|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
18 Januari 2008
|
|
Jangan ‘Menggantung’
Harapan Warga Langowan
|
KALAU melihat dari waktu proses wacana pembentukan Kota Langowan, sedikitnya telah memasuki masa delapan tahun pe-nantian. Pasalnya usulan untuk membentuk kota otonomi La-ngowan, mulai digaungkan sejak tahun 2000. Bahkan kalau mau melihat sejarah jauh ke belakang, Langowan sebetulnya pernah diwacanakan menjadi salah satu calon ibukota Minahasa.
Dalam sejarah Minahasa sendiri, Langowan sebetulnya telah dikenal sebagai salah satu kota tua di Minahasa. Hal ini bila dilihat dari sejarah penginjilan, Langowan telah menjadi pusat penginjilan yang dipelopori oleh Johann Gotlieb Schwars, yang datang ber-sama dengan Riedel pada tahun 1831.
Dan Langowan juga di zaman penjajajan Belanda pernah men-dapat julukan ‘Paris van Minahasa’, di mana kota ini memiliki ke-indahan dengan penataan kota yang artistik, ditambah dengan bangunan-bangunan, serta bunga-bunga yang menghiasai di setiap sudut dan pinggiran jalan.
Dalam sejarah penjajahan Jepang, Langowan pun menjadi salah satu pusat kegiatan tentara Jepang. Apalagi di zaman Jepang, di mana Langowan yang juga meliputi wilayah Kakas, pernah dibangun bandara yang dikenal dengan Kalawiran. Topografi kota Langowan yang cukup rata dalam luas, dengan jalan-jalan yang teratur rapi, pernah dipuji oleh penginjil Nicolas Graafland sebagaimana tertuang dalam bukunya, ‘Minahasa’ yang ditulis pada abad ke-19.
Dengan kesejarahannya, Langowan juga pernah menjadi pusat pendidikan pertama di Minahasa, karena salah satu sekolah pertama di Minahasa telah dibangun oleh penginjil Helendorn, yung merupakan perintis penginjilan di Minahasa. Dalam perkem-bangan selanjutnya, cukup banyak guru-guru asal Langowan yang bisa menjadi pengajar di berbagai daerah di Minahasa, bahkan juga yang ke luar daerah.
Di bidang ekonomi, Langowan sejak lama menjadi pusat per-dagangan di wilayah Minahasa Tengah dan Tenggara. Bahkan juga daerah Tolour menjadikan Langowan sebagai pusat perda-gangan. Hal itu pun masih berlanjut sampai saat ini, karena di Langowan memiliki pasar terbesar di Minahasa.
Dalam dunia kesehatan pun, Belanda telah membangun rumah sakit yang representatif yang berlokasi di Desa Noongan. Begitu pula dalam pelayanan kesehatan GMIM, pernah dibangun rumah sakit Kaupusan, yang akhirnya gedungnya disewa oleh Puskesmas Wolaang sampai saat ini. Gereja Roma Katolik juga telah mem-bangun rumah sakit Budi Setia. Dari berbagai fasilitas yang tersedia di Langowan, memang sudah sangat layak untuk menjadi kota otonom. Apalagi kini telah memiliki empat kecamatan. Namun sampai saat ini, harapan tersebut masih menggantung. Kini tinggal menunggu political will Pemkab Minahasa.(**)
|
|