|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
22 Januari 2008
|
|
Catatan eksklusif JJM dari Bradford, Inggris(1)
Awalnya Mencoba, Malah Wakili Legislator se-Indonesia
|
SEBUAH kepercayaan yang membanggakan bagi Sulawesi Utara (Sulut), ketika Jeffrey Johanes Massie (JJM) menjadi satu-satunya legislator di tanah air yang dipercayakan Pemerintah Inggris menimba ilmu di University of Bradford. Dan perjalanannya menuju negeri Ratu Elizabeth itu, dilaporkan secara eksklusif bertepatan dengan HUT ke-7 Harian Komentar yang jatuh pada Selasa (22/01) ini. Berikut catatan JJM yang dikenal sebagai Anggota Komisi I DPR RI dan juga Presdir Komentar Group.
Tanpa terasa seminggu su-dah saya berada di Inggris, te-patnya di Kota Bradford yang terletak di utara London, ibu-kota kerajaan yang bernama resmi United Kingdom of Great Britain ini. Keberadaan saya di kota yang memiliki konsentrasi
warga keturunan Pakistan terbesar di Inggris ini, ber-kaitan dengan keikutsertaan saya dalam program beasiswa Chevening Fellowship yang diadakan Kementerian Luar Negeri Inggris melalui Kantor British Council (Pusat Kebu-dayaan Inggris) di setiap ne-gara, di mana Inggris memiliki perwakilan diplomatik.
Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk bisa mengikuti course yang diadakan selama tiga bulan ini, mengingat ‘kuota’ peserta yang cukup terbatas serta topik course yang dilangsungkan di Uni-versity of Bradford ini. Keikut-sertaan saya dalam course ini berawal ketika beberapa wak-tu lalu Ketua Komisi I DPR RI, Theo Sambuaga, menanyakan apakah saya berminat untuk mencoba meng-apply dalam program ini.
Tertarik akan topik course yang ternyata berhubungan erat dengan masalah perta-hanan (yang menjadi salah satu tugas pokok Komisi I DPR RI), saya mencoba untuk me-ngisi formulir dan mengirim-nya ke Kedutaan Besar Ing-gris di Jakarta. Pak Theo sen-diri mengingatkan bahwa penerimaan dalam program ini sepenuhnya menjadi kewe-nangan Pemerintah Inggris, tanpa bisa diintervensi siapa pun. Bersyukur, sekitar bebe-rapa pekan setelah saya me-ngirim formulir tersebut, saya mendapat telepon dari Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Inggris di Jakarta yang bernama Matthew Rous.
Intinya dia mengucapkan selamat atas diterimanya saya dalam program Chevening Fellowship Course yang ber-judul ‘Reforming the Security Sector in Countries Emerging from Conflict’. Dijelaskan juga bahwa saya merupakan satu-satunya anggota parlemen yang akan mengikuti course tersebut. Setelah melalui berbagai persiapan rutin, berangkatlah saya ke Brad-ford pada tanggal 11 Januari 2008 melalui London dan Manchester.
Setiba di Bradford pada tanggal 12 malam, dengan menggunakan bus dari Man-chester, saya dan peserta lain dari berbagai negara diantar ke sebuah ‘student hall’ yang dihuni kebanyakan maha-siswa University of Bradford program S2 ke atas. Student hall yang bernama Forster Hall ini memiliki kamar dengan fasilitas yang me-madai, kecuali dapur di mana kami semua harus berbagi. Forster Hall sendiri berjarak sangat dekat dengan kampus; hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Namun masa-lah utama bukan berada pada jarak tempuh, melainkan cuaca di Bradford pada awal tahun. Setiap pagi hujan mengguyur kota ini dan angin yang lumayan kencang serasa menambah dinginnya suhu Bradford yang berkisar 5 derajat Celsius per hari.
Di kampus, kelas untuk course yang saya ikuti, diisi 12 partisipan dari berbagai negara seperti Etiopia, Filipina, Kolombia, Palestina, Nepal, Mozambique, Liberia dan Kamboja. Kebanyakan peserta berlatar belakang militer, polisi atau birokrat di ministry of defence (kemen-terian pertahanan) negara mereka masing-masing. Satu hal yang saya perhatikan keti-ka mengetahui negara-negara asal kawan-kawan sekelas saya adalah bahwa mereka semua berasal dari negara yang memiliki masalah mirip dengan yang kita alami di Indonesia.(bersambung)
|
|