|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Mimbar dan Keagamaan
|
22 Januari 2008
|
Mukjizat untuk Keluarga Cendana
Menanggapi kondisi terakhir mantan Presiden Soeharto yang semakin membaik patut disyukuri oleh kita semua. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulut, KH Fauzi Nurani ini merupakan mukjizat, terlebih bagi Keluar-ga Cendana.
“Doa yang kita ucapkan sela-ma ini ternyata telah dide-ngarkan dan dikabulkan oleh Allah SWT. Kita bisa percaya bahwa Allah itu memang be-nar-benar agung dan kuasa. Separah apapun penyakit yang diderita oleh seseorang, jika memang Allah belum berke-hendak maka, bisa disembuh-kan. Dan ini tidak lain karena campur tangan Allah,” katanya Senin (21/01) kemarin.
Terlebih untuk keluarga be-sar Cendana yang selama ini dengan sabar telah merawat dan menunggu Pak Harto se-lama perawatan di rumah sakit tentunya hal ini membuat pe-rasaan senang sekaligus haru bagi mereka semua. Pasalnya, mereka yang sebelumnya pas-rah, saat ini sudah bisa bang-kit dan lebih segar kembali.
Oleh karena itu, kata Nurani saat kita dalam keadaan su-sah, sedang sakit maupun sehat jangan pernah kita me-lupakan Sang Maha Pencipta tetapi, justru semakin kita dekatkan diri kita kepadaNya, dengan lebih khusuk berdoa serta giat beribadah.
Jika kita selalu mengingat Allah, rizki yang kita dapat akan membawa berkat bagi kita dan keluarga. Namun, jika kita selalu merasa ku-rang, insaalloh rizki akan le-bih jauh dari kita. “Sebaiknya seberapa pun dan apapun yang sudah diberikan Allah kepada kita patut kita syukuri bersama,” ucapnya.(aan)
Hari Raya Galungan
Manusia Diharapkan Cintai Alam Semesta
Sekretaris Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulut, Drs Ida Alit, Senin (21/01), me-ngatakan besok 23 Januari umat Hindu di Indonesia mem-peringati terciptanya alam se-mesta beserta isinya dan keme-nangan dharma atau sering disebut Hari Raya Galungan.
Berkaitan dengan itu Alit me-minta pada manusia khu-susnya umat Hindu sekiranya untuk mencintai alam semesta terlebih lagi terus melestarikan. “Sebagai umat ciptaan Tuhan sekiranya kita harus tahu apa yang kita perbuat untuk alam semesta ini,” tambahnya.
Seperti diketahui Buda Kli-won Dungulan adalah hari memperingati terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma me-lawan adharma Umat Hindu melakukan persembahan ke hadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara/dengan segala manisfestasinya seba-gai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk kese-lamatan selanjutnya. Sedang-kan penjor yang dipasang di muka tiap-tiap perumahan yaitu merupakan aturan kehadapan Bhatara Maha-dewa yang berkedudukan di Gunung Agung.
Parisadha Hindu Dharma Indonesia menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali meng-aturkan maha suksmaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya.
Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.
Ngaturang maha suksma-ning idép, angayubagia ada-lah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.
“Yang terpenting, dalam pe-laksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap ba-tin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menu-rut apa yang umum dilaku-kan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin,” katanya.(lex)
|
|