|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
21 Januari 2008
|
|
Sarundajang: Kembalikan
Predikat Nyiur Melambai
|
Predikat Sulut sebagai ‘Bumi Nyiur Melambai’ terancam. Tak heran jika pemprop di ba-wah kepemimpinan Drs SH Sarundajang dan Freddy Sualang, berupaya secara se-rius mengembalikan kejayaan Sulut sebagai daerah peng-hasil kelapa lewat program re-vitalisasi pertanian.
Namun demikian, untuk menuju maksud tersebut, tidaklah mudah. Pasalnya, pemerintah tidak dapat ber-gerak sendiri tanpa adanya dukungan dan komitmen yang kuat dari petani kelapa Sulut, yang saat ini tersebar di 270 ribu hektar dengan produktivitas lebih kurang 1,1 ton per hektar per tahun. Apalagi dalam perkembang-annya, ada banyak kendala yang harus dihadapi petani, yakni rendahnya produksi yang disebabkan luasnya tanaman tua (70 tahun ke atas), serangan hama dan pe-nyakit sexava yang sering di-dapati di Sangihe dan Talaud, serangan busuk pucuk di daerah Minahasa dan Bol-mong, serta keterbatasan mo-dal untuk melaksanakan in-tensifikasi dan peremajaan.
“Karena itu, saya minta ke-pada petani agar menyisih-kan 10 persen, dari hasil pa-nennya dapat dijadikan bibit. Masyarakat jangan segan-segan untuk melakukan pere-majaan kelapa. Kita harus kembalikan Sulut dengan predikat daerah Nyiur Melam-bai-nya,” tukas Gubernur Sa-rundajang baru-baru ini.
Ajakan Sarundajang ini me-mang sudah tidak asing lagi. Pasalnya, dalam kesempatan apapun, masyarakat selalu diajak untuk kembali memi-liki kecintaan menanam, khu-susnya pada komoditi yang memiliki potensi. “Sungguh tragis jika Sulut yang selama ini dikenal oleh dunia sebagai Bumi Nyiur Melambai, tiba-tiba dalam waktu singkat su-dah tidak memiliki predikat tersebut. Hal ini tidak lain di-karenakan kelalaian petani yang tidak lagi giat melaku-kan peremajaan. Apalagi de-ngan maraknya pemanfa-atan pohon kelapa sebagai ke-butuhan furnitur,” katanya.
Komoditi kelapa, lanjutnya telah menyelamatkan Sulut. Bahkan sampai kiamat sekali pun, kelapa harus terus ada di Sulut. “Selama ini, tidak ada sebutan daerah Nyiur Me-lambai selain Sulut. Karena itu mari kita jaga pohon kelapa kita,” ujar Sarunda-jang. Dijelaskannya, saat ini terjadi perbedaan mencolok antara bibit kelapa yang ter-sedia dengan jumlah pohon kelapa yang dipotong.
“Kepada petani saya me-minta agar tidak memotong pohon kelapa baik yang pro-duktif, kelapa tua maupun yang terserang hama. Sebab dalam setahun ini jumlah pohon yang dipotong jumlah-nya mencapai 50 ribu pohon, sementara bibit yang tersedia hanya sekitar 10 hingga 20 ri-bu. Perbedaan ini sangat jauh. Karena itu, mulai saat ini, kita harus membangun bibit jika tidak 50 tahun ke depan, Su-lut bakal kehilangan pohon kelapa,” paparnya.
Di sisi lain, dalam masa kepemimpinannya saat ini, Sarundajang juga menga-takan bahwa harga kopra yang berlaku di pasaran telah menunjukkan tren yang sa-ngat baik, yakni mencapai Rp 5,700 per kilogram. Diharap-kan hal ini dapat berlangsung lama.
Menariknya, di tengah upa-ya untuk mengembalikan ke-jayaan Bumi Nyiur Melambai tersebut, saat ini, Pemprop Sulut diperhadapkan pada masalah krusial. Hal ini terkait pengalihan lahan Balitka yang ada di Keca-matan Mapanget, yang ren-cananya akan difungsikan oleh Pemkot Manado sebagai areal pacuan kuda. “Lahan pembibitan ini sangat berarti bagi kelangsungan tanaman kelapa kita. Karena itu, upaya untuk mendirikan areal pa-cuan kuda harus diurung-kan,” ucapnya dengan nada kecewa.(eda)
|
|