi harga beras jenis IR-64 kualitas satu naik Rp 300 menjadi Rp 5.200 per Kg.
Kenaikan harga gandum, jagung, dan kedelai juga tak terelakkan. Harga gandum, misalnya, melonjak dari US$ 180 per metrik ton pada awal 2007 menjadi sekitar 350 dolar AS saat ini. Fenomena tersebut harus kita cermati jika Indonesia ingin selamat dari ancaman pangan.
Masalah kedaulatan pangan bukan lagi sekadar masalah nasional, tetapi sudah men-jadi isu global. Petani di se-antero dunia kini menuntut adanya kedaulatan pangan.
“Mari kembali pada kearifan lokal dan kedaulatan pangan hingga di level keluarga. Hi-langkan ketergantungan pe-nyediaan pangan pada pihak lain dan ciptakanlah pertani-an berkelanjutan,” kata Henry Saragih, Koordinator Umum Gerakan Petani Internasional dalam Konferensi Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali, Senin (10/12).
Kedaulatan pangan telah membalikkan konsep moder-nisasi menjadi hal-hal yang bersifat back to basic, yakni memprioritaskan produksi pertanian untuk pemenuhan dan keberlanjutan pangan/pasar lokal melalui pengadaan pasokan berbagai produksi pertanian yang memanfaatkan kearifan lokal dan ramah lingkungan.
Perubahan iklim yang mengubah musim kemarau menjadi lebih panjang mem-buat petani tak mampu meng-antisipasinya. Tanaman sa-yuran dan palawija bergan-tung pada kondisi cuaca, se-hingga perubahan cuaca menghambat pertumbuhan tanaman. Maka di daerah-daerah pusat penghasil pa-ngan terjadi mundur panen di-banding tahun-tahun sebe-lumnya. Global warming juga dapat mengurangi kuantitas dan kualitas bahan pangan. Akibatnya, peluang masyara-kat untuk menentukan ma-kanan apa yang akan dipro-duksi, dikonsumsi, dan dipa-sarkan menjadi semakin ter-batas.
Selain menentukan sejauh mana rakyat memenuhi kebu-tuhan pangannya sendiri, konsep kedaulatan pangan menolak dumping produk impor ke pasar domestik. Ke-daulatan pangan kita akan memiliki arti luas jika bangsa ini bisa mengurangi impor ba-han pangan. Ketergantungan terhadap pengiriman bahan makanan lintas negara juga mengakibatkan tingkat emisi CO2 di dunia akan semakin besar.
Kedaulatan pangan tidak menegasikan perdagangan, tapi lebih mempromosikan formulasi kebijakan perda-gangan dan praktek bisnis yang melayani hak rakyat un-tuk produksi pangan berke-lanjutan yang aman, sehat, dan ramah lingkungan.
Alternatif perdagangan pangan semacam ini telah di-aplikasikan di Kuba, Mali, Mozambik, Venezuela, dan Bolivia.(bersambung)
|
|