|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
19 Januari 2008
|
|
Rayakan HUT ke-63,
Sarundajang Siap Dikritik
|
GUBERNUR Sulut SH Sarundajang kini telah memasuki usia ke-63, tepatnya pada 16 Januari 2008. Di usia yang sudah cukup matang, Sarundajang memang telah menjalani hidupnya dengan sejumlah prestasi. Namun tentunya Sarundajang juga punya ba-nyak kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itulah di HUT ke-63 itu ia pun mengatakan siap dikritik, asal sifatnya konstruktif dan membangun, dan bukannya karena fitnah.
Untuk menjadi pemimpin, satu hal yang harus menjadi bagian dalam kepemimpinannya adalah siap dikritik. Dan orang yang siap dikritik sudah pasti adalah orang yang dewasa dan obyektif. Ka-rena sehebat apapun manusia itu, ia pasti punya kekurangan.
Bagi masyarakat Sulut yang umumnya bersifat demokratis dan egaliter, soal kritik-mengritik merupakan hal biasa. Hanya saja seperti yang diungkapkan Sarundajang, harus menjauhi budaya ‘baku cungkel’. Istilah ini memang populer di kalangan orang Mina-hasa. Di mana budaya ini memang lebih disebabkan karena ada-nya iri hati dan tidak senang orang lain lebih baik dari dirinya atau kelompoknya. Meskipun bagi kalangan orang Minahasa tertentu ada yang menilai budaya ‘baku cungkel’ sebetulnya tidak selama-nya berbau negatif. Karena dari segi positif ‘baku cungkel’ itu me-rupakan kompetisi yang sehat asalkan caranya tidak didasarkan pada upaya untuk menjatuhkan seseorang tanpa alasan.
Dalam perjalanan karirnya sebagai birokrat, Sarundajang me-mang telah makan pahit manisnya kehidupan. Ia memang dibesar-kan oleh seorang birokrat, yaitu ayahnya sendiri. Dan dari karirnya sebagai birokrat, ia telah memulainya dari bawah. Dan kesuksesan ia peroleh tidak lepas dari sikapnya yang tegar dalam menghadapi berbagai ujian.
Sebagaimana diketahui, sejumlah jabatan strategis di lingkungan birokrat pernah dipegangnya. Antara lain, Sekda Minahasa, Wali-kota Bitung, Irjen Depdagri, Pejabat Gubernur Maluku Utara dan Gubernur Maluku, dan terakhir sebagai Gubernur Sulut pilihan rakyat. Dalam suatu konferensi pers di Kawangkoan beberapa waktu lalu, ia mengatakan sebagai birokrat sebetulnya ia sudah puas dengan jabatan yang telah diterimanya. Namun kerinduan untuk membangun Sulut, membawa dirinya untuk menjadi Guber-nur Sulut. Di masa kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di daerah Nyiur Melambai, ia memang terus berupaya mencari berbagai terobosan. Dimulai dari revitalisasi pertanian, penyela-matan lingkungan, sampai pada bagaimana mengangkat Sulut ke tingkat nasional dan internasional.
Rencana pelaksanaan WOC tahun 2009, merupakan salah satu impian Sarundajang untuk mengangkat citra Sulut di dunia inter-nasional. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila ia terus menso-sialisasikan kegiatan akbar
ini.(**
|
|