HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

23 Januari 2008

Catatan eksklusif JJM dari Bradford, Inggris (2)
Indonesia dan Negara Bergolak


SEBUAH kepercayaan yang membanggakan bagi Sulawesi Utara (Sulut), ketika Jeffrey Jo-hanes Massie (JJM) menjadi satu-satunya legislator di tanah air yang dipercayakan Peme-rintah Inggris menimba ilmu di University of Bradford. Dari ne-geri Ratu Elizabeth itu, JJM melaporkan secara eksklusif le-wat koran ini. Berikut catatan lanjutan JJM yang dikenal se-bagai Anggota Komisi I DPR RI dan juga Presdir Komentar Group. 
Etiopia yang mayoritas Kris-ten misalnya, mengalami pro-blem keamanan di daerah per-batasan dengan negara tetang-ganya, Somalia, sebagai akibat dari keberpihakan Etiopia ter-hadap pemerintahan Somalia yang sedang berjuang mela-wan pemberontakan kaum eks-tremis Muslim. Di dalam nege-rinya sendiri, kemiskinan dan kelaparan juga menjadi sema-cam ‘trade mark’ bagi negeri ini. 
Sedangkan Filipina mengha-dapi masalah yang tidak jauh berbeda. Di sejumlah pulau di wilayah selatan negara ini per-golakan terus-menerus terjadi antara tentara pemerintah me-lawan kelompok radikal Abu
Sayyaf. Selain dengan kelom-pok ini, pemerintah Filipina juga disibukkan dengan perang melawan pemberontak MILF (Moro Islamic Liberation Front) di wilayah Mindanao. Kolombia pun memiliki masalah internal security yang cukup pelik, sela-ma hampir 40 tahun, akibat ulah kelompok pemberontak komunis yang bernama FARC (Revolutionary Armed Forces of Colombia) yang belakangan justru mendapat simpati dari Hugo Chavez, Presiden Vene-zuela, yang bertetangga dengan mereka. 
Selain harus berhadapan de-ngan pemberontak, pemerintah Kolombia juga disibukkan dengan persoalan penyelun-dupan narkotika di mana ne-gara ini dikenal sebagai pro-dusen kokain terbesar di du-nia. Sedangkan untuk Pales-tina, saya yakin kita semua sangat tahu akan apa yang sedang terjadi di sana. Semen-jak tahun 1800-an sampai sekarang persoalan wilayah yang diklaim oleh Palestina sebagai ‘milik’ mereka dan yang sekarang menurut mereka sedang diduduki oleh Israel, belum bisa terselesaikan-bah-kan semakin memburuk. 
Aksi terorisme hampir setiap hari terjadi di wilayah Israel, sementara serangan balasan Israel terhadap para anggota sejumlah kelompok militan Palestina seperti Islamic Jihad dan Al Aqsa Martyrs Brigade pun tidak kalah sengitnya. Ditambah lagi konflik internal antara kelompok Hamas versus Fatah yang membuat kedua kelompok ini sekarang harus hidup berpisah, di Jalur Gaza yang terisolasi (bagi Hamas) dan di Tepi Barat (Fatah). Belum jelas apakah perdamaian akan pernah bisa tercapai di sana. 
Di belahan bumi yang lain, Nepal, sebuah negara kecil yang terkenal dengan pegunu-ngan Himalayanya, sudah sepuluh tahun belakangan ini terlibat dalam aksi militer melawan kelompok pemberon-tak komunis Maoist. Pepera-ngan yang belakangan semakin memanas ini mengakibatkan Raja Nepal, yang dianggap tidak mampu mengatasi masalah, berisiko diabdikasi (turun dari tampuk kekuasaannya). Mo-zambique juga mencatat ma-salah keamanan yang tidak lebih baik dibanding negara tetangganya di Afrika. 
Selama hampir 16 tahun pen-duduk Mozambique saling ber-perang selepas negara ini mer-deka dari penjajahan Portugis. Pada sekitar tahun 1992 akhir-nya perang saudara berakhir dan pemilu demokratis per-tama diadakan di sana tidak lama kemudian. Sekarang, kebanyakan warga Mozam-bique tidak lagi berperang de-ngan sesamanya, namun mereka harus berjuang keras melawan keadaan alam yang tidak bersahabat, seperti banjir yang baru-baru ini melanda dengan sangat hebat sehingga menyebabkan sekitar 250,000 warga terimplikasi dan harus mendapat pertolongan segera.
Di sisi lain, dua negara par-tisipan lain, Liberia dan Kam-boja barang kali memiliki cata-tan perang saudara dan otori-tarianisme yang bisa dikatakan terparah. Charles Taylor misal-nya, mantan Presiden Liberia, terkenal dengan aksi pemban-taian yang keji (genocide). Taylor dituding bertanggung jawab atas keterlibatannya se-bagai otak di balik perang antar-etnis pada pertengahan 1990-an dalam memperebutkan ke-kayaan alam Liberia seperti in-tan, karet, kayu dan bijih besi yang mengakibatkan sekitar 200 ribu orang terbunuh. 
Saat ini Taylor sedang disi-dang di Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court) di Belanda. Puluhan tahun sebelum Char-les Taylor melakukan aksinya, masyarakat Kamboja pun me-ngalami kekejaman yang sama dari seorang pemimpin pem-berontak komunis bernama Pol Pot. Akibat kebijakan untuk mentransformasi Kamboja ke ‘kebudayaan pertanian total’ di mana masyarakat perkotaan dipaksa untuk bekerja di la-dang dan tidak boleh mela-kukan hal lain termasuk se-kolah, sebanyak 1.7 juta war-ga meninggal akibat perbuda-kan, malnutrisi dan eksekusi (akibat pembangkangan). 
Sekarang, semenjak rezim Pol Pot tumbang pada 1979, kea-daan di Kamboja masih belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Masyarakat masih banyak yang hidup dalam ke-miskinan akibat dari imbas pe-rang saudara yang berkepan-jangan, persaingan politik in-ternal dan korupsi yang marak. Konflik etnis dan/atau agama, ancaman kelompok ekstremis-me, separatisme, perseteruan dengan negara tetangga dan ke-miskinan serta bencana alam yang menjadi catatan negara-negara partisipan di course yang saya ikuti bukan sesuatu yang asing di telinga saya. 
Menyedihkan memang jika In-donesia dianggap sama dengan negara-negara (bergolak) tersebut. Namun itulah faktanya. Course yang saya ikuti ini tentu bukan menjadi jaminan masalah-ma-salah di atas bisa segera tersele-saikan, tetapi paling tidak mem-berikan wawasan baru tentang bagaimana kita sebagai bangsa harus bersikap, belajar (dari ne-gara yang lebih maju) serta me-miliki political will agar bisa se-gera menuntaskan proses refor-masi, khususnya di sektor ke-amanan, yang secara langsung mau pun tidak langsung ber-hubungan dengan masalah-masalah tersebut di atas.(***/habis) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin