|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Pendidikan dan Budaya |
18 Januari 2008
|
|
Ruindungan: Pendidikan Berbasis
Agama Jangan Dieksklusivismekan
|
Pakar Pendidikan Sulut, Dr Max Ruindungan, Kamis (18/01), mengatakan pendidikan berbasis agama sekiranya jangan sampai dimasukkan nuansa politis. “Pendidikan moral tidak masalah dan pendidikan berbasis agama harus. Namun perlu diwaspadai jangan sampai dieksklusivismekan,” katanya.
Hal ini menanggapi pernya-taan pengusaha James Riyadi bahwa perlu peningkatan kualitas pendidikan yang ber-basis pada nilai-nilai Kristen, yang diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan dapat bersaing. Untuk itu diperlukan komit-men dan keseriusan semua pihak dalam meningkatkan kualitas pendidikan Kristen yang merosot tersebut di tengah perubahan dunia yang begitu cepat.
Menurut Riyadi, tiga pondasi utama kehidupan yang harus diperhatikan adalah sekolah, pendidikan dan gereja. Ketiga pondasi utama itu saling ter-kait, tidak terpisahkan, namun keluarga merupakan pondasi yang paling utama.
Ruindungan menegaskan, tidak ada masalah soal pen-didikan berbasis agama atau moral, tetapi ini harus meng-ikuti pendidikan berbasis ideo-logi bangsa. “Perlu ditekankan di sini adalah dalam hal pen-didikan moral perlu dimasuk-kan budaya pluralisme baru pas untuk penerapan pendidikan berbasis agama,” tambahnya.
Sementara itu yang perlu di-waspadai adalah pendidikan agama yang dieksklusifkan. Apalagi jika pendidikan agama tersebut dimasukkan nuansa politis. “Hal ini jelas sangat ber-pengaruh dan perlu diwaspa-dai,” tegas staf pengajar di Pas-ca Sarjana Unima.
Dia juga mengharapkan pada pemerintah sekiranya lebih memfokuskan terhadap pe-ngembangan dan peningkatan mutu pendidikan. “Perlu ada-nya penyamarataan atau pe-nyebaran tenaga pengajar. Ser-ta, pemerintah sekiranya lebih memperhatikan fasilitas atau sarana dan prasarana di dae-rah terpencil atau sekolah di pinggiran kota,” tandasnya.(lex)
|
|