|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Tribun Olahraga |
19 Januari 2008
|
|
Surat kompensasi ditulis tangan
Deisy Sumigar Lecehkan KONI Sulut
|
Eks sprinter Sulut, Deisy Sumigar yang sekarang ini telah ‘angkat koper’ dan hijrah ke Kaltim, Jumat (18/01) kemarin, muncul di KONI Sulut. Kedatangannya yang terburu-buru, ternyata membawa surat kompensasi dari KONI Kaltim. Sayangnya, surat tersebut hanya ditulis tangan, dan tanpa susunan yang jelas sesuai dengan etika surat-menyurat. Bahkan amplopnya pun tidak tertera sama sekali cap KONI Kaltim. Atas perlakuannya ini, Deisy dianggap tidak etis, dan bahkan melecehkan KONI Sulut.
Sekretaris Umum KONI Su-lut, Nootje Apituley yang me-nerima surat tersebut pun berang. “Dia (Deisy, red) pikir, organisasi KONI Sulut ini apa, masa suratnya seperti itu. Di-tulis tangan lagi, apalagi for-mat dari surat itu, tak sesuai dengan aturan administrasi yang ada,” ketus Apituley de-ngan nada tinggi.
“Mungkin menurut dia, KONI Sulut ini mata duitan, jadi meskipun surat dalam bentuk apapun akan dires-pons dengan baik. Padangan-nya itu salah besar. Pokoknya saya tak akan membuka surat itu,” tegasnya lagi.
Kedatangan Deisy kemarin sangat buru-buru. Saat ber-temu dengan Sekretaris Umum KONI Sulut, Nootje Apituley, tanpa basa-basi, ia langsung menyerahkan am-plop yang dibawanya, dan tak hitung tiga langsung me-ninggalkan gedung KONI Sulut. Saat didesak wartawan dengan pertanyaan maksud kedatangannya itu, Deisy mengakui, dirinya membawa surat kompensasi dari KONI Kaltim untuk KONI Sulut. “Maaf saya buru-buru, karena sudah mau balik ke Kaltim besok (hari ini, red). Surat yang saya bawa itu adalah surat kompensasi. Karena fax-nya di sini rusak, maka saya yang mengantar sendiri surat ini,” ujar Deisy dengan wajah tak bersahabat.
Sikap Deisy ini turut men-dapat perhatian dari pemer-hati olahraga Sulut ini. Di mana menurut salah seorang pemerhati olahraga, sikap Deisy itu tidak sopan bahkan terkesan melecehkan institusi KONI.
“Deisy itu tidak pikir, nama-nya besar karena siapa? Me-mang pantas kalau dibilang dia itu ‘kacang yang lupa pada kulitnya’,” tukas pemerhati tersebut yang enggan nama-nya dikorankan.(sal)
|
|