|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Pendidikan dan Budaya |
23 Januari 2008
|
|
Diknas Manado Diharapkan Perhatikan
Anak Usia Sekolah di TPA Sumompo
|
Ternyata program pemerintah dalam rangka wajib belajar 9 tahun belum seluruhnya menyentuh masyarakat kecil, seperti yang dirasakan oleh anak-anak pemulung yang bermukim di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo. Ketika wartawan koran, Selasa (22/01) ini bertandang ke lokasi TPA Sumompo mereka menyampaikan keluh kesah mereka ber-kaitan dengan perhatian pemerintah terhadap pendidikan anak-anak pemulung.
Ketika ditanyakan oleh war-tawan harian ini kepada salah satu orang tua pemulung, Arsinya Awuwus tentang situa-si pendidikan anak-anak pe-mulung di lokasi pembuangan sampah di Sumompo, yang bersangkutan mengatakan anak-anak pemulung ada yang bersekolah adapun yang tidak bersekolah dan putus sekolah, “Anak-anak di sini ada yang tidak bersekolah atau putus sekolah, kebanyakan mereka ini putus sekolah akibat ke-adaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan sehingga dengan keadaan terpaksa orangtua terpaksa member-hentikan sekolah sang anak,” ucapnya dengan nada haru sambil mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah dan instansi terkait agar bisa membantu mereka dalam hal pendidikan.
Hal senada juga disampaikan oleh orang tua pemulung lain-nya yang bernama Lydia Sama-gitu, dia mengaku bahwa ada sekitar dua persen anak-anak di TPA Sumompo yang tidak mengecap manisnya berse-kolah. “Yang saya tahu ada be-berapa anak di Sumompo yang sudah tidak sekolah lagi, seperti Yongki Kalumpi, Gustin Pusiruman, Mei Lohonouman, Defni Nanono,dan Alvian Manoppo. Mereka ini cuma se-bagian dari beberapa anak yang tidak bersekolah atau putus sekolah, hal ini setidak-nya bisa menjadi perhatian dari pemerintah agar bisa lebih peduli terhadap nasib anak pemulung,” harapnya.(tr-04)
|
|